Ikan Bakar ala Anak Romusha

Matahari sudah menghilang ketika kami tiba di Desa Matabubu Jaya, Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Kamis (24/2/2011) lalu. Perjalanan selama kurang lebih 1,5 jam dari Kota Kendari telah membuat perut kami lapar. Untungnya isi otak kami berlima sama saat merencanakan menu apa yang pantas dinikmati saat itu. Yups, ikan bakar adalah satu-satunya yang terbayang.

Warung pertama yang kami tuju sudah tutup, meski ditempel tulisan buka 24 jam (mungkin maksudnya jendelanya terbuka seharian penuh). Untung ada satu warung lagi yang masih buka, seorang ibu agak gemuk menyambut kami. Ketika kami tanyakan apakah masih ada ikan bakar, ia mengangguk dan segera mengambilkan ikan-ikan yang masih segar untuk kami pilih. Hanya ada ikan bandeng atau warga setempat menyebutnya dengan istilah ikan bolu, serta jenis ikan putih atau yang biasa kita kenal sebagai ikan kakap. Kami pun memilih jenis yang kedua untuk dibakar.

“Tunggu sebentar nah, saya masak dulu nasi dan ikannya…” kata si ibu sambil menuju ke dapur.

Ikan sebelum dibakar, dipilih dulu
Seperempat jam menunggu membuat kami gatal juga. Akhirnya kami pun ikut ke dapur nan gelap dan hanya diterangi sinar lilin itu untuk menawarkan bantuan pada si ibu.

“Kami saja yang bakar ikan bu…” si ibu tertawa dan dengan senang hati ia memperbolehkan kami membakar ikan di atas tungku arang dan batok kelapa. Sementara nasi dimasak di atas tungku itu juga dengan dandang yang sudah berwarna hitam. Dalam hati kami, mestinya si ibu ini ngasih diskon karena sudah dibantu mbakarin ikannya.

Tak perlu bumbu macam-macam untuk membakar ikan ala Tolaki, suku bangsa asli Kendari dan sekitarnya. Cukup dioles minyak sayur dan jeruk Tolaki. Jeruk ini agak lain dengan jeruk nipis biasa, airnya lebih banyak.

“Sambalnya pedis?” tanya si ibu.

“Ya…” jawab kami. Sambal untuk teman makan ikan bakar ala Tolaki juga sederhana, cukuplah cabe merah dan tomat diuleg.

Bakar sendiri lho...
Lima belas menit kemudian si ibu melongok pekerjaan kami. Bak juragan yang memastikan anak buahnya kerja bener atau ndak.

“Sudah itu, diangkat mi… jangan terlalu masak, namanya ikan laut lebih enak dimakan saat masih berdarah-darah…” ujarnya sambil tersenyum.

Tentu saja ia hanya bercanda, tak mungkin ikan berdarah-darah kita makan. Maksudnya jika ikan masih segar, dibakar tanpa gosong tentu lebih enak. Dan saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, ikan putih bakar lengkap dengan sambal dan nasi putih panas telah tersaji di meja.

“Sebentar nah, sayurnya menyusul…”

Siap santap
Lima menit kemudian si ibu itu muncul dengan membawa semangkuk besar sayur berkuah yang panas dan masih berasap.

“Ini namanya sayur kampung, tak ada di kota,” katanya menunjuk sayur berkuah yang terdiri dari potongan kacang panjang dan sayur oyong. Ya iyalah, kalau bikinnya di kota kan namanya jadi sayur kota kalee...

Dengan lahap kami makan hingga menghabiskan dua bakul nasi putih dan lima ekor ikan putih bakar ukuran besar. Saya dan dua orang kawan mulai meneteskan air mata saat menyantap hidangan itu. Bukan karena terharu, tetapi karena PEDESNYA itu lho... gila... tapi mengingat si ibu sejak awal sudah nanya mau pedis or not, so kami pasrah saja dengan keadaan ini.

Sayur kampung
Selepas makan kami menyempatkan ngobrol dengan ibu pemilik warung itu. Dan betapa kagetnya kami ketika ia mengaku keturunan Jawa asli padahal logatnya sama sekali sudah plek mirip orang Sulawesi.

“Ayah saya asli Magelang, ibu dari Surabaya, tapi saya lahir dan besar di sini, jadi logat Jawa sudah hilang, ke Jawa saja ndak pernah…”

“Oh, ibu transmigran tahun berapa?”

“Bukan, orang tua saya dulu romusha dibawa Jepang ke sini, sampai sekarang ndak pernah pulang…”

“Oooh…” kami hanya bisa ber-oh-ria, membayangkan sekitar tahun 1940-an di desa itu bagaikan membayangkan sebuah hutan lebat pastinya.

