Dilarang Makan dan Minum di Transjakarta Busway

“Naik apa kamu?”

“Busway…”

Sadar ndak? Kayaknya hampir delapan puluh persen orang negeri ini telanjur ikutan salah kaprah menyebut “bis transjakarta” dengan sebutan “busway”. Padahal menurut arti sebenarnya, jelas-jelas “busway” bermakna “jalan bis”. Sedangkan jenis angkutan yang dinaiki banyak orang di atas “jalan bis” itu namanya sudah disediakan: “transjakarta bus” alias dalam Bahasa Indonesia: “bis transjakarta”. Nah, demi kebenaran yang harus ditegakkan, marilah kita bersama-sama menyimak cerita berikut dengan sebutan yang bener, “bis transjakarta” bukan “busway”.

Bagi pendatang seperti saya, bis transjakarta amatlah berjasa. Udah jalurnya jelas, karena petanya gampang didapat, nyaman pula digunakan. Meski harus berdiri berdesakan, tetep saja di dalam transjakarta terasa adem tentrem. Begitu pula dari sisi keamanan lebih terjamin. Ndak ada tuh kenek yang serem (kalo agak serem mungkin ada). Pengamen pun jelas ndak mungkin naik bis ini (untuk ngamen tentunya).

Waktu itu saya mau pergi entah ke mana (lupa sih). Kalo ndak salah saya naik dari halte Dukuh Atas ke arah Pulo Gadung. Siang itu begitu terik. Nah, begitu naik ke dalam bis, rasa sejuk AC mulai terasa, apalagi penumpang tidak terlalu penuh, jadi saya bisa langsung duduk. Cukup sejuk di badan saja belumlah cukup bagi saya, tenggorokan ini pun minta dibasahi air.

“Glek.. glek… glek…” saya menenggak air (isi ulang tentunya) dari botol aqua yang saya bawa di tas ransel. Gara-gara nafas belum keatur karena baru berebutan masuk bis, ada sedikit air tumpah dari mulut. Buru-buru saya usap pake tangan.

Tapi bukan air tumpah dikit itu yang paling katrok. Sang kenek transjakarta atau istilahnya pramubus tiba-tiba menghampiri saya dengan langkah heboh. Saya berharap ia akan mengulurkan sebuah tissue untuk mengusap mulut saya yang basah. Oh betapa hebatnya pelayanan transjakarta ini. Namun, harapan tinggallah harapan. Dengan agak over acting, si mas pramu busway menegur saya.

“Maaf Mas, anda tidak boleh minum di dalam bis ini. Ada aturannya. Kalau mau minum di halte saja,” kata si mas itu sambil nunjukkin ke arah stiker bertuliskan ‘dilarang makan dan minum’ yang sebelumnya telah puluhan kali saya baca di bis jenis ini. Dan kemudian seolah dunia menjadi gelap dan terdengar pertengkaran di dalam diri ini ketika ‘otak’ menyalahkan ‘hasrat’.

‘Otak’ : “Dasar bikin malu saja, sudah tahu dari dulu kalo makan minum di bis kayak gini dilarang, eh malah nekat…”

‘Hasrat’: “Hei otak kebanyakan mikir ngeres! Itu kan salah kamu ngapain pake lupa segala?!”

Akhirnya, gara-gara otak lemot dan hasrat yang gegabah, mulut yang kena getahnya.

“Maaf mas…” gitu aja. Dua kata lebih dari cukup. Tangan pun berusaha menyembunyikan botol aqua ke dalam tas ransel.

Menit demi menit berlalu. Mata para penumpang masih saja terus mencuri pandang ke arah saya. Saya berharap mereka akan mengatakan hal yang sama di dalam hatinya: “Ganteng-ganteng kok norak…” Saya akan terima kalimat itu karena meski mengatakan norak tapi kenyataannya mereka juga mengakui kalo saya ganteng.

Dinginnya AC tak lagi saya rasakan. Seolah aura metromini yang sesak dan panas pindah ke bis transjakarta itu. Dan sebelum aura itu berubah lagi lebih parah jadi aura mobil box pengangkut ayam, maka langkah darurat pun segera saya lakukan. Turun di halte berikutnya! Meski perjalanan sebenarnya masih jauh.

Semenjak kejadian itu, saya selalu waspada mengekang hasrat minum di bis transjakarta. Dan sejauh ini selalu berhasil. Bahkan saya pernah sukses mencegah tindakan serupa (minum aqua) yang akan dilakukan oleh seorang oknum teman sekantor.

