Senja di Metromini 69

Senja itu Jakarta beranjak gelap. Ndak cuman gelap karena matahari sudah mau tutup. Juga karena senja itu PLN dengan tega mematikan listrik di sebagian wilayah selatan Jakarta.

“Ben kapok, ben masyarakat ngirit listrik...” gitu pemahaman saya saaat baca berita tentang pemadaman bergilir ini.

Senja itu, saya masih terkungkung di sesaknya metromini paling ngetop se-dunia. Metromini 69. Melamun adalah pekerjaan paling enak di metromini. Tapi jangan sampe tidur. Kalo tertidur, bisa-bisa dompet, hape bahkan kolor sampeyan bisa raib.

Dompet meski ndak ada duitnya kalo raib pasti njengkelin, apalagi biasanya KTP ada di dalamnya. Ngurus lagi repotnya pake banget deh. Kalo yang raib hape meski ndak ada pulsanya juga bikin mumet. Nomer-nomer penting (terutama gebetan gelap) bisa ilang. Bayangkan kalo mau SMS-an tapi nomernya lupa. Nah, kalo benda paling pribadi berupa kolor sampeyan yang raib (meski agak mustahil) ini juga repot. Bisa-bisa sampeyan turun dari bis kota dengan perasaan aneh campur semriwing.

Kembali ke suasana senja di metromini itu. Bagi yang hapal rute Jakarta pasti paham kalo sepanjang jalan layang Pasar Kebayoran Lama hingga perempatan Seskoal tiap hari selalu macet. Demikian pula saat itu. Metromini tua itu hanya sanggup merayap di tengah padatnya kendaraan.

Melamun tetap pekerjaan paling asyik (jika tidak ada pemandangan aduhai dalam bis). Tiba-tiba lamunan para penumpang terusik dengan suara dering hape dari deretan bangku paling belakang.

“Halo... iya...” suara lelaki ini terdengar nyaring tapi tak merdu.

“.......”

“Oh ya kenapa? Iya tadi SMS bilang susah ngerjain PR-nya ya?”

“.......”

“Ehmmm, coba Bapak bicara...!!”

“.......”

“Halo, Bapak lagi di bis Nak, jalannya macet, gimana?!”

“.......”

“Coba... coba deh... Bapak dibacain...!!!”

“.......”

“Iya berapa? Satu... dikurangi satu seperempat ditambah tiga perempat... ditambah berapa?!”

“.......”

“Aduh ulangi Nak... Satu dikurangi satu seperempat ditambah tiga perempat ditambah dua seperempat dikurangi.... ahhh... batere Bapak low batt lagi... aduh...!!!”
“.......”

“Eh ya susah itu Nak, harus pakai kalkulator...”

“.......”

“Iya coba kamu... tut.. tut...ah...!!!” dan sepertinya hape si Bapak itu benar-benar mati karena low batt.

Betapa kasihan nasib si anak yang sedang menunggu bapaknya pulang. Namun, saya ndak mau menuduh bila si Bapak sengaja mematikan hape dengan alasan low batt. Meski soal matematika itu terdengar njelimet baginya, pasti si Bapak berharap metromini segera membawanya pulang. Ah, saya jadi melamun lagi. (wku)

Read more »

BBM

BBM kembali jadi Buah Bibir Masyarakat. Membayangkan kenaikan yang bakal mengerek harga-harga kebutuhan lain bagi saya Benar-Benar Merinding. Nah, daripada mikirin tapi Bikin Bete Melulu, simaklah daftar singkatan BBM versi BBm (Bikinan Belummandi) berikut ini:
  1. Bikin Bini Mencak-mencak
  2. Bikin Babe Manyun
  3. Bikin Biaya Membengkak
  4. Bikin Bingung Mbokku
  5. Bikin Bokek Melulu
  6. Bikin Bakso Mahal
  7. Bikin Banci Meratap
  8. Bikin Babi Mengepet
  9. Bini Baru Merana
  10. Bensin Bikin Masalah
  11. Boro-Boro Makan
  12. Bingung Beli Makan
  13. Benar-Benar Mumet
  14. Boros Biaya Mudik
  15. Babak Belur Menanti
Ada usulan lain? (wku)

Read more »

"Aku Ndak Bahagia.."

“Aku benar-benar ndak bahagia…”

“Kenapa?”

