Gagal Maning

Gagal maning, gagal maning... Tim nasional Indonesia akhirnya terpuruk di tangan Myanmar dengan skor 2-1 pada laga final Merdeka Games di Shah Alam, Malaysia. Meskipun cuma berlabel turnamen persahabatan yang konon hanya dijadikan ajang seleksi pemain Timnas Indonesia guna menghadapi Piala Asia 2007, kegagalan ini tetap harus disesali.

Sudah terlalu lama Timnas kita tak mampu meraih gelar apapun. Ajang Merdeka Games yang hanya diikuti empat tim, Malaysia, Thailand, Myanmar dan Indonesia seharusnya merupakan event termudah untuk mengangkat trofi. Eh, di tangan underdog Myanmar pun kita kandas.

Lihatlah kekuatan Myanmar yang sebagian besar pemainnya berusia muda, beda dengan tim kita yang banyak dihuni pemain senior. Pada masa silam, Timnas kita sudah biasa menekuk Myanmar dengan skor telak 6-0 dan sebagainya, namun beberapa tahun belakangan kita tak pernah mampu menang atas Myanmar.

Kekuatan sepakbola di Asia Tenggara semakin merata dan meningkat. Bila Myanmar bisa, kenapa kita mesti terus terpuruk? Bangkitlah Indonesia..!! (wku)

Read more »

Pluto "Dipecat"!!

Planet Pluto dipecat! Lho?! Mulai Kamis (24/8) lalu, status Pluto sebagai bagian dari tata surya kita diturunkan menjadi “planet kerdil” bukan lagi sebagai planet yang sesuai dengan definisi yang ditentukan.

Dalam Sidang Umum Himpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) Ke-26 di Praha, Republik Ceska, pekan lalu, mengeluarkan resolusi tentang definisi baru planet. Berdasarkan resolusi tersebut, sebuah benda langit bisa disebut planet apabila memenuhi tiga tiga syarat, yakni mengorbit matahari, berukuran cukup besar sehingga mampu mempertahankan bentuk bulat, dan memiliki jalur orbit yang jelas dan bersih alias tidak ada benda langit lain di orbit tersebut.

Pluto, sebagai planet terjauh, ternyata tak mampu memenuhi kriteria syarat ketiga sehingga mesti menerima kenyataan “terbuang” dari delapan planet besar lainnya. “Planet kerdil” atau “dwarf planets” adalah keluarga baru Pluto. Keluarga ini beranggotakan Pluto dan benda-benda langit lain di tata surya yang mirip dengan Pluto, termasuk di dalamnya asteroid terbesar Ceres, satelit Pluto, Charon, dan beberapa benda langit lain yang baru saja ditemukan.

Keputusan penting dalam sejarah dunia kita ini memang cukup mengejutkan. Paling tidak, sebagian besar warga dunia telah terbiasa sejak kecil menyebut Pluto sebagai planet. Letaknya yang paling jauh serta sebutan sebagai "Si Bungsu" membuat Pluto lebih ngetop dan menjadi favorit banyak orang, termasuk saya.

Menyebut Pluto juga bisa teringat sesosok karakter anjing “gokil” ciptaan Walt Disney yang sering berpetualang bersama Mickey Mouse dan Goofy. Tak heran bila nama Pluto lebih akrab di telinga orang.

Ilmu pengetahuan memang mesti berkembang dengan segala penemuan-penemuan barunya. Intinya adalah mencari suatu kebenaran. Yah, semoga saja keputusan “memecat” Pluto bukanlah suatu keputusan yang gegabah dan salah.

Kini, bayangkan betapa repotnya merevisi buku-buku pelajaran, ensiklopedia, kamus di seluruh dunia gara-gara perubahan status Pluto. Mari berandai-andai jika saja ada semacam polling SMS ala Indonesian Idol tentang apakah perlu Pluto dikeluarkan sebagai planet, bisa saja sebagian besar orang akan mendukung Pluto.

Ibarat klub sepakbola yang main di sebuah liga, Pluto harus terkena degradasi ke divisi di bawahnya karena performanya tak bisa mengimbangi klub lain. Semoga Pluto berbahagia di keluarga barunya. (wku/KOMPAS)

Read more »

Chatting

bla bla... bla.. bla... boring...
boring... bla... bla....
boring... boring...
bla... bla... bla...
bla... bla...
bla...
Hari yang membosankan untuk bla...bla...bla... etc.
Sekali-sekali ngerjain orang di chat room asyik juga kali...
jejaka_lugu: hi
gue: yup
jejaka_lugu: yes
gue: what? asl?
jejaka_lugu: m 19
gue: ohhh...
jejaka_lugu: ur asl
gue: f 12
jejaka_lugu: r u student??
jejaka_lugu: ----------------??
gue: hehe... sory my mom is coming
gue: i got to go
jejaka_lugu: o k

Read more »

Tujuhbelasan

17 Agustus 2006, Republik Indonesia berusia 61 tahun. Padahal jika diibaratkan usia manusia, angka 61 tahun identik rawan terkena stroke atau minimal terserang kepikunan.

