Nadine Chandrawinata gagal masuk 20 besar Miss Universe 2006. Sebagian orang, terutama yang selama ini rajin mengritik, serempak “bertepuk tangan” menyambut hasil tersebut. Sebagian lagi, kali ini pendukung setia Nadine, sibuk menganalisa penyebab kekalahan “yang tak terduga” tersebut. Lalu sebagian orang yang cuek malah bertanya, “Emang Indonesia ngirimin wakil ke Miss Universe ya?”
Pro dan kontra memang selalu menyertai setiap kali Indonesia mengirimkan wakil ke ajang prestisius tersebut. Penyebab utama kontroversi adalah kontes itu identik dengan para perempuan berbikini ria. Tentu saja pengumbaran kemolekan tubuh seperti itu menjadi sensitif di tengah perdebatan pornografi dan pornoaksi di negeri ini.
Awalnya, ketika mendaftarkan diri mengikuti Putri Indonesia, Nadine pasti tidak pernah membayangkan bahwa “mahkota” yang ia idam-idamkan akan menyeretnya pada kubangan kecaman yang seolah ingin menenggelamkannya. Bahkan ia mesti dilaporkan ke kepolisian gara-gara berangkat ke Los Angeles mengikuti ajang Miss Universe.
Bisa saja kegagalan Nadine masuk 20 besar, meski ia diprediksi bisa berhasil, disebabkan pengaduan itu. Mungkin saja dewan juri tak mau ambil resiko seorang Miss Universe malah sibuk ke pengadilan daripada melakukan kegiatan sosial.
Nadine, hmm.. mungkin hanya sedikit orang yang berani secara terang-terangan mengatakan bahwa ia tidak cantik, tidak menarik dan jelek. Kata banyak orang, cantik itu relatif. Namun, di tengah penguasaan media dan iklan, rumus kecantikan tampaknya selalu berpihak kepada sosok fisik seperti Nadine.
Ketika sempat “terpeleset” dalam suatu wawancara berbahasa Inggris, kabarnya Nadine tetap cuek. Ia selalu terlihat tersenyum, bahkan ketika orang menanyakan tanggapannya tentang laporan ke pihak berwajib.
Dalam sebuah film berjudul Realita Cinta dan Rock’n Roll, Nadine terlibat di dalamnya dengan berperan sebagai seorang perempuan muda broken home yang sedang mencari jati diri bersama dua pemuda urakan yang bercita-cita menjadi musisi terkenal. Film tersebut dibuat sebelum keikutsertaan Nadine dalam ajang pemilihan Putri Indonesia.
Maka ketika selempang Putri Indonesia telah melingkar di tubuh Nadine, kritikan muncul terhadap perannya di film yang dianggap tidak pantas. Hampir di sepanjang film, tokoh yang diperankan Nadine terlihat menghisap batang rokok dan bertingkah bak perempuan penganut gaya hidup bebas. “Tabu,” itulah pendapat sebagian orang yang meyakini Putri Indonesia haruslah selalu berlaku anggun dan mengesankan.
Toh, Nadine jalan terus. Ajang Miss Universe 2006 tetap diikutinya, dan ia kembali berhadapan dengan hembusan kritikan-kritikan tajam yang siap mengoyaknya.
Ada suatu kalimat nakal yang sempat dicetak di media kaos dan dipakai oleh perempuan pemakainya sebagai bentuk unjuk diri bernada protes sekaligus agak sombong. Kalimat itu berbunyi, “Don’t Hate Me Because I’m Beautiful.”
Ternyata menjadi cantik secara lahiriah tak selamanya enak. Ada saja orang yang mencela mereka karena keadaan tersebut. Contoh paling sederhana mungkin munculnya celetukan “cantik-cantik kok bau...” Nah, kalau sudah begini mendingan jadi orang “jelek” saja biar lebih pantas dilabeli “bau”.
Ada baiknya juga Nadine tak muncul sebagai pemenang Miss Universe. Jika saja gelar tersebut melekat pada Nadine, bisa jadi seluruh dunia bakal menyoroti tingkah laku kesehariannya. Mungkin ketika Nadine sedang lahap menyantap masakan Padang, orang Barat akan nyeletuk “Miss Universe kok makan pakai tangan kosong sih? Belepotan pula...”
Sepulangnya dari ajang ratu sejagat itu, Nadine mengungkapkan akan kembali ke bangku kuliah. Gelar Putri Indonesia pun bakalan diwariskan pada pertengahan Agustus ini.
Namun, meski tak lagi menghadapi segala kewajiban sebagai orang “tercantik” se-Indonesia, Nadine barangkali mesti mengahadapi kerepotan yang baru. Pastilah semua dosen di kampusnya bakal fokus memperhatikannya. Wah, bisa-bisa setiap kali Nadine masuk kuliah, ruang kuliah bakal terus penuh, dosen-dosen pun tak bakalan telat. (wku)
Read more »