“Tidak ada kehangatan, bahkan kebangkitan yang rutin digembar-gemborkan… ah semua… semua gagal maning…”

“Tidak bisa bangkit ya? Apa sudah dicoba ramuan madura? Bandrex? Jamu Sido Mecungul? Biar rosa-rosa…”

“Ah… obat atau jamu itu ibarat subsidi, kalo ndak pake itu ya loyo lagi… lagi-lagi loyo…”

“Berarti harus olahraga donk biar otot-otot terlatih, biar kuat berjam-jam, tahan lama, siap lembur, pantang kendur…”

“Ndak ada waktu buat olahraga, ndak ada semangat ke situ… malu kalo inget Piala Thomas ndak bisa diraih lagi, SEA Games udah ndak berdaya… apalagi sepakbola, keok terus… ah….”

“Wah sepertinya parah nih kalo ndak bisa bangkit-bangkit gitu, gimana mau penetrasi? Gimana mau enak? Wah mesti butuh duit banyak nih…”

“Duit? Aku ini sebenarnya kaya… tapi anak-anakku… mereka suka nilep seenak udelnya sendiri, kalau sudah gitu aku terpaksa ngutang sama orang luar… udah numpuk… buat cucu pun terancam ndak ada warisan…”

“Kok bisa gitu ya, gak adil ini, pasti ada yang salah… kenapa ada anak-anakmu yang tega nilep duit gitu, inget donk anak-anakmu yang lain, yang selalu jadi korban…”

“Aku selalu inget, tapi mereka memang selalu jadi korban, ya karena mereka kalah pinter dan selalu dipinterin anak-anakku yang lain… dicurangi… sekolah ndak maju-maju…”

“Kalo di sekolah gak pinter pasti gizinya kurang, kasih makan yang enak donk…”

“Enak? Boro-boro, mau beli saja mesti mikir-mikir, pasar sudah dikuasai orang ndak bener, harga-harga selalu naik, bahkan cabe rawit aja bisa lebih mahal dari tempe gembus… gimana ndak puyeng toh?”

“Kok bisa gitu? Bukannya anakmu yang kaya juga banyak? Tuh liat saja gedung-gedung tinggi mewah ber-AC, mobil-mobil mewah di jalanan malah bisa bikin macet, belum lagi yang suka belanja ke luar negeri…”

“Ah, entahlah… apa memang aku yang ndak bisa adil atau memang keadaan sudah terlanjur begini… ah seandainya kebangkitan itu ndak cuma terucap setahun sekali… tentu aku bisa bahagia…”

Ibu Pertiwi, di usianya yang telah cukup renta ia merindukan kebangkitan. Bukan kebangkrutan karena ketidakadilan dan saling sikut di antara anak-anaknya. Setelah 100 tahun, Kebangkitan Nasional semakin lama semakin tak terjamah. Ibu Pertiwi benar-benar rindu, inginkan kebahagiaannya. Wajar bila sang ibu curhat. Ia benar-benar kecewa. Ia menangis melihat ulah anak-anaknya. (wku)

Read more »

Selamat Jalan Bung...

Suatu hari di perempatan Senen, Jakarta, di bawah kolong jembatan layang terlihat sekelompok orang berkerumun. Saya yang mengamatinya dari dalam bus transjakarta yang sedang berhenti karena lampu merah, memastikan bahwa kerumunan orang itu sedang melakukan aktivitas pengambilan gambar untuk sinetron atau film. Kesimpulan ini bisa ditarik dari peralatan yang mereka bawa: lampu dan kamera tampak menonjol.

Dan ketika bus transjakarta membawa saya melintas, tampak sosok yang begitu terkenal tengah duduk tersandar di dinding kaki jembatan dengan terengah-engah. Sepertinya ia tengah memerankan orang yang tengah mengalami musibah di jalanan itu. Ia dikerumuni orang-orang yang kelihatannya sedang menolong. Dan orang itu sangat saya kenal wajahnya: Sophan Sophiaan.

Beberapa bulan kemudian, saya melihat di televisi sebuah cuplikan adegan yang saya pernah lihat langsung itu. Ternyata salah satu adegan film LOVE yang hingga kini saya belum pernah tonton.

Beberapa waktu kemudian, saya begitu tersentak saat mendengar seorang Sophan Sophiaan meninggal karena kecelakaan sewaktu konvoi motor gede (moge). Seorang aktor, seorang tokoh politik, seorang ayah dan seorang suami yang di mata publik menjadi panutan, kini telah berpulang.

