Tas KW Berujung Penjara


Tas palsu atau KW kini jadi buah bibir lagi. Pembeli tas merek ‘abal-abal’ itu bisa dikenai pasal 481 KUHP karena dianggap sengaja membeli barang dari hasil kejahatan. Pasal tersebut juga menjerat bagi yang memiliki tas KW lebih dari dua akan dianggap sebagai kebiasaan memanfaatkan barang ilegal. Ancaman hukum bukan hanya untuk pembeli, produsen tas KW juga terancam hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda hingga Rp. 1 miliar berdasarkan Undang-Undang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). 

Menarik sekali mencermati fenomena tas KW di negeri ini. Tas yang dilabeli merek ternama macam Hermes, Chanel, dan Louis Vitton, nyatanya sangat dengan mudah kita dapatkan karena hampir semua penjual tas di sekitar kita memajangnya sebagai barang dagangan. Coba kita tengok Mangga Dua dan Tanah Abang di Jakarta, tas-tas palsu dari level KW 1, KW 2 hingga KW super premium yang harganya bisa tembus jutaan rupiah, bertebaran di berbagai sudut etalase. 

Baru-baru ini saya sempat mengunjungi sebuah pasar malam yang digelar di lapangan berdebu di Kendari, Sulawesi Tenggara, hmmm… ternyata tas Hermes ala KW juga banyak digelar di tikar oleh para pedagang tas kaki lima. Wah, saya jadi ingat Angelina Sondakh dan Nunun Nurbaeti, sosok sosialita yang dijerat kasus korupsi itu konon hobi membeli tas merek ternama seperti Hermes dengan harga gila-gilaan. 

“Emangnya kalau Angie nenteng tas Hermes yang beli di pasar malam, pada tahu ya kalau itu palsu?” tanya saya ke istri saya. 

 “Ya, jelaslah, bahannya kan beda, ketahuan kan malu…” jawab istri saya. 

Oh, gitu ya? Dasar saya ini lelaki yang matanya tak pernah awas dengan barang bermerek yang ditenteng oleh wanita. Jadi pastinya, para wanita yang suka nenteng tas merek terkenal, bukan demi tujuan supaya dianggap menarik di mata lawan jenis, tapi bagi sesama mereka. Konon gengsi naik kalau tasnya merek ngetop, asli pula. 

Nah, kalau yang asli-asli itu hanya bisa dimiliki oleh mereka yang sumber duitnya bahkan sampai nggak jelas (karena saking banyaknya), lalu kenapa pula masih banyak dijual di kaki lima ya? Ada wanita nenteng tas Chanel di angkot, atau mahasiswi anak kos bawa dompet Louis Vitton ke kampus, apa ada yang percaya kalau itu asli dan harganya selangit ya? Emang nggak malu bawa barang palsu? 

Beda kalau anda anggota DPR, modis, dan wangi pula, nenteng tas Hermes pasti banyak percaya kalau tas anda itu asli. Walaupun apesnya, banyak yang menganggap anda korupsi demi beli tas itu. Namun, kini opini publik tentang ancaman hukuman bagi pemilik tas KW malah bergulir menjadi wacana bahwa lebih enak jadi koruptor karena paling-paling dihukum empat tahun penjara tapi bisa punya tas asli merek top markotop. Sementara orang pas-pasan yang gaya-gayaan dengan tas KW malah diancam sampai tujuh tahun penjara. 

“Yah, tuh pada nenteng tas KW, hihi…” bisik istri saya. 

“Oh iya ya, beda sama istriku ini pakai tas asli 100 persen…” kata saya sambil melirik tas etnik Bali-nya yang mulai kumal. 

“Ya iya lah… haha…” 

Indonesia ini negeri kreatif. Banyak produsen tas berkualitas bagus, seperti di Tajur, Bogor. Bahkan tas tanpa merek milik istri saya yang dibeli di Tajur, terlihat masih bagus dan awet walau sudah lama beli. Jadi kenapa harus malu untuk beli produk dalam negeri tanpa embel-embel merek ngetop tapi KW?

Read more »

Video Seks Anggota DPR, Terlalu...!

Berita menggegerkan kembali datang dari Senayan. Sebuah video seks yang konon mirip dua anggota DPR dari fraksi partai berlambang banteng moncong putih, kini ramai diperbincangkan. Obrolan tentang video tersebut sudah ramai dibahas di forum-forum seperti Kaskus, Kompas Forum dan detik. 

Menurut berita vivanews, bahkan sang pakar tempematika eh telematika, Roy Suryo sulit menyangkal jika wajah si pemeran wanita adalah benar-benar wajah anggota DPR berinisial KMN. Wah, kalau ahli foto asli atau tidak, si Mas Roy yang notabene juga anggota DPR, sudah mengeluarkan pernyataan demikian, maka tampaknya fraksi partai warna merah bakalan dibikin malu semalu-malunya… 

“Ter..la..lu…!” kata Bang Haji. 

Sementara sang aktor pria dikabarkan berinisial AB, yang dikenal vokal dan kerap muncul di layar televisi dengan kata-katanya yang tajam dan kritis. AB juga dikenal sebagai salah satu inisiator hak angket Bank Century. Hmm, siapakah gerangan AB? Nggak tahu ya? Tanya di Pak Google donk… sudah banyak yang menulis tanpa inisial kok, hehe. 

Soal selingkuh menyelingkuhi barangkali bukan urusan saya berkomentar lebih jauh. Sebagai bukan pakar telematika, saya hanya sekedar menyesalkan apabila kabar itu benar. Menyesalkan kenapa masih saja ada anggota DPR yang suka bermain api, dalam arti kenapa nggak belajar dari rekan-rekan pendahulunya yang sudah kepergok bikin video dan foto mesum lalu beredar dan akhirnya menghancurkan nama mereka berkeping-keping. 