Entahlah, kayaknya males aja ngomongin “penyakit” negeri ini. Tapi ada baiknya cerita kecil ini saya tulis mumpung masih ada kaitannya dengan peringatan tujuhbelasan.

Alkisah di suatu kompleks perumahan, Minggu (13/8) pagi, diadakan jalan sehat bareng yang melibatkan seluruh warga dari mulai kakek-kakek, remaja hingga anak Balita. Kegiatan dengan iming-iming doorprize ini memang sengaja diadakan untuk memeriahkan tujuhbelasan.

Sekitar 150 warga telah berkumpul sejak pukul 05.30 pagi dan setelah start mereka berjalan berkeliling kompleks dengan jarak tempuh kira-kira 7 kilometer. Nah, sekitar pukul 07.00 mereka telah kembali ke tempat start semula dan mulailah pembagian doorprize.

Panitia yang seluruhnya adalah anak-anak remaja kompleks setempat, menyediakan 65 bungkus doorprize yang pembagiannya dilakukan berdasarkan nomor kupon yang telah dibagikan sebelum start. Namanya juga kegiatan tanpa sponsor, maka setiap bingkisan tak ada yang bernilai lebih dari Rp. 5.000,-. Isi bingkisan itu antara lain piring, mangkuk, sandal jepit, mie instant, sabun colek hingga pasta gigi. Tujuannya memang pemerataan dan hiburan meski dana cekak.

Satu per satu bingkisan akhirnya mulai diundi. Seorang anak kecil terlihat malu-malu sekaligus girang menerima sebuah bingkisan yang ternyata berisi sabun colek. Namun, setelah lebih separuh hadiah dibagikan, mulai ada suara-suara sumbang beredar dari mulut ke mulut.

Usut punya usut, suara sumbang itu muncul setelah sepasang suami isteri yang sudah masuk kategori kakek nenek dengan bangganya mampu membawa pulang tiga bingkisan, padahal sejak semula satu orang hanya berhak satu nomor undian. Waduh, panitia pun bingung tapi tak bisa berbuat apa-apa wong segan sama orang tua. Warga yang lain pun cuma bisa nggerundel sambil mencoba untuk maklum melihat tingkah kekanak-kanakan tersebut.

Yang repot tentu saja ibu-ibu muda yang mesti menenangkan anak-anaknya karena tak kebagian doorprize. Wah, ibu jenis ini pasti belum berpengalaman. Lihat saja seorang ibu yang lain, berkaca dari pengalaman tahun sebelumnya, si ibu ini ternyata telah menyiapkan bingkisan sendiri dari rumah untuk jaga-jaga jika si anak enggak kebagian doorprize. “Biar enggak nangis kalau enggak dapet,” hehe... boleh juga antisipasinya.

Kembali ke pasangan kakek nenek tadi, setelah berhasil “korupsi” satu nomor undian dan menang, mereka tetap cuek melenggang pulang ke rumahnya. Oalah mbah... lha kok tega-tegane toh...??!! (wku)

Read more »

Ketika Gusi Terkena Invasi

Suatu sore saya makan ceriping singkong. Uppsss... bagaikan kena pecahan kaca yang tajam, gusi di ujung rangkaian gigi paling dalam terasa ngilu dan perih.

Kata petugas di apotek, pembengkakan gusi yang saya alami bisa diatasi dengan pil Cataflam. Sebijinya Rp. 4.700,- Waduh, senilai ayam goreng di warung sebelah donk... Saya pun terpaksa ambil tiga biji.

Nggak butuh waktu lama setelah menelan pil itu, rasa nyeri ilang, tapi masih agak bengkak. Dalam dua hari itu yang bisa saya makan cuma bubur ayam, sup dan sejenisnya. Mingkem aja nggak bisa apalagi ngunyah.

Tiga hari kemudian, meski belum sembuh benar, saya mencoba makan lontong sayur. Kemudian.... whoaa... ada lontong nyasar ke "daerah konflik". Bengkak lagi deh, kali ini sakitnya luar biasa.

"Dokter... mana dokter?" Apes nian, kok sakit datangnya hari sabtu, para dokter gigi ternyata lebih milih ber-weekend-ria bareng gebetannya, kali...

Petugas apotek yang lain ngasih kapsul Nonflamin. Sekali telan kok belum reda, kalau begini mendingan lirik lagu dangdut itu diubah gini "...daripada sakit gigi, lebih baik sakit hati ini... biar tak mengapa..."

Satu jam kemudian belum ada perubahan, saya tambah lagi obat itu, "kali aja dosisnya kurang". Sepuluh menit kemudian, seolah bangun dari siuman, derita itu akhirnya menghilang. Namun, tetap aja paginya saya masih terasa aneh, serasa ada tambalan aspal di ujung gusi. Sarapannya bubur lagi... bubur lagi...

