Kadang heran juga melihat blog-blog lain yang hampir setiap hari bisa update. Kok bisa ya? Saya memprediksi mereka itu sudah termasuk kalangan top markotop. Pekerjaannya tiap hari dibekali komputer canggih dan koneksi internet tanpa pernah putus.
Mereka juga pasti termasuk kalangan dengan otak-otak encer yang dengan briliannya sanggup mengikuti bahkan mendahului trend teknologi informasi yang duilee cepetnya. Liat saja blog mereka nempel segala macam asesories yang di sekolahan umum gak diajarin memahaminya.
Saya juga mesti kagum dengan mereka yang punya blog dan selalu update dengan tulisan-tulisan berbobot, saking berbobotnya dengan begitu mbludak comment, hingga susah dibuka oleh komputer saya yang lemot. Wah saya benar-benar iri… tapi ndak dendam lho. Ini masih dalam tataran iri yang positip (dan bukan positip hamil).
Jelas-jelas saya sempat merenung dan merasa prihatin dengan kondisi blog ini yang sering dihina dina (hanya oleh dina lho) bahwa blog ini emang pantas dimandiin dan dikubur dalam-dalam. Wah jelas-jelas hal yang mengkhawatirkan. Bayangkan bagaimana jadinya arwah blog ini nantinya bakal menghantui setiap nama yang tercantum di daftar link. Bayangkan pula bagaimana girangnya Punjabi bersaudara yang bakal bersorak gembira karena dapet ide film horror terbaru dengan alternatif judul yang beragam: “Setan Blog” atau “Blogger Ngesot” atau “Hantu Belummandi” atau “Bangkitnya Pocong Belummandi”.
Wah bagi saya bayangan gila itu bukanlah hal positip (lagi-lagi bukan positip hamil lo…). Bagi saya semangat positip (bukaaan hamilll…!!!) yang benar adalah semangat ingin kembali berkibar di dunia persilatan blog. Dan pasti sampeyan ada yang tertawa ngakak cenderung sinis dengan ngomong semacam ini:
“Haha… kembali berkibar bagaimana? Emangnya pernah berkibar? Haha… celana dalam kalee… berkibar… “
Nah, itulah. Untuk memperpanjang nafas blog ini ndak perlu sampe dibawa ke Mak Erot atau cucu-cucunya. Cukup saya menyemangati diri sendiri bahwa dengan rajin ngeblog sama saja dengan rajin sit-up, rajin sit-up berarti perut terjaga dari melar ke mana-mana. Malu donk sama Dian Sastro idolaku (halah…).
Namun, satu hal yang mesti dipikirkan. Kapan saya bisa punya waktu ngeblog yo? Bayangin aja kerja di kota metropolitan semacam Jakarta ini benar-benar mengubah saya jadi macam budak belian (tapi bukan budak napsu.. ups). Berangkat kerja jam 7 pagi pulang jam 9 malam. Sampe rumah sudah teler karena macet. Di kantor meski dipersilakan make komputer plus internet, tapi tetep aja susah nyuri-nyuri waktu nulis-nulis gak penting macam ini. Beda kalo nyuri-nyuri pandang. Dan saya berpikir apakah kelak nyuri-nyuri waktu dan nyuri-nyuri pandang di kantor bisa dimasukkan pasal korupsi yang berhak diusut oleh KPK?
Saya bahkan sempat curiga dan berprasangka buruk bahwa kebanyakan blog-blog yang rajin update dari kantor pasti orangnya gak rajin kerja. Ups… maap… sori… jangan ada yang tersinggung. Itu kan kesimpulannya orang geblek lagi teler, ngapain didengerin?
Lagi-lagi saya ingin ambil sisi positipnya saja (ah kok positip terus hasilnya?). Kuncinya pasti manajemen waktu ya? (asem tenan istilahnya: manajemen waktu…). Nah ini dia! (pasti sampeyan inget Pos Kota). Saya ingin belajar dari sampeyan-sampeyan, gimana sih bisa rajin ngeblog tanpa mengganggu kerjaan? Gimana sih mencintai blog tanpa harus melupakan kekasih? (Eh sayang, cintaku, jangan mikir yang macem-macem yah…). Kayaknya perlu dibikin seminar tuh.
Kembali ke blog. Jelas-jelas hampir semua isi di blog ini tulisannya ngawur dan hancur. Tapi kenapa kalo lama ndak nulis kayak gitu serasa kayak dah lama ndak makan sate kambing? Mungkinkah ada sesuatu kelak yang bakal menggiring perjalanan nasibku gara-gara blog? (sumpah… susah banget mikirin kalimatnya…).
Sebagai penutup, ijinkan saya meminta maaf pada rekan-rekan sesama pengeblog (blogger maksudnya…), yang kayaknya lama banget ndak disatroni pengeblog kayak saya. Akhir kata, terima kasih, gitu aja. (wku)
Read more »