Jangankan kayak mantan anggota DPR berinisial YZ yang dulu menjadi bulan-bulanan publik akibat bikin video porno dengan artis dangdut, lha wong yang cuma nonton kayak Pak Arifinto saja bisa terjerembab kok. 

Pokoknya hal-hal yang berhubungan dengan tingkah polah anggota DPR yang terhormat itu selalu jadi sorotan. Kalau berani-beraninya berbuat aneh-aneh, apalagi menyangkut pornografi, yach… tinggal tunggu nasib saja (eh, kalau korupsi itu aneh nggak sih?). By the way, video itu konon mulai beredar di situs skandal.kilikitik.net. Tapi saya pun nggak nemu apa-apa saat menuju ke situs itu. Sudah hilang situsnya, mungkin sudah ditutup. Jadi kalau anda-anda penasaran pengen lihat atau pengen download, wah… sepertinya susah mas bro dan mbak bro. Sekian.


Berita HOT :

MOBIL ASYIK UNTUK BERCINTA

Read more »

Sensasi Nikita Mirzani dan Jenny Cortez

Wah, gosip yang satu ini memang benar-benar hot, penuh sensasi. Artis seksi kontroversial, Nikita Mirzani dikabarkan bertengkar dengan Jenny Cortez, artis yang sama-sama suka berpenampilan “terbuka”. 

Beberapa media online memberitakan, mereka terlibat saling sindir di twitter hingga melontarkan caci-maki. Namun, entah kebetulan atau tidak, kabar ini berhembus di saat rampungnya film terbaru yang mereka bintangi 'Pocong Kuntilanak Roxy'. 

Hmm, jadi inget kasus Dewi Perssik alias Depe versus Julia Perez alias Jupe. Keduanya juga berantem di film horror-hororan ndak jelas. Konon, yang model beginian ini memang sengaja diatur oleh produser film untuk mendongkrak popularitas film. Karena dari sisi cerita dan kualitas bisa dipastikan “ecek-ecek”, maka cara murahan dengan membenturkan dua pemeran utama yang memang sedang laku dijual adalah jalan pintas promosi. 

Nah, kalau anda ndak pengen disebut suka penasaran dengan sensasi murahan macam begini, saya sarankan ndak usah datang ke bioskop dan nonton filmnya. Paling ya begitu-begitu saja…

Nikita Mirzani (foto: tribunnews.com)

Jenny Cortez (foto: tribunnews.com)

Read more »

Desa Tertinggal, Mereka Butuh Uluran Tangan

Setelah menempuh perjalanan lebih dari tiga jam dengan kapal cepat dari Kendari, akhirnya saya tiba di Desa Polara, Kecamatan Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara pada minggu lalu. Kata orang, inilah kecamatan paling sulit diakses dan paling tertinggal dibanding dengan enam kecamatan lainnya di Pulau Wawonii. Pulau seluas kurang lebih 650 kilometer persegi ini terletak di sebelah timur daratan Sulawesi Tenggara dan berbatasan langsung dengan Laut Banda.

Senyum, keramahan dan kesederhanaan penduduk Wawonii terasa menentramkan hati saat saya berinteraksi dengan mereka. Sebuah senyum tulus bagi orang luar yang bekunjung seperti saya. Namun, senyum mereka bisa berubah menjadi senyum getir tatkala bercerita tentang kondisi wilayah Wawonii. Panorama pantai, laut dan kekayaan alamnya, sungguh terasa tersia-siakan dengan infrastruktur yang jauh dari kondisi ideal.

Kecamatan Wawonii Tenggara sendiri terdiri dari sebelas desa, tetapi untuk menghubungkan antar desa, akses laut adalah satu-satunya. Selama dua hari berpetualang di Wawonii Tenggara, saya harus menyewa perahu kayu bermotor atau disebut katinting, untuk mencapai pemukiman desa-desa. Itu juga yang dilakukan penduduk setempat karena memang jalan darat belumlah ada.

“Sebenarnya jalan lingkar Wawonii sudah dirintis, namun karena tidak ada kelanjutannya, sekarang jalan itu kembali tertutup alang-alang dan hutan,” jelas Pak Tajudin, Kepala Desa Polara, yang memberikan saya tempat menginap di rumahnya.

Benar apa kata Pak Tajudin, jalan lingkar itu seolah tak pernah diinjak manusia. Alang-alang, tanaman liar dan bebatuan menjadikan jalan itu hampir tak terlihat.

Di setiap desa, kondisinya nyaris serupa satu sama lain. Jalan lingkungan di perkampungan belum beraspal, rumah-rumah kayu sederhana masih banyak dijumpai, listrik masih mengandalkan tenaga surya yang hanya menyalakan beberapa watt di malam hari, sementara fasilitas sekolah dalam kondisi yang pas-pasan.

Saya yang tumbuh di Pulau Jawa, seolah merasakan bahwa di Wawonii Tenggara waktu tertinggal dua puluh tahunan. Seingat saya dulu saat masih kecil di kampung halaman, warga yang punya televisi bisa dihitung jari, televisi masih hitam putih dan nonton TVRI pun beramai-ramai setiap malam dengan duduk di atas tikar. Ibarat de javu, saya menyaksikan sendiri anak-anak dan warga lainnya bersama-sama numpang nonton televisi di rumah Kepala Desa. Hanya saja tentu televisinya sudah berwarna, pakai parabola dan channelnya sudah ada stasiun televisi swasta yang menayangkan sinetron.

Saya kemudian bertanya dalam hati, sampai kapan kondisi mereka akan terus begini, jauh tertinggal dengan daerah lain. Namun, hingga kini tak kunjung menemukan jawaban pula. Semakin galau rasanya saat membaca berita tentang langkah pemerintah untuk menunda pelaksanaan pembangunan infrastruktur desa di 28.300 desa di Indonesia. Dalam berita yang dilansir oleh VOA Indonesia (9/4/2011) itu, disebutkan bahwa penundaan pembangunan infrastruktur desa merupakan dampak dari penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Sebab pembangunan infrastruktur desa merupakan bagian dari program kompensasi dari kebijakan kenaikan harga BBM yang sebelumnya direncanakan pada 1 April lalu.

