Cuti

Dear all,

Dengan ini saya sampaiken, bahwasanya dikarenakan ada suatu keperluan yang tidak bisa ditunda, ditinggal atau diwakilken, maka dengan ini saya beritahuken, bahwa mulai postingan ini, saya memutusken mengambil cuti ngeblog, sejenak sampai kira-kira minimal dua pekan.

Hal-hal yang sekiranya dapat menimbulken rasa kangen, rindu ataupun hasrat ingin mendapati blog ini update, seyogianya sampeyan pendem dulu barang sejenak. Cuti bukan berarti undur diri. Cuti bisa berarti 'mencuci hati'. Siapa tahu nanti setelah cuti hati saya jadi bersih, sehingga ndak lagi nulis yang jorok alias saru. Ndak lagi nulis sesuatu yang bikin orang lain salah paha maupun salah paham.

Oke, jika sampeyan kangen, ndak usah ngirim SMS 'reg (spasi) kangen', tapi cukup tinggalkan comment saja.

Tengkiu all, see yu

(wku)

Read more »

Seragam Koruptor


Gara-gara KPK punya rencana mau beri seragam khusus kepada koruptor, banyak orang jadi penasaran, sebagian lagi belingsatan. Penasarannya, pengen segera tahu modelnya seperti apa. Nah, kalo yang bellingsatan pastinya mereka khawatir kalo-kalo seragam itu nantinya ndak matching sama warna kulit mereka.

Konon, KPK bakal bikin sayembara desain seragam khusus itu. Tentu sebagai pengamat mode, saya merasa terpanggil untuk ikut memberikan “sumbangsih” kepada para koruptor itu. Sampeyan bisa lihat kan gambar desain saya.

Sengaja saya pilih model dan bahan kaos supaya gaul. Alasan lain, kaos sangat nyaman dipakai dan bisa menyerap keringat. Lha iya, namanya persidangan korupsi pasti suasananya panas dan gerah. Kalo pakai kaos dijamin bisa membantu konsentrasi lebih fokus terhadap dakwaan.

Kenapa ada dua model? Ya iyalah, kan sekarang cewek atau ibu-ibu kan bisa saja terseret kasus korupsi (makanya baca koran donk…). Korupsi ndak cuman monopoli kaum pria kok.

Untuk model pria, warnanya saya pilih hitam. Sebabnya, kalo pakai hitam orang akan cenderung kelihatan lebih langsing. Kan biasanya koruptor pria agak-agak buncit gitu perutnya… (halah… sama donk..). Sedangkan untuk wanita sengaja saya pilih warna pink supaya kelihatan cerah, centil dan nge-gemesin (untuk ditampar).

Konon katanya, dengan adanya seragam khusus koruptor diharapkan akan menimbulkan efek malu. Nah, dengan desain yang saya buat ini, para koruptor bisa malu tapi dijamin ndak bakal malu-maluin. (wku)



Read more »

Kencing Itu Mahal

Gambar ini diambil di dalam terminal bis Depok yang terkenal padet, ruwet dan macet. Makanya gambarnya agak-agak ndak jelas, lha wong motretnya saja dari dalam bis.

Sampeyan bisa lihat ada spanduk kan? Tulisannya “Dilarang kencing dan buang sampah sembarangan.” Ada yang salah dengan spanduk itu? Kayaknya ndak ada. Hanya kalo sampeyan mau menyempatkan waktu untuk merenungi, meresapi dan memahami (walah), ada sesuatu yang agak ‘nyetrum’ dengan spanduk itu.

Kenapa sih yang bikin spanduk sampai repot-repot bikin peringatan ngelarang kencing sembarangan? Logikanya, spanduk itu ditujukan pada manusia kan? Kalo anjing kan ndak bisa mbaca karena ndak pernah disekolahkan. Berarti kalo ada peringatan seperti itu, kesimpulannya di tempat itu sering terjadi “kasus” manusia kencing sembarangan.