“Saya sih bisa bahasa Jawa, tapi logatnya logat sini… ngomong Jawa juga kalau ketemu orang trans di pasar…”

Puas makan dan ngobrol akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Si ibu meminta Rp. 150.000,- untuk menu yang ia sajikan malam itu.

“Maturnuwun yo bu…”

“Nggih mas…”

Sayangnya setelah jalan lagi, harga  yang dipatok si ibu tadi tidak membuat kami puas sebenarnya.

"Mahal banget tadi, mosok udah kita bantuin bakar ikan eh masih dimahalin?" gerutu teman saya.

Ya memang begitu lah, rupanya aji mumpung juga si ibu. Mumpung ada pembeli coz memang kalau di desa, apalagi di pedalaman Sulawesi Tenggara, jarang sekali ada warung, jarang pula ada pembelinya. Lagian siapa suruh bantuin bakar ikan? hehe....

*Reposting n re-edit from Kompasiana by widikurniawan (wku)

Read more »

Saat Hasrat Itu Muncul

Siapa suruh ngontrak rumah kecil kalo sudah punya anak. Tapi gara-gara keadaan ya mau gimana lagi. Seorang kawan saya sudah punya anak dua, keduanya masih SD. Nah, gara-gara kontrakan sempit yang mereka huni, otomatis si bapak n emak yang notabene masih dalam level "sedang hot-hotnya", mesti pinter-pinter mencari waktu untuk berduaan dan ber-begitu deh...

Suatu hari, di hari libur, keluarga itu lagi ngumpul-ngumpul saja di rumah. Karena rumah sempit, ya ngumpulnya cuma di kamar tidur saja. Eh, ndak tahunya hasrat 'begitu' si bapak ini datang secara tiba-tiba. Hmm.. gimana caranya ya? Mana mungkin anak-anaknya dikasih obat tidur supaya terlelap semua.

Setelah berpikir keras, sekeras batu, si bapak nemu ide brilian.

"Eh, nak mumpung libur begini mending main internet sana..."

"Ini kan lagi main Pak, pake hape bapak..." jawab si anak cowok yang rupanya sudah cukup melek teknologi.

"Oh, ndak nak... itu layarnya kecil, ndak bagus buat mata, ke warnet gih sana sama kakakmu..."

"Kan mahal pak, katanya gak boleh boros?"

"Ndak papa, mumpung ada rejeki, ke warnet aja sana, ini uangnya..."

"Satu jam pak?"

"Ndak, dua jam sekalian..."

Maka kedua kakak beradik itu dengan riang gembira meluncur ke warnet yang ndak begitu jauh dari rumah mereka. Si bapak bisa bernafas lega dan si ibu pun berhenti masak sejenak. Adegan selanjutnya? Silakan bayangkan sendiri.... hehe...

Read more »

Saya pernah lucu loh...

Beneran loh, saya ini sempat dicap lucu sama orang-orang. Suer... Sumpeh deh... Ndak percaya? Kalo sampeyan pembaca baru blog ini ya maklum saja, lha wong akhir-akhir ini saya dibilang sudah ndak lucu lagi. Tapi sekali lagi suer loh.. saya pernah lucu.

Pengen bukti? Ndak perlu lapor polisi lah, cukup sampeyan buka-buka lagi arsip tulisan lama saya. Sebagian dibilang lucu loh. Kalo sampeyan mbacanya ndak sambil ketawa saya maklum lah, lha wong itu tulisan lama yang dibikin sesuai konteksnya. Kalo sampeyan ndak tahu atau ndak inget peristiwa saat itu ya wajar kalo tulisan saya aneh.

Tapi bukti otentik ada lho. Sampeyan baca saja koment-koment-nya, ada yang ngaku ngakak sampai guling-guling di lantai, ada yang bilang "hahahahha'' panjang banget (kayaknya dulu belum musim "wkwkwkw" deh...).

Trus kalo pernah lucu so what gitu loh??? Ndak kok, saya ndak bermaksud pamer. Pamer kok pamer lucu-lucuan... ndak lucu ah... Maksud saya cuma nostalgia saja, ngingetin diri sendiri kalo udah lama ndak merhatiin blog ini. Alhamdulillah sekarang sudah pakai domain dot com sendiri. Meski harus merelakan sedikit uang jatah makan untuk sekedar ngilangin kata "blogspot".

