Orang di kampung dulu pernah ada yang bilang, “Jakarta penuh godaan, ati-ati kalau hidup di sana.” Entah apa yang dimaksud dengan “godaan” versi dia. Kata itu bisa bermakna luas. Bisa juga “menggoda” orang untuk berpikir “tergoda”. Makin “menggoda” pula ketika Agnes Monica meluncurkan lagu “Godain Aku Lagi”.
“Goda-menggoda” sebenarnya bisa masuk ke ranah apa pun. Oknum yang “tergoda” jadi maling duit kelas kakap alias koruptor, kalo ndak ati-ati bisa “menggoda” KPK untuk menciduknya. Demikian juga di kelas bawah, bila lapar sudah tak tertahan sedangkan jalur legal tak memungkinkan untuk bersahabat, bisa-bisa ada yang “tergoda” untuk nyopet, njambret sampai nodong. Apesnya, kelompok yang ini bisa “menggoda” massa untuk menghajar dan menggebuk rame-rame bila ketangkep.
“Godaan” lain juga sering terjadi di jalan. Kalo sudah terjebak macet ndak ketulungan, sopir mobil-mobil mewah, yang katanya (ada yang) terpelajar, kadang ada yang “tergoda” untuk nyerobot jalur busway. Ndak cuman itu, kalo sudah jengkel gara-gara lampu merah, klakson sering “menggoda” untuk dipencet sesering mungkin.
Masih banyak “godaan” yang berseliweran di ibu kota. Kaum ibu-ibu senengnya bukan main kalo sudah “tergoda” di Mango Two (Mangga Dua) dan Brother Land (Tanah Abang). Tinggal para bapak yang meratapi nasibnya “tergoda” nganterin istrinya belanja.
“Godaan” paling favorit (versi blog ini) tentu saja jika sudah menyangkut “kesehatan mata pria”. Sangat sulit di Jakarta ini bagi pria dewasa untuk selalu menutup mata ketika ada “godaan” lewat. Mungkin karena tuntutan modernitas metropolitan, sebagian perempuan muda (dan ada yang tua juga – disebut tante –red.) suka berpenampilan terlalu “menggoda” pandangan mata pria. Sering kali hal ini bisa menimbulkan resiko yang tidak ringan.
Siang itu, di jalanan dekat sebuah plaza ngetop, seorang pemuda tampak hendak menyeberang jalan. Namun, belum sempat ia menyeberang, tiba-tiba sesosok wanita muda berjalan melintas di depannya. Mungkin inilah yang dinamakan “Naluri Lelaki” seperti yang diceploskan SamsonS. Spontan saja si pemuda itu menancapkan pandangan ke arah “godaan” berjalan yang memiliki casing ramping dan memakai rok terlalu mini itu (deskripsi lebih lengkap sepertinya tidak pantas ditulis di sini).
Gara-gara “tergoda iklan lewat” itu, si pemuda hampir menanggung resikonya. Ia lupa dengan niat semula, yakni nyebrang jalan. Alhasil, hampir “menggoda” sebuah sedan untuk “menciumnya”. Untung ada klakson yang membangunkan lamunan si pemuda itu (masih ada untungnya juga benda bernama klakson itu).
Nah, apakah sampeyan juga “tergoda” untuk tahu siapa gerangan pemuda itu? Jawabannya adalah: saya sendiri! (wku)
“Goda-menggoda” sebenarnya bisa masuk ke ranah apa pun. Oknum yang “tergoda” jadi maling duit kelas kakap alias koruptor, kalo ndak ati-ati bisa “menggoda” KPK untuk menciduknya. Demikian juga di kelas bawah, bila lapar sudah tak tertahan sedangkan jalur legal tak memungkinkan untuk bersahabat, bisa-bisa ada yang “tergoda” untuk nyopet, njambret sampai nodong. Apesnya, kelompok yang ini bisa “menggoda” massa untuk menghajar dan menggebuk rame-rame bila ketangkep.
“Godaan” lain juga sering terjadi di jalan. Kalo sudah terjebak macet ndak ketulungan, sopir mobil-mobil mewah, yang katanya (ada yang) terpelajar, kadang ada yang “tergoda” untuk nyerobot jalur busway. Ndak cuman itu, kalo sudah jengkel gara-gara lampu merah, klakson sering “menggoda” untuk dipencet sesering mungkin.
Masih banyak “godaan” yang berseliweran di ibu kota. Kaum ibu-ibu senengnya bukan main kalo sudah “tergoda” di Mango Two (Mangga Dua) dan Brother Land (Tanah Abang). Tinggal para bapak yang meratapi nasibnya “tergoda” nganterin istrinya belanja.
“Godaan” paling favorit (versi blog ini) tentu saja jika sudah menyangkut “kesehatan mata pria”. Sangat sulit di Jakarta ini bagi pria dewasa untuk selalu menutup mata ketika ada “godaan” lewat. Mungkin karena tuntutan modernitas metropolitan, sebagian perempuan muda (dan ada yang tua juga – disebut tante –red.) suka berpenampilan terlalu “menggoda” pandangan mata pria. Sering kali hal ini bisa menimbulkan resiko yang tidak ringan.
Siang itu, di jalanan dekat sebuah plaza ngetop, seorang pemuda tampak hendak menyeberang jalan. Namun, belum sempat ia menyeberang, tiba-tiba sesosok wanita muda berjalan melintas di depannya. Mungkin inilah yang dinamakan “Naluri Lelaki” seperti yang diceploskan SamsonS. Spontan saja si pemuda itu menancapkan pandangan ke arah “godaan” berjalan yang memiliki casing ramping dan memakai rok terlalu mini itu (deskripsi lebih lengkap sepertinya tidak pantas ditulis di sini).
Gara-gara “tergoda iklan lewat” itu, si pemuda hampir menanggung resikonya. Ia lupa dengan niat semula, yakni nyebrang jalan. Alhasil, hampir “menggoda” sebuah sedan untuk “menciumnya”. Untung ada klakson yang membangunkan lamunan si pemuda itu (masih ada untungnya juga benda bernama klakson itu).
Nah, apakah sampeyan juga “tergoda” untuk tahu siapa gerangan pemuda itu? Jawabannya adalah: saya sendiri! (wku)