Nah, pertanyaannya, siapakah oknum yang sering kencing sembarangan? Aduuuhhh jadi penasaran pengen lihat…:)

Melongok tipikal sebuah terminal di negeri ini, tentu hampir bisa dikatakan bahwa di tempat ini lebih banyak berkumpul masyarakat kelas menengah ke bawah. Mulai dari awak kendaraan umum, pedagang kaki lima, asongan, pengamen, pengemis, preman, pencopet, petugas terminal, hingga para penumpang yang hilir mudik.

Maka bisa jadi alasan ekonomi menjadi salah satu sebab orang kencing sembarangan. Lihat saja WC umum atau toilet yang ada di terminal, tarifnya 1000 rupiah tiap kali “setor”. Uang segitu tentu sangat berarti bagi, misalnya, seorang penjual rokok asongan. Selembar uang itu sama dengan keuntungan ketika mereka mampu menjual dua batang rokok eceran. Betapa susah mendapatkannya.

Padahal para pengais rejeki di sekitar terminal selalu berada di sana dari pagi hingga sore atau bahkan malam. Bayangkan saja jika setiap orang butuh minimal lima kali kencing dalam sehari, berarti ia harus menyisihkan 5000 rupiah tiap hari. Kalikan selama 25 hari dalam sebulan (jika memang ada kalanya mereka libur). Hasilnya 125 ribu rupiah hanya untuk kencing selama sebulan!

Nah, mungkin faktor seperti itu ndak disadari orang-orang di belakang spanduk itu (baca: pengelola terminal). Kencing malah dibisniskan dengan menjual pengelolaan WC umum ke pihak lain. Lalu bagaimana dengan para pekerja kelas bawah? Kenapa ndak disediakan toilet gratis untuk mereka?

“Biaya perawatan dan kebersihan toilet gratis mahal, Mas, tidak ada anggarannya” kata seorang petugas yang ndak mau dikenalin karena ndak cukup ganteng.

Okelah kalo alasannya biaya perawatan toilet juga mahal, kenapa ndak ada subsidi khusus bagi para pekerja itu. Kan bisa saja dibikin tarif khusus dengan headline promosi menarik:

“Kencing Sekali Gratis Sekali” atau

“Dapatkan Kupon Undian Berhadiah Menarik Setiap Tiga Kali Kencing” atau

“Kencing Kurang dari Satu Menit Gratis, Lebih dari Itu Bayar” atau

“Diskon 70% Bagi Pemegang Kartu KencingMania”

Intinya adalah, ada banyak cara membuat terminal bersih dari guyuran air kencing secara sembarangan. Tinggal bagaimana pihak-pihak yang berwenang mau dan mampu memberikan solusi. Jadi ndak perlu lagi ada spanduk-spanduk gitu. Ndak efektif malah. (wku)


Read more »

Emoh (Ikutan) Nulis Ryan

Semua ngomongin Ryan. Di mana-mana orang menyinggung nama Ryan. Gak cuma di tipi, di radio, di koran, Ryan rame diomongin di milis-milis, ditulis di blog juga. Tapi kenapa blog ini gak tertarik ngomongin Ryan? Ya, gak kenapa-kenapa, lha wong sudah banyak yang ngomongin. Seorang kawan malah nanya gini, “Tumben gak ikutan nulis Ryan?”.

So, kelihatannya isu Ryan telah menjadi kehebohan nasional. Tadi pagi sempet baca koran, kalo media terlalu berlebihan meliput Ryan. Bahkan media dianggap gagal bersikap proporsional. Ya, gimana gak gagal kalo beritanya udah melebar ke mana-mana, termasuk unsur homo-nya yang diprotes aktivis kaum itu.

Hal remeh temeh macam Ryan jago main voli, ditulis. Ryan disuapin pacarnya yang cowok di penjara, ditulis jugak. Ibunya Ryan yang (katanya) dulu genit, eh ditulis jugak. Bahkan Ryan yang meringkuk tidur di penjara sambil ngelonin kucing jugak ditulis.

Makanya, daripada blog ini dicap hanya ikut-ikutan trend gara-gara nulis Ryan, mending gak usah nulis saja. Jadi demi menjaga proporsionalitas dan originalitas (sekali-sekali pake bahasa susah), maka blog ini tidak akan menyinggung atau menulis tentang Ryan. Titik. (wku)

Read more »