Mungkin kalo sudah begini saya bisa semangat lagi nulis yang ngawur-ngawur. Coz ngawur itu bikin stres ilang. Selama ini saya sempat 'ngekos' di rumah blog lain dan nulisnya pakai mikir lama, serius banget... lama-lama kangen deh balik sini lagi... kangen pula sama teman-teman yang dulu setia sering mampir, koment dan ketawa-ketawa bareng. Oke deh, salam ngawur dan lucu...

Read more »

Hati-hati Virus dari Email "FedEx"

Sebuah pesan di inbox email telah membuat saya penasaran. Di situ tertulis FedEx service sebagai pengirimnya dengan subyek FedEx Notice. Saya lalu membuka dan mendapatkan pesan sebagai berikut:
Dear customer. The parcel was sent your home address.
And it will arrive within 7 business day.

More information and the tracking number are attached in document below.
Thank you.
© FedEx 1995-2011
Wow, ada yang mengirim parcel ke saya? Ah yang benar saja? Kemudian saya coba klik file attachment yang dilampirkan, yang katanya memang harus saya buka itu. Lalu apa yang terjadi? File dengan nama FedEx letter.zip yang berukuran 10 kilo bytes itu dideteksi sebagai virus oleh antivirus Norton yang dipakai Yahoo untuk memindai dokumen lampiran.
Virus detected The attachment you are trying to download contains a virus and it can not be cleaned.
FedEx letter.zip (10KB)
Nah, jelas sudah email itu adalah spam. Penyebar virus yang mungkin sangat berbahaya bagi komputer anda. Mungkin alamat email saya sudah cukup tersebar sehingga para spammer ini menggunakannya untuk tujuan penyebaran file berbahaya.

Cukup mudah sebenarnya menandai suatu email adalah berbahaya. Pertama, anda mesti curiga jika tidak mengenali pengirimnya. Contohnya saya, kalau dipikir-pikir saya tak pernah berurusan dengan perusahaan ekspedisi internasional macam FedEx. Paling banter kan Kantor Pos, Tiki atau JNE … hehe…

Kedua, lihatlah daftar alamat yang mereka kirimi email juga. Saya melihat untuk sebuah email yang mestinya pribadi tetapi mereka mengirimkannya untuk beberapa alamat sekaligus. Dari beberapa alamat itu terlihat janggal juga karena urut abjad, sehingga disinyalir mereka telah mencuri data berupa daftar alamat email dan database itu mereka simpan dengan rapi sehingga menjadi urut abjad.

Jadi sebaiknya kita lebih hati-hati untuk tidak gatel alias penasaran untuk membuka-buka  pesan aneh yang bisa saja nyasar di inbox email atau facebook milik kita.

*Reposting from Kompasiana

Read more »

Bakat Muda Sepak Bola Belanda Mau ke Indonesia

Benarkah Indonesia sudah menjadi salah satu negara tujuan untuk belajar sepak bola? “Tidaaakk…!!” mungkin mayoritas jawaban dari anda-anda akan membentuk koor demikian. Yups, mana mungkin lah di saat sekarang sepak bola negeri kita begitu diimpikan oleh bakat-bakat muda dari luar negeri. Liga domestik saja kini muncul tandingannya, belum lagi kontroversi soal Ketua Umum PSSI yang nggak pernah reda.

Tapi kok Irfan Bachdim dan Kim Jeffrey Kurniawan mau main di Indonesia? Padahal mereka sudah enak main di liga Eropa. Ah, itu sih pengecualian, soalnya motivasi semula mereka sebagai pemain keturunan Indonesia adalah bisa main untuk Tim Nasional Indonesia.

Nah, kini muncul satu nama lagi pemain muda berbakat yang juga keturunan Indonesia asal Belanda. Namanya Rishi Salma, usia 17 tahun. Dalam sebuah video di youtube yang dirilis Radio Nederland Wereldomroep (RNW) Indonesia bertanggal 15 Februari 2011 lalu, si pemain tampak sedang diliput tentang keseriusannya mau bermain sepak bola ke Indonesia.

Video dibuka dengan percakapan Rishi Salma dan sang mama di pinggir lapangan sepakbola. Sang Mama berencana balik ke Indonesia untuk selamanya dan meminta anaknya, Rishi, untuk ikut ke Indonesia dan melanjutkan karier sepak bola di Indonesia. Rishi pun mengiyakan permintaan ibunya.

Rencana ini malah membuat sang presenter RNW Indonesia menjadi heran. Pasalnya di saat bakat-bakat muda seusia Rishi di Indonesia memiliki cita-cita bermain sepak bola di Eropa, eh.. si Rishi malah sebaliknya, mau hijrah dan main bola di Indonesia.