Entah apakah sekian ribu desa itu termasuk desa-desa miskin yang saya singgahi di Wawonii, tetapi rasanya sungguh memprihatinkan melihat nasib mereka. Desa-desa itu tak akan berkembang pesat infrastrukturnya, termasuk sektor pendidikan dan ekonomi, apabila tidak ada uluran tangan dari luar.

Bantuan dari pemerintah sungguh selalu diharapkan untuk membangun desa mereka, meski bagi mereka sendiri, rencana kenaikan BBM tempo hari yang tertunda sempat bikin cemas juga. Bagaimana tidak? Merekalah golongan masyarakat yang sebenar-benarnya layak mendapat subsidi BBM, walau pada kenyataannya bensin premium biasa mereka peroleh dengan harga paling murah Rp. 7.000 per-liternya.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Armida Alisyahbana dalam berita VOA Indonesia menyebutkan jika harga BBM jadi naik pada 1 April lalu maka melalui program pembangunan infrastruktur desa, setiap desa akan mendapatkan dana sebesar Rp. 250 juta. Nah, pertanyaannya, apakah dana tersebut sepadan seumpama harga bensin eceran naik menjadi Rp. 9.000 per liter di kios bensin di daerah ini, disertai harga-harga bahan kebutuhan yang ikut naik dan harus ditanggung oleh masyarakat miskin seperti warga Wawonii Tenggara? Belum tentu juga dana ratusan juta itu bisa menjamin bahwa jalan akan terbangun mulus dan jembatan tidak lagi putus.

Saya kira langkah yang paling adil dan bijak adalah tetap memberikan subsidi BBM bagi mereka yang berhak, dan membatasi penggunaannya supaya tidak salah sasaran seperti halnya premium yang masih saja dinikmati mobil-mobil mewah di kota-kota besar. Sementara sudah selayaknya bantuan infrastruktur untuk desa-desa tertinggal, tidak dikaitkan dengan dana untuk subsidi BBM. Semestinya pemerintah lebih cerdik untuk memperoleh sumber anggaran dari pos-pos lain yang akan dialokasikan bagi pembangunan desa-desa tertinggal.

Bagi masyarakat di bawah, nyatanya mereka tidak akan mempedulikan hitung-hitungan APBN yang sudah menjadi tugas pemerintah. Bagi mereka, harga-harga murah, termasuk BBM, serta kehidupan yang berkembang lebih baik adalah hal utama.

--oooo---

“Silakan Mas, dinikmati nasi dan ikannya selagi ada. Coba kalau musim timur tiba, pasti kita hanya kais-kais saja piring ini, haha…” ucap Pak Tajudin sambil tertawa, saat kami makan malam bersama di rumahnya.

Yups, bagi warga yang hidup berdampingan dengan alam laut, musim timur yang datang pada sekitar akhir Mei hingga Agustus adalah masa yang paling berat. Nelayan dan warga tak berani melaut karena kerasnya angin dan ombak.

“Mulai sekarang pun warga sudah banyak yang ke Kendari untuk beli barang-barang kebutuhan, seperti beras dan minyak untuk simpanan, karena selama musim timur, minimal tiga bulan kami tidak bisa ke mana-mana,” tutur Pak Tajudin.

Ah, saya tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan mereka saat musim angin timur datang. Desa mereka akan terisolir oleh alam dan juga ketiadaan infrastruktur jalan yang menghubungkan tempat lain.

by: widikurniawan
@maswidik

Keceriaan anak-anak di Pulau Wawonii

Kondisi rumah-rumah warga Desa Wunse Jaya, Wawonii Tenggara

Jembatan penghubung dalam desa yang memprihatinkan

Kantor Kecamatan Wawonii Tenggara yang pembangunannya terbengkalai

Rencana jalur lingkar Wawonii yang tertutup alang-alang

Atap SD di Wawonii Tenggara yang bolong-bolong


Read more »

Tips Jitu Hentikan Maling Pulsa

Sedot-menyedot pulsa memang tak pandang bulu. Tapi kalau korbannya adalah warga biasa yang tingkat perekonomiannya biasa-biasa saja, tentulah kasihan. Seorang tetangga saya pernah jadi korban penyedotan pulsa dengan modus layanan premium. Lewat ponselnya yang jadul, semula ia tertarik dengan kuis yang menjanjikan hadiah jutaan rupiah.

“Pertanyaannya gampang-gampang Mas, jadi karena bisa jawab ya saya balas terus supaya poinnya banyak,” tutur bapak dua anak itu.

Memang ada-ada saja akal penyedia konten premiun model begini, mungkin karena tahu korbannya nggak pakai telepon pintar alias smartphone, maka dikasih pertanyaan-pertanyaan ‘cemen’ menjurus bodoh semodel ini nih:

“Siapakah penyanyi yang dikenal dengan goyang ngebor? A. Inul B. Krisdayanti.”

Namun, akhirnya tetangga saya sadar juga karena pulsanya cepat sekali habis, bahkan tanpa ia menjawab pertanyaan lagi.

“Setelah isi pulsa trus masuk SMS kuis itu lagi, eh kok pulsa saya berkurang banyak,” curhatnya.

Upaya menghentikan layanan itu ia lakukan dengan mengetik ‘UNREG’ ke nomor yang suka mengirim kuis tersebut. Tapi kenyataannya layanan itu tetap bandel dan kembali menggerogoti pulsa tetangga saya saat ponsel kesayangannya itu terisi pulsanya.

“Pernah saya isi 50 ribu langsung habis dalam sekejap gara-gara dikirimi kuis-kuis itu…” katanya memelas.

Saking jengkel dan putus asa menghadapi ‘tukang palak era digital’ itu, si bapak ini lalu mengirimkan sebuah SMS permintaan berhenti layanan premium dengan kata-kata yang tak pernah terpikirkan orang lain.

