Mlorot

Jepretan iseng di Pantai Ancol, Sabtu (26/7). Maap ya, jangan-jangan itu anak sampeyan atau keponakan sampeyan. Lhadalah, lha wong lagi action gitu ya sudah, jepret saja. (wku)

Read more »

Kontrak

Dari mana sampeyan tahu ada rumah mau dikontrakkan? Selain dari iklan di koran, dari mulut ke mulut (mikirnya jangan negatif ya..), bisa jadi salah satunya dari papan keterangan di depan rumah tersebut. Tapi apakah sampeyan sama seperti saya, kalo ngeliat papan begitu jadi sering “sakit mata” alias agak ngganjel?

Gimana gak ngganjel, lha wong kalo ditinjau dari tata bahasa yang baik dan benar (cuihhh…), seringkali papan begitu jadi beda maknanya. Sampeyan perhatikan saja kata-kata itu, ada yang nulis “DI KONTRAKAN”, dan ada juga yang nulis “DI KONTRAKKAN”.

Kalimat “DI KONTRAKAN” inilah yang paling “merusak pemandangan” sekaligus menggelitik. Siapa yang lagi di kontrakan? Pacar simpenan sampeyan kah? Hehe… Nah, kalo yang kedua mestinya gak dipisah antara “DI” dan “KONTRAKKAN”, karena “DI” tidak menunjuk pada tempat.

Saya bukan ahli Bahasa Indonesia. Buktinya blog ini gak keruan bentuknya. Tapi setahu dan seingat saya, guru-guru Bahasa Indonesia saya pernah ngajarin tentang hal itu. Jadi kalo saya salah merekomendasikan bahwa kata yang benar adalah “DIKONTRAKKAN” maka jangan salahkan saya. Salahkan saja guru-guru saya.

Kalo memang saya yang benar, maka sungguh “menggemaskannya” pemahaman tata bahasa warga kita. Gimana gak? Lha wong kayaknya dari sepuluh rumah atau toko yang masang papan begituan, paling hanya satu papan yang sadar makna, yaitu “DIKONTRAKKAN”. (wku)

Read more »

Krosing: The Story of Njijiki

Peringatan: Membaca postingan ini beresiko mual, jijik dan muak. Jangan dibaca jika sampeyan termasuk alergi sama orang jorok dan nggilani.
Pindah ke tempat baru selalu saja ada resikonya. Kali ini, walau katanya untuk sementara, saya mesti ngantor di tempat yang jaraknya dua kali lipat dari kantor sebelumnya. Jika selama ini saya ngantor cukup naik metromini sekali dengan rata-rata jarak tempuh setengah jam lebih, maka itung aja kalo dua kali lipat. Dua kali pula saya mesti naik angkutan. Ditambah dua kali pula jalan kaki dengan durasi sepuluh menitan.

Konsekuensinya, dengan jam masuk kantor yang sama, saya mesti berangkat lebih awal sekitar sejam biar gak telat. Terlebih lagi dengan kondisi macet tiap pagi, waktu sejam lebih pagi kadang gak ada artinya. Tetep aja ngepas sampai di kantor.

Nah, gak cuma masalah susahnya bangun pagi yang jadi kendala. Bagi saya kendala utama adalah penyesuaian jam biologis untuk: Buang Air Besar (BAB) alias Pup alias Beol alias Boker alias Ngising (in Javanese).

Note: Sampai bagian ini apakah sampeyan masih tega mbaca postingan ini?
Kata orang yang peduli kesehatan, setiap orang mestinya rutin BAB setiap pagi. Nah, selama ini sebelum pindah kantor, saya memasukkan BAB dalam satu agenda dengan ritual mandi pagi pada jam 6.30 tiap harinya. Maka dengan perpindahan kantor yang lebih jauh saya mesti start mandi pada jam 05.30.

Inilah repotnya, ternyata saya gak bisa (dan belum terbiasa) BAB alias ngising pada jam tersebut. Udah dipaksa-paksa, udah ngeden, udah nyoba versi jongkok maupun duduk, tetep saja gak ada benda apa pun yang mau keluar.
Note: Kalo sampeyan jadi ilfil sama saya, lebih baik jangan teruskan mbaca.
Akhirnya, daripada jongkok atau duduk tanpa ‘output’ yang memuaskan, saya putuskan untuk bangkit dan melupakan keharusan menguras perut di pagi hari. Satu hari berlalu, gak ada pengaruhnya. Eh, hari-hari berikutnya malah jadi kacau. Akibat gak bisa pup, saya malah Krosing (Kroso Ngising alias Terasa Mau Beol) saat masih dalam perjalanan.

