“Sedia Pohon Sebelum Banjir”. Kalimat ini terpampang di sebuah baliho besar yang dipasang di salah satu sudut Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Dua orang pejabat tinggi daerah, terlihat sedang menanam pohon sebagai bagian dari kampanye “Penanaman Satu Milyar Pohon”.
Nah, adakah yang salah dengan baliho tersebut? Salah sih sebenarnya tidak. Saya yakin jika pihak Dinas Kehutanan setempat, yang membuat baliho tersebut, memang bermaksud baik dengan kampanye yang positif. Hanya saja, menurut saya, ada yang kurang pas dengan kalimat “Sedia Pohon Sebelum Banjir”. Saya paham jika si pembuat kalimat bermaksud mengirimkan pesan pada masyarakat bahwa menanam pohon sangatlah penting supaya tidak terjadi banjir.
Namun, kalimat “Sedia Pohon Sebelum Banjiir”, yang saya yakin terinspirasi dari pepatah “Sedia Payung Sebelum Hujan”, terasa kurang tepat. Kalimat tersebut malah bermakna bahwa pohon perlu ditanam sebelum banjir terjadi. Lho, emang buat apa ya pohonnya, kalau banjir tetap terjadi? Apa korban banjir disuruh manjat pohon saat banjir datang?
Coba kita telaah pepatah “Sedia Payung Sebelum Hujan”. Kan, hujan tidak bisa dicegah gara-gara penduduk bumi pada beli payung. Hujan pasti akan datang dan payung digunakan sebagai alat melindungi diri saat hujan mengguyur.
Maka kalimat kampanye paling masuk akal kalau memang banjir akan datang adalah “Sedia Perahu Karet Sebelum Banjir”, atau “Sedia Pelampung Sebelum Banjir”. Miris, tetapi kan masuk akal dalam konteks logika kalimat.
Nah, jika memang si pembuat kalimat memang secara tulus tidak menginginkan datangnya banjir dengan cara menggalakkan penanaman pohon, maka kalimat kampanye sebaiknya diubah. Bisa menjadi, “Tanamlah Pohon Untuk Mencegah Banjir”, atau “Sedia Pohon, Cegah Banjir”. Memang alternatif yang saya sodorkan mungkin tidak menarik bila dipajang di baliho, tapi jelas lebih masuk akal dibanding “Sedia Pohon Sebelum Banjir”. Atau ada yang punya pendapat lain?
Read more »