Kendari! Here I am.
Sebuah kenyataan yang hampir tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya harus pindah demi tugas di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Okelah kalo begitu. Saya mesti beradaptasi lagi dengan tetek bengek (kasihan deh, teteknya mesti minum obat batuk... uhuk,,,) semacam budaya, makanan, bahasa, gaya hidup dan tentu saja transportasi.
Sempat shock juga ketika mendarat untuk pertama kali di Bandara Kendari. Kok sepi begini sih jalanan? Kiri dan kanan jalan hanya pohon dan beberapa rumah. Jangan-jangan tadi pesawatnya mendarat darurat. Oh, rupanya bandara masih jauh dari pusat kota. Setelah nyampe pusat kota Kendari ternyata lumayan rame juga. Banyak angkot ngetem dan saling kebut di jalan. Artinya Kendari ndak kalah juga dari Bogor, sama-sama surga angkot.
Trus, ada taksi juga lho! Meski ndak ada yang warna biru dan ada gambar burungnya kayak di Jakarta, tetapi taksi adalah salah satu penanda bahwa kota itu sudah maju.
Nah, ngomongin tentang taksi, ternyata ongkos taksi di Kendari sepertinya ndak bikin penumpang stres sesaat seperti kalo orang berpenghasilan pas-pasan kayak saya naik taksi di Jakarta. Jalanan dalam Kota Kendari bebas dari macet, pun mau ke mana-mana relatif dekat. Jarak dari kos saya ke kantor tidak lebih dari lima menit naik kendaraan bermotor. Maka setiap hari saya dan dua rekan senasib satu kos, Triaz dan Triyono, berangkat ke kantor bareng-bareng naik taksi dengan penuh gaya. Gimana ndak gaya, naik sedan gitu loh. Meski plat kuning….
Lalu berapakah bayarnya? Wow… ini baru namanya istimewah. Pas naik taksi posisi argo dimulai dari angka 4500, eh nyampe di tempat tujuan, yakni kantor, argonya masih juga tak beranjak dari posisi itu. Jadi gaya kami benar-benar asyik saat turun karena kalimat yang terucap pada sopir adalah:
“Ini pak, ambil kembaliannya…” sambil menyodorkan selembar uang lima ribu rupiah.
Benar-benar irit, ongkos lima ribu bisa dibagi tiga orang tentu lebih irit daripada naik angkot yang sekali naik kena dua ribu lima ratus rupiah tiap orang. Udah gitu ndak ada AC pula. Sering ngetem pula. Kursinya ndak empuk pula. Banyak emak-emak ganjen pula.
Maka mulai saat itu kami bertiga bagai anak kembar tiga yang tak terpisahkan saat pergi ke kantor. Yah gimana lagi, kalo cuma seorang diri kan lebih murah naik angkot gitu loh. Jadi naik taksi murah itu syaratnya cuma kalo kita iuran bertiga.
Seminggu pertama, taksi telah menjadi transportasi idola kami. Namun, entah kenapa minggu berikutnya setiap kali kami nyari taksi dari dekat kos seolah sulit. Bahkan taksi yang sering ngetem di dekat hotel melati pun ndak mau beranjak ketika kami panggil-panggil dengan teriakan, lambaian, maupun siulan.
“Mungkin sopirnya ketiduran di dalam,” begitu prasangka baik kami berbicara.
Namun, kesulitan nyetop taksi di hari-hari berikutnya membuat kami sadar diri. Oh, jangan-jangan mereka sudah nge-black list penumpang dengan ciri-ciri tiga orang bermuka Jawa yang cuma naik taksi tiap pagi jarak dekat dengan ongkos ndak lebih dari lima ribu rupiah…
Maka mulai saat itu kami putuskan untuk putus hubungan dengan taksi. Naik angkot lebih nyaman di hati rupanya. Ada emak-emak ganjen pula. Lumayan kan...
Read more »