Bayangkan, Jakarta yang udah macet, panas dan bising pada jam-jam masuk kantor, pastilah bikin gerah, pusing dan stress. Eh, dalam kondisi gitu ditambah Krosing pula… alamak menderita sekali diriku. Gak tenang rasanya duduk di bangku dalam bis. Megal-megol, ngesat-ngesot, kiri dan kanan. Sungguh beresiko gerakan ini, kalo tumpah di situ piye? Atau kalo malah nyiprat ke penumpang sebelah, piye? Akhirnya, tahan nafas dalam-dalam adalah solusi awal yang mesti diterapkan baik-baik.

Solusi berikutnya adalah mempercepat langkah saat turun dari bis. Payahnya, saya mesti nyebrang jalan selebar jalan Gatot Subroto yang hampir sama dengan panjang lapangan bola. Udah gitu pake naik jembatan penyebrangan yang tingginya ampun deh, jumlah tangganya saja gak kalah dari Candi Borobudur.

Situasi seperti itu memang serba repot. Mau lari cepat takut ‘mbrojol’ di jalan. Mau gak cepat ya mana tahan… Akhirnya malah jadi banci, lari enggak, disebut jalan juga enggak, langkahnya nanggung.

Maka bayangkanlah sesampainya di toilet kantor. Mbrojol se-mbrojol-mbrojolnya!!! Argghh..!!

Berbahagialah jika sampeyan punya kendaraan, minimal motor atau mobil pribadi. Jika Krosing datang, tinggal belok ke toilet umum (biasanya di pom bensin). Lha saya? Naik angkutan umum gitu mana bisa sembarangan nyuruh sopir belok bentar ke pom bensin.

“Pak, pak belok bentar pak! Ke Pom Bensin!”

“Apaan sih? Ini angkutan umum Mas, bukan taksi!”

“Saya mau Beol Pak! Daripada tumpah di metromini, pilih mana?!”

Alhasil, kalo saya ngancam gitu bukannya si sopir takut dan belok ke toilet, bisa-bisa malah seisi metromini nendang saya keluar ke jalan.

Untungnya seminggu berlalu, jam biologis untuk BAB sudah bisa menyesuaikan. Meski dengan susah payah, tapi bisa beol di pagi hari perlu disyukuri. Orang yang gak bisa beol bahkan ada yang perlu opname di rumah sakit. Ah, syukurlah…lega… (wku)

Read more »

Demi Wanita, Lelaki Rela Berdiri

Kalo sampeyan naik “bis busway” (maksudnya bis transjakarta), di dinding bis bakal sampeyan baca stiker yang kira-kira gini bunyinya: “Saya malu duduk jika ada wanita hamil dan orang cacat berdiri”.

Sepertinya peringatan ini (atau sindiran sih?) selalu berlaku di transportasi umum lainnya meski tak tertulis. Tentu saja tidak termasuk di ojek (yo iyolah mosok ada penumpang ojek berdiri?). Di dunia ini adalah suatu kewajaran apabila lelaki harus melindungi, menghormati dan mengistimewakannya.

Nah, di ibukota metropolitan kayak Jakarta gini, bukanlah pemandangan aneh kalo angkutan massal apa pun namanya, KRL kek, Busway kek, Metromini kek, Kopaja kek, Bianglama Metropolitan kek atau Mayasari (ndak pake sisipan –ng-), isinya selalu berjubel dan penumpang rela berdiri.

Repotnya, bagi kaum lelaki, pasal “harus mengistimewakan” wanita adalah “sedikit ketidaknyamanan”. Setiap kali bis sesak, kemudian ada wanita berdiri, nurani serasa diketuk-ketuk bahwa sang lelaki harus merelakan tempat duduknya yang semula didapat dengan susah payah.

Apalagi kalo wanita tersebut kelihatan tua dan kepayahan, bawa anak kecil, hamil dan cakep banget. Lho kok cakep banget? Untuk kategori yang ini, pastilah sang lelaki berharap kebaikannya akan tercatat di memori HP si cewek.

Terkadang heran juga kenapa kebanyakan wanita (dan ibu-ibu tentunya) sering memaksakan diri naik ke bis meski sudah terlihat bahwa bis itu sudah penuh sesak. Padahal di Jakarta, jumlah bis gak terhitung banyaknya. Jangan-jangan ada pemikiran bahwa sesesak apapun, pastilah ada lelaki gentle yang bakal menyerahkan kursinya dengan rela.

Saya sebagai lelaki (hoekk…) pada dasarnya selalu rela memberikan kursi jikalau memang ada penumpang yang kepayahan berdiri (bukan hanya untuk wanita, bapak-bapak tua juga). Tapi jangan pula wahai anda kaum wanita, memandang dengan galak jika tak ada satu pun pria yang mau berdiri demi anda.

Lelaki juga manusia kan? Bisa capek, bisa kena asam urat dan bisa terkena pengeroposan tulang kaki. Jadi kalo ada wanita terpaksa berdiri di bis dan memandang sinis ke lelaki yang pantatnya sudah nempel di kursi, salah siapa? Salah sopirnya kali…(wku)

Read more »