Tempo hari seorang rekan berbaik hati menraktir saya dan teman-teman di sebuah lesehan dengan menu serba goreng. Di warung tenda pinggir jalan di Kota Solo tersebut tersedia menu daging ayam, bebek, gurami, kakap, belanak, dorang dll.
Segala macam jenis makanan dan minuman tertera rapi di daftar menu. Namun, saya dan seorang teman tiba-tiba terbelalak ketika melihat satu jenis makanan yang tak tertera dalam daftar menu tetapi secara menyolok tergantung di gerobak sang penjual. Dialah PETAI, si biangnya bau.
Secara otomatis kami berdua kompak untuk memesan petai goreng sebagai teman menyantap ayam goreng. Keputusan tidak populer tersebut keruan saja langsung menuai protes para kontestan makan bareng lainnya. Namun, anjing menggonggong petai tetap datang.
Sepertinya saya dan teman saya merasakan suatu nostalgia, sama-sama tidak merasakan ke-eksotisan petai selama beberapa tahun. Jadi kesempatan langka menikmati kembali buah "antagonis" ini tak bisa kami lewatkan.
Seorang rekan lain menolak mentah-mentah ketika saya tawari untuk mencicipi. Padahal dia mengaku belum pernah sekali pun memakan petai.
Dari sini bisa disimpulkan ternyata petai and friend, termasuk jengkol, selama ini hanya menjadi korban opini publik bahwa mereka tidak pantas dimakan karena bau. Alasan yang menggelikan sebab petai tidak lebih bau dibandingkan, misalnya, dengan durian yang jelas-jelas bisa membuat perut saya tersiksa gara-gara baunya.
Petai selama ini hanya menjadi kambing hitam dan dianggap sebagai makanan udik yang menjijikkan. Lain soal jika mereka yang menyatakan tidak doyan petai karena, paling tidak, pernah memakannya dan merasa enggak nikmat. Namun, jika menjilat saja belum pernah kok bilang "tak sudi", wah... belum tahu dia...
Anyway... selera orang memang berbeda-beda, tapi janganlah mengucilkan petai dan juga sepupunya, jengkol. Cobalah Anda sedikit meluangkan waktu untuk mencicipi sepiring nasi putih pulen berlauk ayam goreng, ditambah sedikit lalapan dan tentu saja sambel mentah petai goreng. Hmmm... tak kenal maka tak kenyang. (wku)
Segala macam jenis makanan dan minuman tertera rapi di daftar menu. Namun, saya dan seorang teman tiba-tiba terbelalak ketika melihat satu jenis makanan yang tak tertera dalam daftar menu tetapi secara menyolok tergantung di gerobak sang penjual. Dialah PETAI, si biangnya bau.
Secara otomatis kami berdua kompak untuk memesan petai goreng sebagai teman menyantap ayam goreng. Keputusan tidak populer tersebut keruan saja langsung menuai protes para kontestan makan bareng lainnya. Namun, anjing menggonggong petai tetap datang.
Sepertinya saya dan teman saya merasakan suatu nostalgia, sama-sama tidak merasakan ke-eksotisan petai selama beberapa tahun. Jadi kesempatan langka menikmati kembali buah "antagonis" ini tak bisa kami lewatkan.
Seorang rekan lain menolak mentah-mentah ketika saya tawari untuk mencicipi. Padahal dia mengaku belum pernah sekali pun memakan petai.
Dari sini bisa disimpulkan ternyata petai and friend, termasuk jengkol, selama ini hanya menjadi korban opini publik bahwa mereka tidak pantas dimakan karena bau. Alasan yang menggelikan sebab petai tidak lebih bau dibandingkan, misalnya, dengan durian yang jelas-jelas bisa membuat perut saya tersiksa gara-gara baunya.
Petai selama ini hanya menjadi kambing hitam dan dianggap sebagai makanan udik yang menjijikkan. Lain soal jika mereka yang menyatakan tidak doyan petai karena, paling tidak, pernah memakannya dan merasa enggak nikmat. Namun, jika menjilat saja belum pernah kok bilang "tak sudi", wah... belum tahu dia...
Anyway... selera orang memang berbeda-beda, tapi janganlah mengucilkan petai dan juga sepupunya, jengkol. Cobalah Anda sedikit meluangkan waktu untuk mencicipi sepiring nasi putih pulen berlauk ayam goreng, ditambah sedikit lalapan dan tentu saja sambel mentah petai goreng. Hmmm... tak kenal maka tak kenyang. (wku)