Sebut saja namanya Dewi (memang nama sebenarnya). Kami dan beberapa teman lain saat itu naik bis transjakarta koridor I (Blok M-Kota). Begitu duduk, si Dewi dengan tampang innocent tampak mengambil botol aqua dari dalam tasnya, dan…

“Eit, Wii… mau ngapain?? Ndak boleh minum di sini. Tuh baca,” saya menunjuk ke arah kaca. Tapi, lho kok kacanya bersih? Ndak ada stiker apa pun. Wah, ndak bener ini... kacau men...

“Apaan? Emangnya gak boleh? Dewi kan aus… Dewi mau minum…” protes Dewi dengan logat ganjennya, dimirip-miripkan dengan nada artis dangdut bernama serupa yang sering nongol di acara infotainment.

“Yee… dibilangin. Bikin malu saja. Aku dulu pernah ditegor keneknya tau.” Ah, terpaksa aib itu saya bongkar lagi.

“Lagian… mana aturannya?”

“Ituuu… biasanya ada stikernya… di kaca…”

“Iya Wi, jangan malu-maluin donk.” Ah, untung ada si Amy, manusia pecinta transjakarta, ikutan bersuara. Kali ini Dewi diam dan percaya. Mungkin takut sama brewok si Amy, manusia dengan nama cewek tapi berbody kekar.

Tampaknya memang belum semua manusia paham aturan dilarang ngemil dan minum di dalam bis transjakarta. Buktinya, teman lainnya, Titin, malah dengan polosnya heran kalau ada aturan seperti itu.

“Emangnya iya toh? Kok aku ndak papa padahal suka minum di busway?” tanyanya dengan logat medok khas Jogja.

Whoaa… ternyata baru ketahuan ada diskriminasi pada tindakan pelanggaran tata krama di dalam bis transjakarta. Titin saja ndak diapa-apain, lha kok saya pernah dipermalukan di depan penumpang lain?

Rasa nggonduk (baca: dongkol) kembali datang beberapa minggu berikutnya. Saya naik dari halte Sarinah menuju Blok M dan dapet duduk di kursi paling belakang yang menghadap ke depan. Tidak berapa lama, di halte Tosari naiklah sepasang pria dan perempuan yang agaknya satu kantor. Kok tahu kalo satu kantor? Ya iyalah soalnya sejak mereka masuk, suasana jadi bising gara-gara dua oknum itu ngobrolin bos-bosnya melulu. Kalau ngobrolnya duduk deketan sih ndak begitu kenceng mungkin. Lha ini, si perempuan duduk selisih satu bangku di kiri saya, sedangkan si pria berdiri sekitar dua meter dari depan kami. Jadi ngobrolnya tentu kenceng dan roaming pula. Nah, sambil ngobrol si mbak-mbak itu dengan santainya ngemil kripik singkong pedas.

“Kriuk… kriuk… hmmm… udah sono telepon aja si bos, minimal SMS kek… kriuk…kriuk…! Handphone kamu ada pulsanya kan? kriukkkk....” begitu bunyinya.

Sebenarnya aroma cemilan itu begitu menggoda. Tapi malah makin bikin jengkel saya, mengingat aturan ‘dilarang ngemil dan minum’ begitu mendarah daging pada diri ini. Dalam hati saya berharap sang kenek akan memergoki perbuatan ‘tak senonoh’ itu dan menegurnya sambil menunjuk ke arah stiker larangan (yang kali ini tertempel di kaca dengan jelas).

Namun, halte demi halte terlewati, tak sedetik pun sang kenek menengok ke arah bangku belakang dan bahkan tak sampai mendengar renyahnya kunyahan kripik keparat itu. Hingga sepasang oknum ‘tukang ngobrol tanpa malu’ itu turun di halte Bunderan Senayan, sang kenek tidak mengetahui jika wilayah kerjanya telah dinodai dengan aksi ‘kunyah kripik’.

“Sabar… sabar… bagaimanapun keadilan akan berjalan… kelak…” begitulah dalam hati saya menghibur diri sendiri.

Seandainya saja ada aturan tambahan bahwa penumpang lain berhak protes jika ada yang makan dan minum di dalam bis transjakarta tentu sayalah orang pertama yang akan melakukannya.

“Hentikan bis ini!! Saya akan turun jika dia tidak berhenti ngemil!!!”

Kapok ndak sampeyan?!










Read more »

Foto Sekretaris Hot Syahrini

Syahrini emang sesuatu banget. Kali ini muncul lagi foto-fotonya berdandan ala sekretaris seksi. Alamak, kok ehem gitu ya...


Nih, ada lagi.... cekidot....