Mungkin ia belum atau tidak pernah akan membaca postingan di blog ini sebelumnya tentang kritik terhadap konvoi moge itu. Saya bahkan tidak akan bisa mengira jika konvoi itu akhirnya menjadi perjalanan terakhir Sophan Sophiaan. Selamat jalan Bung Sophan. (wku)

Read more »

Ngeblog?

Susah-susah gampang jugak menularkan virus ngeblog kepada orang lain. Ada yang merespons: “Blog? Blog M maksod loe?” ada juga yang cuma cengengesan tanda tak mampu. Jadi rupanya blog belum menjadi salah satu kebutuhan pokok di samping sandang, pangan dan papan, dan pastinya tidak mungkin lah.

Jadi ketika seorang kawan dengan lumayan (hanya lumayan lho) antusias menyambut tawaran bikin blog, saya sudah merasa bahwa jagad blog berhutang budi pada saya (halah…). Maka sim-salabim, dengan tempo lumayan kilat, kawan satu itu sudah punya blog.

Ternyata bikin blog itu sangat gampang, tapi permasalahannya terletak pada updating dan pergaulan dengan bloger lain. Nah, itu dia pusingnya. Kawan saya mengeluh. Blognya sepi meski sudah dilabeli merek yang cukup meresahkan: KAMARMESRA.

“Makanya gaul donk… beredar donk… nulis yang najong donk…” itulah saran-saran saya yang menjerumuskan.

Tapi tetep saja waktu berlalu dan dagangannya kurang laku. Mungkin karena dia belum bisa tega meninggalkan dunia friendster yang begitu membelenggu. Mungkin juga karena dia bukanlah seleb, jadi mau bikin blog kek, mau nulis gak jelas pun tetep gak banyak yang minat.

Sempat pula terbersit usulan merger dengan blog ini, tapi jelas itu ide buruk karena berpotensi menimbulkan keresahan berkepanjangan. Bayangkan hasil merger dua blog ini akan menghasilkan judul yang sama sekali kurang pantes seperti, KAMARMANDI, atau BELUMMESRA, atau MANDIMESRA, atau KAMARMANDIMESRA atau bahkan BELUMMESRASUDAHKEKAMARMANDI.

Wah, tentu saya yang rugi kalo gitu. Bisa-bisa langsung kejerat pasal-pasal tertentu.

Akhirnya, inilah langkah kecil saya ikut membantu memperkenalkan blognya. Meski belum tentu jugak bisa membuatnya rame. Ah, itung-itung hadiah ulang tahun bagi kawan itu. Jangan lupa makan-makan yak. (wku)


Read more »

Konvoi Itu Deh

Saya memang ndak (atau belum) mudeng jadi orang kaya raya. Jadi saat baca di sebuah situs berita kalo kemarin sampe tanggal 20 Mei mendatang ada konvoi keliling Jawa dengan motor gede (moge), terus terang rada tersungging juga (beda kalo tersinggung lho).

Gimana ndak tersungging, lha wong bentar lagi harga BBM bakal naik, eh ternyata ada kelompok orang yang dengan suka rela hambur-hambur BBM. Tapi yang jelas saya ndak tersinggung (beda dengan tersungging lho), karena konvoi moge itu selama ini selalu diniatkan baik, konon selalu ada acara amal di tiap daerah yang mereka kunjungi. Kali ini konvoi besar-besaran itu dimaksudkan untuk menumbuhkan cinta tanah air dengan melewati rute-rute kota bersejarah.

Saya memang ndak (atau belum) mudeng jadi orang kaya raya. Jadi ketika perkiraan ribuan liter BBM menguap hanya untuk konvoi, saya bahkan ndak bisa ngitung seandainya jumlah BBM yang menguap itu disumbangkan ke tukang ojek, bajaj sampai supir angkot, berapakah potensi jumlah keluarga yang bakal tersenyum bahagia karenanya?

Saya memang ndak (atau belum) mudeng jadi orang kaya raya. Jadi ndak tahu bagaimana rasanya mengendarai moge itu. Apalagi kalo kayak di film-film barat, sambil mboncengin cewek seksi, wawww… Dipastikan yang punya moge adalah orang yang ndak pusing lagi mikirin duit. Kalo orang itu masih bisa pusing, biasanya beli Supra Fit dengan cara kredit tentu sudah cukup.