“Maaf saya mau berhenti ikutan kuis, jangan dikirim lagi ya, pulsa saya habis terus, saya orang nggak punya jangan diperas,” demikian SMS yang ditulisnya.

Ajaib, setelah SMS itu dikirim, tak ada lagi kuis-kuis konyol yang datang menggerogoti pulsa si bapak.

“Beneran Mas, nggak bohong, saya sempat mau ganti nomor tapi nyoba dulu ngirim SMS kayak gitu, eh ternyata manjur… hahaha…” katanya.

Wah, boleh dicoba tuh trik-nya, tapi kalau nggak berhasil berarti memang si penyedot pulsa itu nggak punya hati nurani, oh teganya….

Read more »

Balada Bule di Warteg Jalan Jaksa

Jalan Jaksa di bilangan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, terkenal sebagai tempat nginepnya turis-turis asing. Di sepanjang jalan itu memang banyak berdiri hotel dan penginapan kecil dengan tarif yang terbilang terjangkau, pun banyak juga cafe dan bar berdiri untuk mengakomodasi kebutuhan para turis.

Namun, bukan berarti warung makan sekelas warung padang atau warteg tidak ada di Jalan Jaksa. Mungkin karena kebanyakan turis yang datang adalah kaum backpackers yang duitnya cekak, terkadang mereka pun tak segan makan di warteg.

Siang itu saat saya masuk ke sebuah warteg kecil di Jalan Jaksa, seorang bule kurus agak tua dan berewokan sedang lahapnya menikmati makanannya. Meja kecil di warteg itu seolah penuh dengan piring-piring yang jadi tempat lauknya. Sekitar 15 menit berlalu, usai lahap menyantap makanan “ndeso” itu, ia pun berkata pada si mbak penjaga warteg.

“Hi girl, dou you have toilets?” tanyanya.

Di luar dugaan, si mbak itu langsung nyamber ngedumel sendiri.

“Waduh, aku dijak ngomong Enggres, rak mudeng aku yo…” (waduh, aku diajak ngomong Inggris gak ngerti aku ya…) katanya sambil berlalu ke arah dapur.

Bule itu masih berusaha nyerocos minta ke belakang, tapi si mbak warteg hanya cengar-cengir, hingga si mbak malah bertanya ke saya.

“Ngomong opo itu mas?”

“Dia mau pipis, ada toilet nggak?”

“Nggak ono mas,” katanya dengan logat Jawa yang medok.

“There’s no toilets here mister,” kata saya ke bule itu, medok juga, plus kagok, lha wong dari dulu nggak pinter-pinter bahasa Inggris.

“So, where you are if you want to pee..?” (lalu kamu di mana kalau mau pipis?) kata si bule sambil berdiri dan mendemonstrasikan adegan pipis, upss… gila juga nih orang. Untung nggak sampai buka celana juga.

“I’m from Canada, and came here for vacation,” (saya dari Kanada dan datang ke sini untuk liburan), katanya mulai curhat.

“Ooooh…” jawab saya sambil angguk-angguk kepala, kehilangan ide untuk ngomong apa, lupa isi kamus.

“She makes me stomach with her spicy and hot chili… urrgh…” (Dia bikin saya sakit perut dengan sambalnya yang pedas), cerocos si bule lagi sambil nunjuk ke piringnya.

“Oh, but she is very hot, right?” (oh, tapi emang dia itu hot kan?) samber saya sambil ketawa, kali ini semangat kalau bilang cewek hot.

“Yes, she is very hot and beautiful,umm… please tell her, if she wanted to be my wife and come with me to Canada,” ujar si bule.

Eh, gawat juga nih, langsung aja ngajakin anak orang kawin dan mau diboyong ke Kanada.

“Iki lho Mbak, kowe meh dipek bojo gelem ra? Meh dijak neng Kanada..” kata saya ke si mbak warteg menyampaikan pesan si bule yang mau menjadikannya istri. Wah, baru kali ini saya jadi penterjemah dadakan Inggris ke Jowo medok, mimpi apa ya semalam?

“Ra gelem aku Mas, wedi, elek koyo ngono…” (nggak mau aku Mas, takut, jelek kayak gitu..) jawab si Mbak.

“She doesn’t want, mister…”

“Why she doesn’t want to be my wife” si bule nanya alasan, ngeyel juga, dan pastinya saya nggak mungkin bilang karena mukanya jelek. Jauh di bawah standar bule, apalagi dibandingin Brad Pitt.

“Because she can not speak English,” jawab saya asal, padahal kan emang iya kalau si mbak nggak bisa ngomong Inggris.

“She can learn, she can go to school later, and I pay all…” (dia bisa belajar, dia bisa sekolah nantinya dan saya yang bayarin). Wuih, dapet beasiswa tapi harus dikawinin dulu. Serius nggak sih bule ini?

“She have a boy friend, mister,” ucap saya ngawur.

“Oke, oke, I know…” katanya setengah ngedumel.

Selanjutnya, orang Kanada itu terlihat siap-siap mau beranjak setelah gagal ngajak kawin pelayan warteg.

“How much I have to pay this?” ia menanyakan harga makanannya.

“Piro mbak? Meh mbayar bulene…” (berapa mbak, bulenya mau bayar), kata saya.

“Kabeh, telung puluh pitu ewu…” (semua tiga puluh tujuh ribu)

“Wuih larang men, termasuk nggonku yo? Ben dibayari pisan?” (wuih, mahal bener, termasuk punya saya ya? biar dibayari dia sekalian?)

“Halah…”

“Thirty seven thousand mister…” kata saya.

Bule itu kemudian mengeluarkan lembaran ratusan ribu, lima puluhan ribu dan banyak receh dari sakunya. Tebal juga isi kantongnya, sayang gak kuat beli dompet…

“Akehe duite rek,” (banyak uangnya) kata si mbak.

“Here you go,” kata si bule sambil mengulurkan uang untuk membayar.