Kata seorang informan, saya mesti minum obat Amoxicilin dan Dextametozin sebagai antibiotik biar nggak kambuh lagi. Obat apa pula itu? Meski terpaksa percaya, tapi kayaknya kalau ada yang bisa bikinin ramuan tradisional ala jamu gendong saya lebih memilih minum jamu. Siapa yang tahu resepnya ya? (wku)

Read more »

Realita Nadine dan Miss Universe

Nadine Chandrawinata gagal masuk 20 besar Miss Universe 2006. Sebagian orang, terutama yang selama ini rajin mengritik, serempak “bertepuk tangan” menyambut hasil tersebut. Sebagian lagi, kali ini pendukung setia Nadine, sibuk menganalisa penyebab kekalahan “yang tak terduga” tersebut. Lalu sebagian orang yang cuek malah bertanya, “Emang Indonesia ngirimin wakil ke Miss Universe ya?”

Pro dan kontra memang selalu menyertai setiap kali Indonesia mengirimkan wakil ke ajang prestisius tersebut. Penyebab utama kontroversi adalah kontes itu identik dengan para perempuan berbikini ria. Tentu saja pengumbaran kemolekan tubuh seperti itu menjadi sensitif di tengah perdebatan pornografi dan pornoaksi di negeri ini.

Awalnya, ketika mendaftarkan diri mengikuti Putri Indonesia, Nadine pasti tidak pernah membayangkan bahwa “mahkota” yang ia idam-idamkan akan menyeretnya pada kubangan kecaman yang seolah ingin menenggelamkannya. Bahkan ia mesti dilaporkan ke kepolisian gara-gara berangkat ke Los Angeles mengikuti ajang Miss Universe.

Bisa saja kegagalan Nadine masuk 20 besar, meski ia diprediksi bisa berhasil, disebabkan pengaduan itu. Mungkin saja dewan juri tak mau ambil resiko seorang Miss Universe malah sibuk ke pengadilan daripada melakukan kegiatan sosial.

Nadine, hmm.. mungkin hanya sedikit orang yang berani secara terang-terangan mengatakan bahwa ia tidak cantik, tidak menarik dan jelek. Kata banyak orang, cantik itu relatif. Namun, di tengah penguasaan media dan iklan, rumus kecantikan tampaknya selalu berpihak kepada sosok fisik seperti Nadine.

Ketika sempat “terpeleset” dalam suatu wawancara berbahasa Inggris, kabarnya Nadine tetap cuek. Ia selalu terlihat tersenyum, bahkan ketika orang menanyakan tanggapannya tentang laporan ke pihak berwajib.

Dalam sebuah film berjudul Realita Cinta dan Rock’n Roll, Nadine terlibat di dalamnya dengan berperan sebagai seorang perempuan muda broken home yang sedang mencari jati diri bersama dua pemuda urakan yang bercita-cita menjadi musisi terkenal. Film tersebut dibuat sebelum keikutsertaan Nadine dalam ajang pemilihan Putri Indonesia.

Maka ketika selempang Putri Indonesia telah melingkar di tubuh Nadine, kritikan muncul terhadap perannya di film yang dianggap tidak pantas. Hampir di sepanjang film, tokoh yang diperankan Nadine terlihat menghisap batang rokok dan bertingkah bak perempuan penganut gaya hidup bebas. “Tabu,” itulah pendapat sebagian orang yang meyakini Putri Indonesia haruslah selalu berlaku anggun dan mengesankan.

Toh, Nadine jalan terus. Ajang Miss Universe 2006 tetap diikutinya, dan ia kembali berhadapan dengan hembusan kritikan-kritikan tajam yang siap mengoyaknya.

Ada suatu kalimat nakal yang sempat dicetak di media kaos dan dipakai oleh perempuan pemakainya sebagai bentuk unjuk diri bernada protes sekaligus agak sombong. Kalimat itu berbunyi, “Don’t Hate Me Because I’m Beautiful.”

Ternyata menjadi cantik secara lahiriah tak selamanya enak. Ada saja orang yang mencela mereka karena keadaan tersebut. Contoh paling sederhana mungkin munculnya celetukan “cantik-cantik kok bau...” Nah, kalau sudah begini mendingan jadi orang “jelek” saja biar lebih pantas dilabeli “bau”.

Ada baiknya juga Nadine tak muncul sebagai pemenang Miss Universe. Jika saja gelar tersebut melekat pada Nadine, bisa jadi seluruh dunia bakal menyoroti tingkah laku kesehariannya. Mungkin ketika Nadine sedang lahap menyantap masakan Padang, orang Barat akan nyeletuk “Miss Universe kok makan pakai tangan kosong sih? Belepotan pula...”

Sepulangnya dari ajang ratu sejagat itu, Nadine mengungkapkan akan kembali ke bangku kuliah. Gelar Putri Indonesia pun bakalan diwariskan pada pertengahan Agustus ini.

Namun, meski tak lagi menghadapi segala kewajiban sebagai orang “tercantik” se-Indonesia, Nadine barangkali mesti mengahadapi kerepotan yang baru. Pastilah semua dosen di kampusnya bakal fokus memperhatikannya. Wah, bisa-bisa setiap kali Nadine masuk kuliah, ruang kuliah bakal terus penuh, dosen-dosen pun tak bakalan telat. (wku)

Read more »