Selama ini, setahu saya, kalo pas lagi konvoi, moge pasti bisa bikin kendaraan lain minggir. Nah, kalo di sepanjang rute yang katanya hingga 1.908 kilo meter ini semua kendaraan lain yang berpapasan pasti menepi, saya ndak bisa ngitung juga berapa waktu yang terbuang bagi “penonton” konvoi itu. Lebih mumet lagi kalo ngitung berapa tambahan BBM yang terbuang percuma gara-gara banyak kendaraan berhenti kemudian ngegas berangkat lagi yang tentu (katanya ding…) butuh pembakaran lagi.

Sekali lagi, saya memang ndak (atau belum) mudeng jadi orang kaya raya. Jadi kalo sampeyan punya moge trus tersinggung baca postingan ndak jelas ini saya malah bakal tersungging lagi. Setidaknya saya ndak bakal misuh-misuh kayak beberapa orang yang tersita waktunya gara-gara ada “nguing-nguing” diikuti rombongan motor gede-gede lagi lewat, ngebut pula. Ahhh… (wku)

Read more »

Buat Sandra Dewi

Buatmu Nduk,

Nduk, cah ayu, piye toh sampeyan iki? Baru saja nge-blog kok sekarang malah nyuekin aku. Tiap kali aku koment ke blog kamu, eh.... ndak pernah dibalas. Bahkan sekedar nengok balik ke blog-ku yang difitnah orang selalu bau ini pun, kamu ndak sudi.

Aduh, bagaimana lagi aku mesti ngambil hati kamu Nduk...??? Jangan mentang-mentang kamu ini seleb, sedangkan aku lebih mirip salep, trus kamu nyuekin aku.

Nduk Sandra... aku sebenarnya rela kalo sampeyan lebih ngetop dari aku. Tapi... mbok ya sekali-sekali tetep nengok ke sini lah. Aku paham kalo blog kamu yang warnanya mirip permen itu selalu dipenuhi koment-koment dari fans yang kesengsem berat sama kamu. Kamu pasti sibuk karenanya. Tapi sekali lagi... tengoklah aku Nduk...

Aku janji ndak bakalan norak kalo kamu tengok. Aku ndak bakalan pamer-pamer ke orang lain kalo kamu koment ke blogku. Meski aku bakalan ngeprint koment itu trus aku laminating biar awet. Nduk... mau ya??? (wku)

Read more »

Koran Jakarta

Penasaran yang terpendam akhirnya tersalurkan. Puassss..??? Belum begitu.

Setelah beberapa waktu lalu ada di koran-koran ngetop muncul iklan bakal terbit Koran Jakarta, baru sekarang saya sempat beli en baca.

Tapi agak heran juga, dengan label “Jakarta” kok malah lebih banyak isu nasionalnya daripada lokal Jakarta. Ndak tahu lah, mungkin ini sudah kebijakan mereka, yang jelas pembaca kini makin dikasih banyak pilihan koran di pasaran. Jadi kalo mau pilih koran, kini tergantung selera sampeyan saja.

Mau baca politik? Hampir semua koran memuatnya.

Mau baca gosip? Tentu sampeyan lebih paham milih media yang mana.

Mau baca olahraga? Koran khusus olahraga juga sudah ada lho.

Mau baca esek-esek? Nah ini dia, gampang kok nyari di tiap perempatan jalan.

Sekedar ngasih info saja, mumpung masih baru, kalo sampeyan niat nyari kerja di media, banyak lho lowongan di Koran Jakarta. Dari reporter, wartawan foto, redaktur koresponden daerah sampai bidang-bidang yang lain, info lebih lanjut browsing aja sendiri deh pake google. Sengaja saya berbaik hati berpromosi dan ngasih info lowongan itung-itung ikut membantu mengurangi pengangguran yang katanya bakal naik 17 persen (halah... sok mulia). (wku)

Read more »

Skenario

Pemerintah mengisyaratkan harga BBM bakal naik lagi. Menurut koran, demi meminimalkan dampak, sejumlah skenario perubahan harga berkisar 20 persen hingga 30 persen tengah disiapkan beserta kebijakan pelengkapnya. Jadi gampangnya gini, pemerintah tinggal milih salah satu dari skenario itu yang dianggap bisa diterima luas dan ndak timbul gejolak (asmara) di antara kita.