“Lho, kebanyakan ini, ambil lagi nih…” si mbak mengembalikan selembar uang dua ribu rupiah pada bule itu.

“Oh, no no, this is for you… tips for you…”

“Halah, tips kok mung rong ewu…” mbak warteg ngedumel lagi, dikasih lebihan dua ribu perak bilangnya tips, wahaha…

“Next time, in this restaurant, you must provide a knife to cutting meat, like this…” (lain kali, di restoran ini kamu harus sediakan pisau untuk memotong daging, seperti gini…) kata bule itu sambil memeragakan memotong daging dengan pisau di atas piring, oh dia pikir ini restoran steak kali.

“It’s Indonesian style, mister…” cetus saya.

“Yeah I know, but this is tourist area, you must have knife and toilets… “ jawabnya ngeyel. Boleh juga sih kritikannya, berhubung warteg itu di kawasan turis, ya mesti menyediakan maunya turis, termasuk pisau untuk makan dan toilet. Harapan yang susah dikabulkan oleh pemilik warteg itu. Lha wong ukuran warung itu cuma sekitar 2,5 kali 6 meter kok.

“Aku yen pipis yo balik neng kos,” (aku kalau pipis ya balik ke kos) ujar si mbak warteg.

“Oke, see you my girl, my beautiful… muahh… thank you…” dan si bule akhirnya pamitan dengan gaya lebay.

“Emangnya di sini jarang ada bule makan mbak? Kok, nggak berani ngomong Inggris?” tanya saya.

“Ya, sering sih Mas, cuma nggak ada yang edan kayak tadi… lihat aja makannya buanyak banget, dua piring nasi plus ayam dua potong, ikan, cumi… nah…”

Itulah sekelumit cerita dari warteg di Jalan Jaksa. Nama jalan di Indonesia yang mungkin paling terkenal hingga seantero dunia. Namun, apakah cerita tentang warung di jalan itu yang tidak punya pisau dan toilet, serta pelayan yang nggak bisa bahasa Inggris juga akan tersebar ke ujung dunia sana? Ah, ini kan gaya Indonesia, toh nggak pakai pisau pun seorang bule bisa makan habis banyak.

Read more »

Tentang Cinta (Nguping di KRL)

Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek memang penuh cerita. Tak hanya tentang KRL itu sendiri yang hingga kini selalu dinanti tapi kadang dicaci, di dalam KRL pun tak jarang ada cerita-cerita unik.

Beberapa waktu lalu, dalam perjalanan Jakarta-Depok, KRL Commuter Line yang saya tumpangi begitu penuh sesak oleh penumpang. Suasana yang biasa terjadi. Hawa dingin AC tak lagi terasa meski sudah dibantu oleh kipas angin.

Mata saya menatap pemandangan ke luar jendela. Namun, telinga saya masih awas untuk mendengar berbagai percakapan di sekeliling saya berdiri. Sebuah percakapan singkat dari dua orang penumpang cowok di belakang saya, sempat menggelitik saya.

“Eh, lu tahu kan Tiwi?” tanya cowok pertama yang lebih tinggi tubuhnya.

“Yang mana?” jawab cowok kedua yang pakai kacamata.

“Itu yang tadi ketemu pas ngumpul di Semanggi, yang pakai baju kuning…”

“Oh itu…” jawab cowok kacamata, datar.

“Menurut lu, dia itu orangnya gimana sih?” tanya cowok pertama.

Sampai di sini, konsentrasi mendengar saya terpaksa harus dilipatgandakan. Wah, obrolan ala ABG alay nih kayaknya… Untuk itu, saya pun mesti pura-pura tidak memperhatikan mereka. Meski sempat nahan ketawa mendengar nada bicara mereka yang serius.

“Emm,, menurut gue sih orangnya pendiem…”

“Pendiem? Trus gimana lagi menurut lu?”

“Orangnya nggak banyak omong…”

“Yee… itu mah sama aja pendiem….”

Saya melirik ke penumpang lain di sekitar saya. Ternyata ada juga yang menahan tawa sambil menundukkan kepala. Haduuh…

“Trus menurut lu gimana lagi?”

“Emm,, kayaknya sih orangnya nurut…”

“Nurut gimana?”

“Kalau ada orang bilang iya maka dia iya, kalau enggak ya enggak…”

“Ah, masak sih?”

“Ye, lagian gue nggak kenal sih, tadi gue kan telat datengnya…”

“Oh iya ya….”

Walah, dua orang cowok ABG ngobrolin tentang cewek di KRL. Saya jadi mencoba mengingat-ingat beberapa tahun lalu, di usia yang sama dengan mereka, apakah pernah ya ngobrol dengan model kayak gitu? Emm, kayaknya pernah juga deh. Aih, malunya…

Read more »

Twitter Mengurangi Kualitas Menonton TV?

Tren penggunaan gadget semodel BB atau smartphone ber-OS Android, disinyalir meningkatkan jumlah pengguna Twitter. Gadget memudahkan untuk kapanpun dan di manapun, pengguna bisa update informasi dan bertukar ‘kicauan’ lewat Twitter.

Namun, saya kok merasa jika penggunaan Twitter malah membuat kualitas menonton acara televisi menjadi berkurang. Kok bisa? Yups, hal ini akibat dari fitur Twitter berupa Trending Topics (TT) atau topik paling hangat yang tengah dikicaukan oleh banyak orang secara bersamaan dalam kurun waktu tertentu.

Tempo hari saya memantau, TT yang sempat mencuat hingga cakupan worldwide (dunia), salah satunya adalah ‘Shaolin Soccer’. Saya semula berpikir bahwa ada peluncuran sekuel baru film kocak yang dibintangi Stephen Chow itu. Namun, perkiraan saya salah, ketika saya menyetel televisi, ternyata di Global TV tengah tayang film Shaolin Soccer, film yang sudah lama ngetop beberapa tahun lalu. Hmm, ini salah satu TT made in Indonesia, tetapi ngomongin sesuatu yang non-Indonesia.