Nah, lebih kompletnya ada di KAPANLAGI.COM

Untuk berita HOT lain, KLIK DI SINI

MOBIL PALING ENAK UNTUK BERCINTA

Read more »

Tragedi Gado-gado

Si abang tukang gado-gado
Udah lama gak makan gado-gado kayaknya kangen nih. So, siang tadi di tengah teriknya matahari saya pun meluncur nyari penjual gado-gado yang nongkrong di pinggir jalan. Nah, ketemu deh abang gado-gado yang ngetem di depan sebuah bank. Saya belum pernah ke sini sih, cuman kok setiap hari ngelihatnya ramai terus, jadi kepengen deh.

Setelah nunggu dua orang, akhirnya pesenan saya mulai dibuat oleh si abang.

"Yang satu makan sini Bang, yang dua bungkus, pedesss semua yak...?"

"Oke..." jawab si abang.

Siang-siang gini, makan gado-gado pedesss (pake triple "S') kayaknya menggiurkan sangat deh, hmmm... Eh, pas ngelirik ke cobek abangnya yang besar banget, dia cuma naruh tiga biji cabe ukuran sedang. Ah, keciiillll nih, pikir saya, pasti gak pedes-pedes amat. Saya sih mikirin kondisi perut juga sih sebenarnya, kebanyakan cabe biasanya jadi mules, tapi kalo cuma tiga biji mah... biasaaaa....

Gak begitu lama gado-gado pesenan saya jadi juga. Wow, menggiyuuurkan.... paduan lontong, sayur, taoge, timun, pare, dan irisan kacang panjang plus krupuk emang yahud deh.

Sesuap demi sesuap masuk ke mulut saya. Gak peduli makan di pinggir jalan besar, diliatin orang-orang yang hilir mudik pake mobil, motor dll. Dasarnya lagi laper dan nafsu, makan saya agak buru-buru, dan baru saya sadari, ternyata..... waksss.... gado-gadonya pedesssss (pake lima "S") banget !!! (pake tanda pentung tiga kali).

Wah, ini mah lombok setan yang dipakai. Tiga biji aja udah kayak sepuluh biji dengan level kepedasan standar.

"Bang, ada aqua?" tanya saya menahan pedesssss dan nahan nafas gara-gara hampir kesedak, seret nih.

"Ada.." jawab si abang, singkat dan padat.

Saya tunggu beberapa detik, hingga nembus dua menit, eh si abang yang posisinya membelakangi saya itu cuma menjawab "ada" tanpa menoleh dan terus asyik sibuk ngulek adonan gado-gado pesenan saya yang dibungkus. Padahal kan maksud saya tanya gitu supaya cepet diambilin air minum gitu loh...

Untung saya masih bisa nahan, dan saya pun lanjut lagi makan. Setelah lima suapan, kayaknya gak tahan lagi nih, maka saya kembali bersuara.

"Bang, air minum donk Bang..." pinta saya memelas.

Eh, si abangnya tetep gak noleh dan masih asyik memainkan ulegan di tangannya. Wah, kacau nih. Saya hanya mencoba menarik dalam-dalam nafas supaya rasa pedas bisa teratasi. Saya sih gak mau maksa si abang yang lagi sibuk atau teriak-teriak minta air. Gengsi juga kalau ketahuan kepedesan, kan ada pembeli lain yang antre juga.

Dan baru sekitar lima menit kemudian si abang ini ngambil segelas air mineral yang disimpan di rak paling atas gerobaknya. Dengan gaya 'slow motion' yang terasa lama, si abang itu malah kesulitan nancepin sedotan nembus plastik penutup. Aduuhhh, kenapa lagi itu...? Bikin lama aja.

Tapi akhirnya tembus juga tuh plastik, dan si abang pun menoleh juga ke saya sambil nyodorin air minum itu. Uhh, sedoooot gan.... pedesssss dan seret teratasi, walau telat.

Gado-gado tuntas juga dengan nikmat ditambah rasa gondok dikit sama abangnya, sudah saatnya balik rumah nih. Eits, sebelum balik kayaknya si abang ini perlu difoto dulu nih, buat bukti. Nah, untung saya bawa handphone berkamera yang meski gak terlalu canggih macam smartphone yang mahal. tapi cukup kinclong untuk motret, enak untuk SMS dan bening untuk telepon (pake XL sih.... promo ahhh...). Selesai satu jepretan (liat gambar di atas), saya pun kebelet pulang.

"Udahan Bang," kata saya.

"Semua dua puluh empat ribu...!" jawabnya cepat tanpa menoleh sambil sibuk nguleg seperti biasa.

Eh, busyet nih abang, saya kan gak nanya berapa total harganya, baru juga bilang "udahan", kok dianya nyamber cepet nyebutin angka? Kok pas saya tadi nanyain ada air apa enggak dia gak cepet-cepet nyamber air minum? Ah, dasar nih.





Read more »