Tapi bisa dipastikan, berapapun skenario kenaikan harga BBM, ujung-ujungnya harga-harga lain ikutan naik. BBM belum naik saja harga koran KOMPOS sudah naik jadi 3500 dari 2900. Tambah mumet aku. Maka dari itu sodara-sodara, sebagai warga negara yang ndak suka protes di jalan, lebih baik saya menyiapken diri dengan skenario-skenario versi saya untuk jaga-jaga di saat BBM benar-benar naik dan harga-harga jadi ndak keruan.

1. Pengiritan Transportasi
Sebenarnya saya sudah nyoba ngirit dengan tidak pake mobil dan motor pribadi (padahal emang ndak kuat belinya). Tapi sekarang saya coba aja dengan ndak usah terbujuk rayuan tukang ojek, tukang bajaj apalagi taksi karena lebih berat di ongkos daripada kopaja en metromini. Biar bisa putus hubungan dengan tukang ojek yang suka morotin kantong caranya hanya satu, bangun lebih pagi berangkat lebih pagi biar ke kantor ndak buru-buru.

2. Cari Penghasilan Sampingan
BBM naik tapi pendapatan stagnan, bahaya ini. Solusinya nyari duit di luar jam kantor. Tapi sampe sekarang belom terbayang mau bisnis atau kerja apaan lagi. Ada temen yang usul supaya saya memanfaatkan ketampanan untuk memikat ibu-ibu dan tante-tante kaya yang kesepian di malam hari. Halah, meski duitnya mengalir deras tapi kalau disuruh lembur semaleman gitu trus paginya ngantor, ujung-ujungnya kerjaan pokok jadi terganggu. Dengan stamina yang terkuras mata saya pasti ngantuk dan cara jalan jadi kayak orang kena bisul! Oh, tolong..

3. Stop Ngemil
Anggaran untuk ngemil selama ini seolah tak terbatas. Ndak cuma buat diri sendiri tapi juga buat orang lain biar dikira baik hati. Nah, biasanya jika BBM naik, yang paling cepet ngikutin adalah harga makanan. Kalo sudah begini saya rela dianggap pelit karena ndak mau beli cemilan lagi. Saya rela ndak disanjung-sanjung orang (terutama cewek manis) gara-gara ndak suka nraktir lagi.

4. Goodbye Bioskop
Inilah akibatnya kalo satu jenis usaha hampir-hampir ndak ada saingannya. Hampir di tiap mal adanya bioskop yang mereknya berupa nomor,jadinya harga tiket ya gitu itu, bikin bangkrut kalo sok baik mbayarin orang se-RT nonton AAC. Nah, jika BBM naik, saya pun rela dianggapketinggalan jaman gara-gara ndak tau aksi kuntilanak atau pocong versi baru. Tapi saya ndak rela banget kalo gara-gara lama ndak ke bioskop, lalu saya dijemput suster ngesot yang dateng ke rumah.

“Piye masss.... lama ndak nonton bioskop... ayo saya jempuuutt....”

“Waaaaa!!!!!”

Solusi biar kejadian itu ndak terjadi adalah kebijakan pemerintah menggalakkan layar tancep dengan film-film terbaru. Hal ini juga bakalan menggusur industri film bajakan yang makin marak.

5. Stop Ngenet
Inilah skenario paling sulit sebagai kaum elit (ekonomi sulit). Gara-gara pindah ngantor, akses internet belum terjamin. Kalo gini kelangsungan hidup blog ini juga bakal terancam. Ke warnet tiap hari jelas-jelas bukan ide cerdas jika untuk beli susu saja ndak cukup (maklum saya suka nyusu). Nah, semoga ini ndak terjadi, saya pasti berdoa untuk itu (wku)

Read more »

Ciumlah Daku, Kau Kutendang!

Pernah nonton film “Never Been Kissed”? Atau pernah denger ada film judulnya “Buruan Cium Gue”? Kalo yang judul lokal ini dulu pernah dilarang tayang gara-gara terkesan “nafsuin” banget. Sedangkan “Never Been Kissed” dengan bintang Drew Barrymore intinya soal pengalaman ciuman yang begitu didamba seorang cewek, tapi susah banget kesampaian.