Hal inilah yang membuat saya curiga, jangan-jangan penonton Shaolin Soccer di depan pesawat televisi malah tidak terlalu serius nontonnya karena lebih asyik Twitteran. Badan sih boleh nongkrong di depan tivi, tapi jempol asyik pencet-pencet BB atau smartphone lainnya. Sedangkan mata dan otak, sepertinya terbelah konsentrasinya.

Menjadikan acara tivi sebagai TT, ternyata sudah berulang kali. Pernah ‘Kungfu Panda’ ngetop lagi gara-gara dikicaukan oleh para penonton tivi. Juga acara-acara siaran langsung seperti pembukaan SEA Games 2011 tempo hari, serta tiap laga sepakbola yang melibatkan Timnas Indonesia. Nah, kalau sudah begini apakah mereka yang eksis di Twitter itu sejatinya benar-benar memahami apa yang mereka tonton?

Coba bayangkan saat gol terjadi pada siaran langsung sepakbola. Bisa dipastikan, ribuan tweet akan muncul membicarakan gol itu, entah siapa pencetaknya atau bagaimana perasaan mereka saat itu. Kalau seorang penonton tivi nyambi mainan gadget, pastinya ia akan kehilangan momen seperti tayang ulang atau memahami bagaimana proses terjadinya gol tersebut. Lebih ‘parah’ lagi kalau si gadget mania ini doyan banget eksis, selain berkicau di Twitter, ia akan mengupdate statusnya juga di Facebook dan BBM. Oh, dunia…

Read more »

Ayo Main di Blog Kotangg

Halo kawans, lama ndak bersua di sini yak? Wkwkwk... ngeblog emang mengasyikkan, tapi kalo lagi mampet ndak ada ide ya ndak enak lah. Cukup lama juga saya ngeblog di belummandi.com, meski nyatanya dua tahun belakangan tersedot ke Kompasiana, toh blog ini masih bernafas.

Nah, sekarang malah saya buka "cabang" baru. Mulai ngeblog juga di www.kotangg.blogspot.com. Apa itu kotangg? Saru ndak ya? Oh, dijamin endak saru, tapi agak saru... hehe...

Di blog kotangg, saya lebih khusus cerita tentang kejadian sehari-hari di keluarga saya (cieehh... kelihatan tua banget...). Tapi yang pasti kotangg alias komedi rumah tangga maunya bikin sampeyan-sampeyan ini bisa tersenyum. Senyum ngejek sama saya yang nasibnya aneh-aneh gini ya ndak papa, yang penting senyum aja lah.

Saya juga siapkan akun twitter di @kotangg, meski belum rajin update, tapi maunya sih ntar bisa eksis dan narsis mewarnai dunia maya... (wuekkk...).

Oke, deh, walau blog kotangg sudah lahir, tapi belummandi.com diharapkan tetap mengudara (emang bururng?) dengan gagah. Maturnuwun.

Read more »

Tata Krama dan Tata Bahasa Dalam Bisnis Online


Pesan keripik lewat SMS? Kenapa tidak? Dengan merebaknya pemakaian media sosial untuk bisnis online, bahkan cemilan tradisional seperti keripik pun bisa naik gengsinya saat dipopulerkan via Twitter.

Namun, bukan berarti pelaku bisnis online bisa seenak udelnya sendiri dalam berinteraksi dengan konsumen. Meski tidak ada tatap muka dalam transaksi produk yang dipasarkan secara online, tetapi kepercayaan dan kepuasan konsumen harus tetap diperhatikan. Jargon “pembeli adalah raja” tetap berlaku dalam bisnis online.

Biasanya kesepakatan jual beli dilakukan via SMS, BBM atau chatting apabila si penjual belum memiliki website khusus untuk etalase produknya. Nah, interaksi melalui teks inilah yang butuh kehati-hatian, khususnya bagi si penjual. Karena wajah, sikap dan reaksi penjual diwakili oleh kata-kata yang dituliskannya.

Mungkin pengalaman isteri saya yang hendak memesan produk keripik terkenal yang dipromosikan lewat Twitter, bisa menjadi pelajaran berharga bagi pelaku bisnis online. Suatu ketika, isteri saya mengirim SMS menanyakan apakah keripik tersebut bisa dipesan-antar.

“Selamat siang mba, keripiknya bisa delivery ngga? Lokasi depok 1. Thanks,” tulis isteri saya.

Beberapa saat kemudian SMS jawaban datang dari si penjual, tetapi cukup singkat.

“Bisa tapi min 5 ya,” tulisnya, diikuti emoticon senyum biasa.

“1 pcs berapa, mba? Ada biaya antar?” tanya isteri saya kembali.

Di sini terlihat, si penjual kurang respons terhadap pelanggan. Harusnya di SMS jawaban pertamanya, si penjual sudah menjelaskan langsung berapa harga per bungkusnya, sekaligus biaya antarnya. Selain hemat SMS, juga menunjukkan kepedulian terhadap calon konsumen. Eh, penjual yang ini malah menjawab lagi dengan sebuah SMS yang membuat isteri saya sebagai calon konsumen malah jengkel dan tidak jadi memesan.

“1nya 15 rb ongkirnya 5 rb 5 itu!!” tulis si penjual.

Membaca SMS jawaban itu, isteri saya merasa tidak dihargai sebagai calon konsumen, karena kalimat yang ditulis tersebut diakhiri dengan dua tanda seru. Bagi isteri saya, tanda seru dalam percakapan lewat teks berarti ungkapan membentak, marah atau bahasa gaulnya: jutek.

