Sungguh mengagumkan apa yang dilakukan nenek itu. Menginjak usia rentanya, sekitar 70 tahunan, Mak Neng, demikian sapaannya, masih cekatan meracik gudeg. Setiap pagi seusai Subuh, bersama dua orang pembantunya, Mak Neng sudah membuka warung gudeg di samping gedung bekas bioskop tua ‘City Theatre’ di Kota Temanggung, Jawa Tengah.
Jangan membayangkan warung gudeg itu tertata layaknya warung makan pada umumnya. Mak Neng yang bersahaja itu hanya memiliki satu meja berukuran sedang yang ditutup etalase plastik agak buram dan beberapa bangku panjang yang mengitari meja untuk duduk para pembeli. Di atas meja itulah terdapat baskom dan wadah-wadah untuk menampung nasi, bubur, gudeg, sambel, telur, krecek, tahu serta potongan-potongan daging ayam.
Daging ayam yang sebagai lauk utama gudeg pun bukan sembarang daging. Mak Neng sengaja memilih daging ayam kampung jantan yang dimasak hingga empuk. Tak heran apabila paha daging ayam yang tertata di baskom milik Mak Neng terlihat panjang-panjang dan menggiurkan.
Gudeg Mak Neng juga lebih basah daripada gudeg Jogja, karena ada sedikit kuah. Rasa manisnya pun tidak berlebihan dan terasa pas di lidah.
Gudeg ala Mak Neng memang beda, tak hanya nasi, gudeg pun bisa dinikmati bersama bubur hangat. Nyatanya bubur gudeg justru selalu laris dan lebih dulu habis dibandingkan nasi. Sewaktu saya bersantap di warung itu, tak sedikit pelanggan yang kecewa karena kehabisan bubur.
“Mak, buburnya masih,” ujar pelanggan bernama Madiyono.
“Habis Pak, tinggal nasinya…” jawab Mak Neng.
“Waduh telat nih, ya sudah kalau begitu Mak…”
“Iya, iya Pak… ndak papa…”
“Lho Pak Mad, kok mau pulang? Sarapan pakai nasi saja,” ujar pelanggan yang lain.
“Anu Bu, perut saya ndak enak diajak makan nasi kalau pagi begini, hehe… mari Bu…”
Demikianlah suasana khas pagi hari di warung Mak Neng. Keakraban antar pembeli mudah saja terjadi karena tipikal warga Temanggung yang hangat dan suka menyapa. Kota ini amatlah kecil dan warganya mudah untuk saling mengenal satu sama lain.
Gudeg Mak Neng memang tergolong mahal untuk ukuran Temanggung. Nasi gudeg ayam plus segelas teh hangat di gelas belimbing dihargai Rp. 12.000,-. Namun, harga segitu sangatlah murah untuk citarasa lebih dari Mak Nyuss ala Mak Neng.
Hmmm, sayangnya saya ndak bisa meng-upload foto-fotonya di blog ini. Pagi itu saya ndak bawa kamera dan terpaksa pinjem hape untuk ngambil gambar Mak Neng. Eh, lhadalah, sama saja ternyata, ndak ada kabel untuk nguploadnya… hape pinjeman itu juga ndak ada memory card-nya, hehe… katrok tenan. Padahal Mak Neng sudah asik-asik saja saat difoto.
“Ya silakan difoto, saya biasa difoto kok…” ujarnya sambil senyum lebar.
Oke Mak Neng, lain kali saya pasti datang lagi bawa kamera. (wku)
Jangan membayangkan warung gudeg itu tertata layaknya warung makan pada umumnya. Mak Neng yang bersahaja itu hanya memiliki satu meja berukuran sedang yang ditutup etalase plastik agak buram dan beberapa bangku panjang yang mengitari meja untuk duduk para pembeli. Di atas meja itulah terdapat baskom dan wadah-wadah untuk menampung nasi, bubur, gudeg, sambel, telur, krecek, tahu serta potongan-potongan daging ayam.
Daging ayam yang sebagai lauk utama gudeg pun bukan sembarang daging. Mak Neng sengaja memilih daging ayam kampung jantan yang dimasak hingga empuk. Tak heran apabila paha daging ayam yang tertata di baskom milik Mak Neng terlihat panjang-panjang dan menggiurkan.
Gudeg Mak Neng juga lebih basah daripada gudeg Jogja, karena ada sedikit kuah. Rasa manisnya pun tidak berlebihan dan terasa pas di lidah.
Gudeg ala Mak Neng memang beda, tak hanya nasi, gudeg pun bisa dinikmati bersama bubur hangat. Nyatanya bubur gudeg justru selalu laris dan lebih dulu habis dibandingkan nasi. Sewaktu saya bersantap di warung itu, tak sedikit pelanggan yang kecewa karena kehabisan bubur.
“Mak, buburnya masih,” ujar pelanggan bernama Madiyono.
“Habis Pak, tinggal nasinya…” jawab Mak Neng.
“Waduh telat nih, ya sudah kalau begitu Mak…”
“Iya, iya Pak… ndak papa…”
“Lho Pak Mad, kok mau pulang? Sarapan pakai nasi saja,” ujar pelanggan yang lain.
“Anu Bu, perut saya ndak enak diajak makan nasi kalau pagi begini, hehe… mari Bu…”
Demikianlah suasana khas pagi hari di warung Mak Neng. Keakraban antar pembeli mudah saja terjadi karena tipikal warga Temanggung yang hangat dan suka menyapa. Kota ini amatlah kecil dan warganya mudah untuk saling mengenal satu sama lain.
Gudeg Mak Neng memang tergolong mahal untuk ukuran Temanggung. Nasi gudeg ayam plus segelas teh hangat di gelas belimbing dihargai Rp. 12.000,-. Namun, harga segitu sangatlah murah untuk citarasa lebih dari Mak Nyuss ala Mak Neng.
Hmmm, sayangnya saya ndak bisa meng-upload foto-fotonya di blog ini. Pagi itu saya ndak bawa kamera dan terpaksa pinjem hape untuk ngambil gambar Mak Neng. Eh, lhadalah, sama saja ternyata, ndak ada kabel untuk nguploadnya… hape pinjeman itu juga ndak ada memory card-nya, hehe… katrok tenan. Padahal Mak Neng sudah asik-asik saja saat difoto.
“Ya silakan difoto, saya biasa difoto kok…” ujarnya sambil senyum lebar.
Oke Mak Neng, lain kali saya pasti datang lagi bawa kamera. (wku)