Lepas dari bener ndak bener, pantes ndak pantes, kata "cium" oleh sebagian orang selalu direspons dengan bayangan yang serba uenak, terasa maknyuss dan kira-kira semriwing. Dalam film-film, biasanya adegan "sun-sunan" biasanya digambarkan dengan suasana yang bisa bikin merinding (apalagi kalo yang nge-sun kuntilanak dalam film horor-horoan lokal).

Padahal kata “cium” ndak jarang bisa sangat jauh dari kata “mesra”. Jauhnya pun ndak kira-kira, lihat saja di koran kayak “Pos Kotang” atau koran-koran yang warnanya merah, kata “cium” hampir setiap hari ada dengan beragam maknanya.

“Tronton Nyium Sedan, Abis Itu Nubruk Pos Polisi, Untung Pak Polisi Cuma Lecet-Lecet.”

“Bini Dicium Tetangga, Golok Ikut Bicara”

“Kepergok Nyium Murid, Guru SMP Didemo Para Ortu”

Nah, ternyata ciuman yang katanya “berjuta rasanya” bisa juga berakibat buruk. Bahkan kini kata “cium” sudah menjadi senjata mematikan yang lebih dahsyat dari pisau belati. Hal ini terbukti saat tempo hari saya (yang jelek ini) menikmati suasana susah harian, yakni naik metromini.

Angkutan murah meriah nan merana ini selalu saja menjadi ladang mencari rupiah oleh para pengamen, pedagang asongan, pengemis hingga copet. Hari itu, dari Melawai, metromini 69 “rata bangku” (ini istilah jika kursi semua penuh) tapi ndak ada yang berdiri. Jadi pengamen sangar dengan lengan penuh tato itu tampak leluasa berdiri di dekat pintu untuk menguasai audiences.

Sekali genjreng,ketahuan kalo teknik gitarnya 1000 tingkat di bawah Ian Antono. Lalu, pada tarikan bait pertama lagunya, jelas-jelas ketauan kalo Ian Kasela masih terlalu di awang-awang baginya (padahal Ian Kasela ndak ada apa-apanya dibanding saya tentunya).

Pendek kata, performance pengamen itu buruk, karena yang kedengaran cuma suara "bindeng" alias sengau aneh sehingga kata "cinta" jadi terdengar "ssheeesfftaaaa". Sori, tapi ini bukan maksud menghina tapi juri Indonesian Idol akan terkena demam akut bila mendengar suara orang itu.

Entah berapa lagu yang ia dendangkan (dendang? maksod lo?). Sepertinya satu lagu serasa satu kaset bolak-balik. Maka ketika orang itu gerak-geriknya kelihatan telah mengakhiri “demo album”-nya, seketika itu juga sejumlah penumpang yang dari awal diam tegang penuh kewaspadaan tanpa dikomando seperti kompak menghela nafas panjang tanda kelegaan.

Hanya sampai di situ? Ternyata belom sodara-sodara. Ketegangan di metromini 69 kembali merebak ketika sang pengamen berorasi menjelang ia meminta uang.

“Fokoknya aya minta uang berapa sazhaa, mashak shekedar receh sazhaa titak funya!”

“Fokonya aya minta! Khalo titak mau zangan shalahkan aya khalo khalian aya zium”

Demi mendengar kata “zium” para penumpang langsung berkesimpulan bahwa kata itu sama dengan “cium” Maka lagi-lagi secara serentak hampir semua penumpang melakukan aksi rogoh kocek di saku masing-masing. Saya yang duduk paling belakang hanya senyum kecut melihat adegan agak konyol ini. Lalu meski tadinya ndak berniat ngasih upah atas lagu “kaleng pecah”nya itu, terpaksa saya pun merogoh recehan di kantong. Ancaman “cium” benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Ndak cuma cewek yang jijay dengan ancaman itu. Kehormatan seorang pria pun terancam ternoda jika disosor pengamen ndak jelas bentuknya itu.

Inilah bukti jika “cium” bisa bermakna beda sekaligus bisa diselewengkan oleh berbagai kepentingan. Tapi andaikan saja seorang Cinta Laura ngamen di metromini dengan lagu hits keduanya setelah “So Why or a Jump You” (Suwe Ora Jamu-red), yakni “Man a You K Two Chuck Row Wow” (Manuke Cucak Rawa-red), lalu apakah yang akan terjadi jika dia ngancam “nyium” penumpang jika ndak ngasih receh? Ah, saya ndak berani mbayangin itu. (wku)

Read more »