Pelatih Rishi Salma, Rene Blokland, memberikan testimoni tentang bakat anak asuhnya itu. Rishi dinilai mempunyai kekuatan di kaki kanannya dan mampu bermain di lapangan tengah maupun sayap. Ia dinilai cepat dan kuat. Sementara kelemahan Rishi adalah pada sundulan, kaki kiri dan tendangan jauh.

Ditanya tentang rencana kepindahan Rishi ke Indonesia, Rene mengatakan hal itu tidak bagus untuk perkembangan sepak bolanya. Tapi ia bisa mengerti bahwa orang cenderung mengikuti kata hatinya dan itu lebih penting. Sedangkan Rishi sendiri mengakui keinginannya ke Indonesia adalah untuk berpetualang dan mengikuti keinginan hatinya.

Dalam video berdurasi 2,5 menit itu Rishi terlihat mempertontonkan skill sepak bola yang dimilikinya. Sayangnya tidak ada informasi kapan dan di klub mana ia akan bermain. Bahkan kebenaran video ini pun saya masih ragu, karena dikemas dengan gaya kocak yang memancing orang ngakak saat menontonnya. Tengok saja judul video ini: “Rishi Belajar Sepak Bola di Indonesia, yang Bener aje…”.

Penasaran mau ikutan lihat? Silakan langsung meluncur ke TKP…

*Reposting from Kompasiana

Read more »

Perangkap Tikus

Punya rumah banyak tikusnya memang jijay. Akhir-akhir ini tidur saya memang ndak begitu pulas. Semua gara-gara tikus. Garuk-garuk dinding atau kardus di tengah sepinya malam. Saat saya terbangun dan ngopyak-opyak makhluk menjijikkan itu, eh nyatanya ndak berhasil mengusir mereka. Paling awalnya lari, trus ndak lama kemudian datang lagi.

Tikus di rumah saya ndak cuma satu dua rupanya. Ada yang gedenya kayak sepatu boot, ada juga yang kecil-kecil. Tikus-tikus junior ini sudah tahu ngacak-acak rumah orang. Tempat sampah di dapur biasanya jadi sasaran empuk. Isinya bisa berantakan ndak keruan. Tapi ada kalanya mereka bikin bersih sesuatu. Bayangkan saja, kalo saya lupa ndak nyuci piring habis makan, sisa nasi yang masih nempel di piring bisa bersih kinclong gara-gara dijilati tikus yang kurang kasih sayang itu. Jadi kalo sampeyan males mbersihin piring boleh kok nitip ke saya. Wuek....

Malam ini saya ndak tidur lebih awal, lagian nonton bolanya lagi asyik. Yang jelas, malam ini saya sudah pasang perangkap buat tikus-tikus itu. Saya pasang kotak besi yang ada umpannya nggantung di dalam. Teorinya, pas si oknum tikus ini narik umpan yang dicantolken ke kawat, maka pintu kotak itu bakal menutup dan tikusnya ndak bisa lari ke mana-mana alias terperangkap.

Saya sudah nyoba perangkap ini sejak siang, pake umpan potongan tempe dan sisa tulang ayam hasil makan siang saya. Eh, ndak taunya malah banyak binatang lain yang datang, bukannya si tikus keparat itu. Kok banyak? Ya iyalah, lha wong malah umpannya dikerubuti semut!

Oke, malam ini saya ndak akan bikin kesalahan lagi.  Semutnya sudah saya semprot pake semprotan nyamuk. Mati semua. Itulah hebatnya semprotan nyamuk, membunuh semutpun bisa. Sekarang giliran nungguin apakah ada tikus yang kena jebakan.

Btw, sudah tiga jam nunggu belum ada tikus yang kena nih....

Read more »

Doain Saya Yah...

Woah, sudah lama jugak ya ndak nulis di rumah lama ini. Maklum sudah bukan pengangguran... :) But, belummandi semestinya mesti dan harus tetep jalan... ndak ada yang ndak mungkin... mungkin saja bisa jalan... nah, bingung toh...??

Sebenernya saya masih tetep aktif nulis. Tapi rumahnya ngontrak di tempat lain. Yups, dengan beragam penghuninya, selama ini saya cukup enjoy ngekos di Kompasiana.com.


Tapi so far keinginan membangun rumah lama datang lagi. So, meski belum begitu pulih betul renovasi rumahnya, saya tetp berharap dukungan dan doa sodara-sodara. Saya bukan orang ngetop, tapi ndaka da salahnya kok ikut ndoain orang ndak ngetop sama sekali... Okeh...? Tengkyu yak...

Read more »