Belum lama ini, di suatu pagi saya dikejutkan oleh seseorang yang mengetuk pintu rumah saya.
“Maaf Pak, di sini ada dukun perempuan kah?” tanya seorang pria tanpa basa-basi setelah saya membuka pintu.
“Apa?” saya mangap sejenak untuk meyakinkan pertanyaannya.
“Dukun perempuan, katanya ada di sekitar sini.”
“Nggak ada dukun di sekitar sini, ini deretan rumah kos semua,” jawab saya cepat, supaya dia segera pergi, karena pikiran saya agak curiga juga dengan kedatangannya.
“Oh ya, maaf, saya tidak mengerti daerah sini karena saya datang dari kampung,” katanya sambil berlalu.
Saya masih sedikit shock dengan orang yang mencari dukun itu, entah apa yang dia maksud dengan dukun perempuan. Dukun berkelamin perempuan kah? Atau dukun khusus untuk mengguna-guna perempuan? Atau dukun beranak yang biasanya memang perempuan? Ah, saat itu saya tidak tertarik untuk bertanya lebih lanjut.
Saya kembali teringat dengan pengalaman seorang rekan saya yang tengah hamil muda. Karena cincin kawinnya hilang di rumah, maka ia pun berusaha menggunakan jasa dukun untuk mencarinya. Ia pun mengajak seorang rekan sekantornya yang laki-laki untuk pergi mencari alamat dukun yang ditunjukkan oleh kawan lainnya. Sesampainya di dekat jalan yang dimaksud, mereka pun bertanya pada tukang ojek yang mangkal di sekitar situ.
“Pak, tahu rumahnya dukun di sekitar sini?” tanya rekan saya yang tengah hamil.
“Oh… dukun itu ya, tuh masih naik lagi ke arah sana… makanya Mbak, kalau berbuat tuh dipikir lagi…” kata tukang ojek .
“Eh, bukan dukun buat menggugurkan anak Pak, dukun yang bisa cari barang-barang hilang…”
“Oh, saya kira… kalau yang itu sih di ujung jalan itu rumah warna putih…”
Wah, beragam juga spesialisasi dukun yak? Tapi apakah hanya orang-orang biasa (menengah ke bawah) saja yang lari ke dukun jika ada masalah? Satu cerita ini mungkin bisa jadi bahan renungan.
Saya tak perlu menyebut nama, tapi berdasarkan penuturan orang yang bisa dipercaya dan tidak memiliki tendensi apapun karena memang kabar ini tidak berhembus di luar, konon seorang pejabat di sebuah instansi penting di negeri ini menggunakan semacam jasa dukun untuk membantunya meraih jabatan setingkat eselon satu saat ini. Wallahualam, entah benar atau tidak, kalaupun benar berarti memang profesi dukun, walaupun seolah tidak kelihatan di tengah masyarakat, ternyata memang benar-benar masih eksis dan laris dicari orang.
repost from kompasiana by widikurniawan


mungkin masih menjadi kebudayaan gan..
begitulah gan kenyataannya...