Setelah ditelusuri, agen produk keripik yang ngetop lewat Twitter itu memang terlihat masih ABG. Jadi sebenarnya bisa dimaklumi jika si penjual itu kurang memiliki pemahaman berinteraksi dengan segala macam orang dengan bahasa yang baik. Bisa jadi si penjual memang tidak bermaksud jutek, tapi dia tidak menyadari bahwa calon konsumen yang dijaringnya lewat dunia maya itu sangat beragam. Ketika berlaku sebagai penjual dalam bisnis online, tidak bisa si penjual berkomunikasi seolah dengan teman seusianya sendiri. Dunia maya juga mengenal tata krama dalam berinteraksi.

Kebetulan juga, saya dan isteri termasuk pelaku bisnis online walau kecil-kecilan. Setiap ada calon konsumen yang bertanya lewat SMS, kami berusaha menjawabnya secepat mungkin dan sesopan mungkin. Meskipun misalnya, si calon konsumen itu bertanya dengan gaya gaul sok akrab, karena kami memasarkannya lewat forum-forum yang bisa dikategorikan gaul juga. Tapi kami tetap berhati-hati dalam menuliskan kalimat jawaban via SMS. Pernah suatu ketika ada seseorang mengirim SMS ke saya tentang produk kaos yang saya tawarkan lewat sebuah forum.

“Gan, kaosnya gak bisa kurang nih? Ane baca di forum ****”

Melihat gaya tulisannya, pasti orang itu bukanlah kakek-kakek, dan sepertinya sering sekali lalu lalang di forum-forum dunia maya, yang jelas saya menyimpulkan dia ini anak muda. Ya iyalah, kan tanya-tanya kaos oblong gitu loh…

“Maaf gan, harganya sudah pas, @Rp. 50 rb, belum termasuk ongkos kirim. Kalau tertarik, silakan kirimkan alamat, untuk hitung ongkir, trims,” jawab saya.

Saya rasa, jawaban saya di atas sudah cukup sopan, informatif dan tidak membuat si calon konsumen yang mencoba menawar menjadi jengkel. Mungkin beda kalau saya menjawab dengan gaya bahasa seperti berikut:

“Sori gan, kagak bisa ditawar!!”

Atau :

“Wah, udah murah tuh! Kalau mau lebih murah bikin aja sendiri!”

Tidak perlu tata bahasa serapi buku panduan EYD untuk menulis sebuah pesan singkat. Bahasa sehari-hari pun bisa dipakai untuk menghindari kekakuan. Namun, perlu juga kiranya dipelajari tentang apa fungsi tanda baca seperti tanda seru (!) dan tanda tanya (?). Salah menempatkan, bisa menimbulkan salah tafsir.

repost from kompasiana by widikurniawan

Read more »

Tipe-tipe Tukang Parkir di Indonesia

Tukang parkir terkadang menjadi sosok yang sangat kita butuhkan dan sebaliknya, bisa menjadi “musuh” yang harus kita hindari. Itulah, meski labelnya sama yakni “Tukang Parkir”, nyatanya profesi ini memiliki berbagai macam tipe atau kalau dalam bahasa dunia persilatan adalah “aliran”. Bak cerita silat, tukang parkir ada yang protagonis, ada pula yang antagonis.

Nah, setelah bertahun-tahun (lebay?) bergelut di jalanan dan mengamati dunia perparkiran, berikut ini saya rangkum berbagai tipe tukang parkir yang beredar di sudut-sudut kota di Indonesia.

1. Tipe Profesional

Tukang parkir jenis ini pastinya resmi baik yang swasta maupun negeri (kayak sekolahan aja…). Tukang parkir swasta resmi biasanya bernaung di sebuah perusahaan pengelola parkir dan bertugas di gedung-gedung perkantoran mewah, pusat perbelanjaan dan mal. Mereka punya seragam dan tanda pengenal khusus serta bekerja dengan sistem perparkiran yang tertata rapi karena dibantu tekonologi. Sedangkan tukang parkir negeri yang professional biasanya ditandai dengan pemakaian seragam bertugas di areal milik pemerintah. Kalaupun ada penarikan retribusi, mereka ini jujur menarik sesuai tarif di karcis.

2. Tipe Flamboyan

Kalau yang ini meski resmi, terkadang suka mencuri-curi kesempatan untuk mendapatkan keuntungan. Kalau nggak ketahuan, dia berani menilep uang hasil parkir. Lumayanlah kalau ada beberapa lembar karcis yang tak perlu diberikan ke konsumen. Tipe flamboyan juga lebih suka konsumen wanita. Ia akan lebih bersemangat membantu motor atau mobil keluar, jika pengendaranya terlihat cantik dan menarik. Kalau cowok kekar kesulitan ngeluarin motor mah si tukang parkir bakal pura-pura merem.

3. Tipe Preman

Ini paling ditakuti, bukan hanya oleh pengguna jasa parkir, bahkan oleh pemilik lahan parkir sekalipun. Tukang parkir bertipe preman bisa mengklaim sebuah lahan yang berpotensi menghasilkan uang seperti halaman minimarket, meskipun sebenarnya si pemilik toko maunya menggratiskan parkir. Pakaiannya biasanya ala rocker yang jarang mandi, ada yang bertatto dan suka pakai asesoris macam anting atau kalung. Tipe preman masih dibagi lagi menjadi preman teroganisir yang memiliki basis kelompok besar yang menjadikan lahan parkir sebagai “jatah preman”, serta tipe preman kampung yang hanya digdaya di kampungnya sendiri dan hanya punya lahan yang sepi, misalnya di warnet kecil ujung gang yang mulai nggak laku.

4. Tipe Musiman

Beti alias beda tipis dengan tipe preman, kalau yang ini biasanya hanya muncul saat ada keramaian seperti panggung dangdut, sepakbola tarkam atau pasar malam. Kalau perlu halaman rumah orang pun disulap jadi lahan parkir. Ongkosnya? Jangan heran kalau bisa sampai tiga kali lipat dari tarif karcis biasa.

5. Tipe Pemalas

Banyak beredar di halaman-halaman toko biasa. Kerjanya cuma duduk-duduk di dekat motor atau mobil yang parkir. Kalau ada yang kerepotan mengeluarkan motor, ia pura-pura nggak lihat. Nah, si tipe pemalas baru bangkit sambil pegang-pegang karcis buluk dan mendekati si pengguna parkir yang sudah duduk manis di jok motor atau mobil. Setelah terima uang tanpa memberikan karcis, dia bakal ngacir entah ke mana.

6. Tipe Berisik

Baginya sempritan alias peluit adalah senjata utama. Saking menghayati tugasnya sebagai tukang parkir, ia bahkan setiap saat nyemprit panjang, praatt… priitttt…. sementara tanganya sibuk mengatur kendaraan yang keluar masuk lahan parkirnya dan akan selalu sigap menyamber lembaran rupiah yang disodorkan padanya.

Read more »

Alphard Minum Premium, Malu Ah...

foto by @imanlagi (twitter.com)

Harga BBM nggak jadi naik, lega deh. Mungkin yang ikutan lega termasuk pemilik mobil mewah yang masih saja kecanduan premium, yang jelas-jelas bersubsidi. Sebuah foto yang diposting di twitter oleh pemilik akun @imanlagi setidaknya membuktikan kenyataan bahwa mobil mewah nan mahal masih saja butuh subsidi yang seharusnya ditujukan bagi golongan masyarakat bawah.

Foto yang diunggah 1 April kemarin, menunjukkan sebuah mobil Toyota Alphard warna putih kinclong sedang diisi premium di sebuah SPBU.

“Ooo jadi temen2 mahasiswa demo ampe bentrok kemarin itu buat ini toh. Ya ya ya,” tulis pemilik akun @imanlagi.

Keruan saja banyak pengguna twitter yang memperbincangkannya, baik pro maupun kontra. Belakangan, media-media online ikutan memberitakan tentang aksi memalukan sang Alphard itu.

Ah, saya sih tidak akan terlalu usil untuk memberikan semacam usul bagaimana supaya pemerintah bikin aturan tegas tentang golongan mana saja yang berhak menikmati lezatnya premium. Wacana tentang pembatasan jenis kendaraan, tahun pembuatan dan lain-lain, tentu sudah banyak dilontarkan oleh para ahli. Spanduk dan iklan televisi juga sudah mengimbau orang kaya untuk tidak minum premium, meski pada akhirnya ya nggak ngefek kayak kelakuan Alphard tersebut, lha wong sekedar imbauan saja kok.

Mencermati hebohnya foto Alphard minum premium, justru membuat saya sedikit lega karena setidaknya masih ada jalan, yakni melalui kedahsyatan media sosial, untuk mempermalukan kalangan kaya yang meminum jatah rakyat tidak mampu. Andai tindakan @imanlagi diikuti oleh yang lain, paling tidak bisa menimbulkan efek “tahu malu” bagi para pemilik mobil mewah. Pun bagi pemerintah, seharusnya malu juga jika tak mampu tegas membuat batasan yang jelas tentang BBM bersubsidi.

by widikurniawan

Read more »

Dukun Masih Eksis dan Dicari Lho...

Belum lama ini, di suatu pagi saya dikejutkan oleh seseorang yang mengetuk pintu rumah saya.

“Maaf Pak, di sini ada dukun perempuan kah?” tanya seorang pria tanpa basa-basi setelah saya membuka pintu.

“Apa?” saya mangap sejenak untuk meyakinkan pertanyaannya.

“Dukun perempuan, katanya ada di sekitar sini.”

“Nggak ada dukun di sekitar sini, ini deretan rumah kos semua,” jawab saya cepat, supaya dia segera pergi, karena pikiran saya agak curiga juga dengan kedatangannya.

“Oh ya, maaf, saya tidak mengerti daerah sini karena saya datang dari kampung,” katanya sambil berlalu.

Saya masih sedikit shock dengan orang yang mencari dukun itu, entah apa yang dia maksud dengan dukun perempuan. Dukun berkelamin perempuan kah? Atau dukun khusus untuk mengguna-guna perempuan? Atau dukun beranak yang biasanya memang perempuan? Ah, saat itu saya tidak tertarik untuk bertanya lebih lanjut.

Saya kembali teringat dengan pengalaman seorang rekan saya yang tengah hamil muda. Karena cincin kawinnya hilang di rumah, maka ia pun berusaha menggunakan jasa dukun untuk mencarinya. Ia pun mengajak seorang rekan sekantornya yang laki-laki untuk pergi mencari alamat dukun yang ditunjukkan oleh kawan lainnya. Sesampainya di dekat jalan yang dimaksud, mereka pun bertanya pada tukang ojek yang mangkal di sekitar situ.

“Pak, tahu rumahnya dukun di sekitar sini?” tanya rekan saya yang tengah hamil.

“Oh… dukun itu ya, tuh masih naik lagi ke arah sana… makanya Mbak, kalau berbuat tuh dipikir lagi…” kata tukang ojek .

“Eh, bukan dukun buat menggugurkan anak Pak, dukun yang bisa cari barang-barang hilang…”

“Oh, saya kira… kalau yang itu sih di ujung jalan itu rumah warna putih…”

Wah, beragam juga spesialisasi dukun yak? Tapi apakah hanya orang-orang biasa (menengah ke bawah) saja yang lari ke dukun jika ada masalah? Satu cerita ini mungkin bisa jadi bahan renungan.

Saya tak perlu menyebut nama, tapi berdasarkan penuturan orang yang bisa dipercaya dan tidak memiliki tendensi apapun karena memang kabar ini tidak berhembus di luar, konon seorang pejabat di sebuah instansi penting di negeri ini menggunakan semacam jasa dukun untuk membantunya meraih jabatan setingkat eselon satu saat ini. Wallahualam, entah benar atau tidak, kalaupun benar berarti memang profesi dukun, walaupun seolah tidak kelihatan di tengah masyarakat, ternyata memang benar-benar masih eksis dan laris dicari orang.

repost from kompasiana by widikurniawan

Read more »