Jiwa Besar Zidane

Akhirnya, ucapan bernada provokasi yang memicu Zinedine Zidane mengakhiri karier secara tragis, hanya akan menjadi penantian selamanya. FIFA telah mengetuk palu hukuman larangan tiga pertandingan yang dikonversi kerja sosial bagi Zidane. Sementara Marco Materazzi “cukup” menerima skorsing dua pertandingan ditambah denda 5.000 franc swiss.

Keputusan memang harus diambil untuk menghukum dua pemain tersebut. Namun, publik sepakbola di seantero jagat sampai kini masih terlibat perdebatan tentang apa yang diucapkan Materazzi hingga membuat Zidane naik darah dan melancarkan sundulan “mautnya”.

Di hadapan FIFA, Zidane ternyata tak mengatakan secara terus terang substansi makian Materazzi. Padahal, bisa jadi hukuman lebih berat bakal menghampiri Materazzi jika saja Zidane memberi kesaksian bahwa sang bek Italia tersebut benar-benar melakukan pelecehan rasial.

Apa yang Materazzi ucapkan tetap menjadi misteri. Tindakan Zidane yang menyembunyikan kata-kata rivalnya telah menyelamatkan perjalanan karier Materazzi yang telah menginjak usia senja, 32.

Mengapa Zidane seolah “berkorban” untuk lawan? Bukankah ia bisa dengan mudah melakukan balas dendam dengan memojokkan Materazzi di hadapan sidang FIFA, sehingga sang lawan bisa dihukum minimal dua tahun yang sekaligus bisa menghabisi kiprahnya di lapangan hijau?

Sebelumnya, Materazzi telah menyampaikan permintaan maaf terhadap Zidane sekaligus mendukung gelar pemain terbaik Piala Dunia 2006 yang disandang Zidane. Entah tindakan Materazzi berpengaruh terhadap keputusan FIFA atau tidak, tetapi sepertinya penyelesaian tersebut bisa diterima masing-masing pihak.

Sikap Zidane ini sekaligus menunjukkan bahwa sebenarnya ia adalah manusia berjiwa besar. Ia bisa saja seketika memberontak ketika harga dirinya disinggung. Namun, di sisi lain ia adalah seorang pemaaf dan juga tak ragu meminta maaf jika tindakannya salah. Zidane adalah pahlawan sesungguhnya dan segala hujatan tak pantas lagi ditujukan kepadanya.

Sungguh beruntung Materazzi, perannya dalam Piala Dunia 2006 akan selalu membuat namanya diingat orang. Ia pun mesti berterima kasih kepada Zidane atas “jasanya” membuat dirinya terkapar di lapangan tapi kemudian berkibar di benak orang. (wku)

Read more »

Romantisme Warung hik...

Kehidupan malam tak selamanya identik dengan dugem alias dunia gemerlap. Setidaknya hal ini berlaku di daerah Yogyakarta dan Jateng, khususnya Solo. Tengoklah di sudut-sudut kota ini, sangat mudah menemukan orang-orang duduk berkumpul di bangku kayu panjang atau sekedar lesehan di tikar.

Warung angkringan, tempat mereka nongkrong, biasa disebut juga warung hik. Sedangkan di Yogyakarta sering juga disebut dengan istilah warung koboi. Menurut riwayat, istilah hik berasal dari kata hidangan istimewa kampung, dan konsep warung ini konon berasal dari Klaten, daerah yang terletak di antara Solo dan Yogyakarta.

Banyak orang beranggapan, makan di warung hik bukan untuk memanjakan perut, tetapi mencari romantisme malam. Tanyalah orang-orang yang biasa ngangkring atau nge-hik setiap malam, apa yang mereka cari? Sekedar ngobrol dengan teman atau bahkan ikut bergabung dengan “forum” dadakan yang biasanya menggulirkan tema-tema yang sedang hot, tak kalah hot dengan kopi jahe yang mereka nikmati.

Ketika musim Pilkada tiba, orang-orang di warung hik dengan tanpa beban bisa mencaci maki salah satu calon atau bahkan memuji-muji calon lain karena telah memberi sejumlah “angpao”. Ketika musim pertandingan Piala Dunia, bisa-bisa televisi milik pemilik hik diusung ke warung sekedar untuk memfasilitasi para penggila bola.

Menu wajib di warung hik adalah nasi kucing. Disebut nasi kucing karena karena nasi berlauk sambal dan potongan kecil daging bandeng atau teri yang dibungkus seukuran kepalan tangan orang dewasa ini lebih “pantas” untuk menu kucing peliharaan.

Setidaknya menurut penulis, perbedaan warung hik di Solo dan Yogyakarta terletak pada cita rasa nasi kucing. Banyak warung di Solo yang memasak nasi sendiri dan menjaganya untuk tetap hangat dan “pulen” sepanjang malam. Sedangkan di Yogya, kebanyakan warung hanya menerima titipan nasi kucing yang tak se-pulen nasi kucing Solo.

Lauk-pauk yang disediakan juga beragam, mula dari tempe goreng, sate usus, bakwan, tahu bacem hingga burung puyuh. Biasanya pengunjung akan minta lauk tersebut dibakar terlebih dulu.

Ada dua kelas warung hik yang beredar di Solo. Pertama, hik tradisional, banyak terdapat di sudut kampung atau kawasan kos mahasiswa, seperti kebanyakan yang terdapat di Yogyakarta. Kedua, adalah kelas tongkrongan “bergengsi”, kelas ini tentu saja memasang tarif yang bahkan tak ada bedanya dengan rumah makan permanen.

Kelas kedua ini biasanya terletak di pusat-pusat kota seperti di kawasan Manahan, Kottabarat, dan Solo Baru. Pengunjung yang datang juga tak tanggung-tanggung, lebih banyak orang bermobil dengan dandanan layaknya pergi ke kafe. Sangat kontras ketika di sudut-sudut kampung atau di kawasan kampus yang banyak anak kosnya, warung hik boleh dibayar kredit alias ngutang. Jenis hik tradisional inilah yang selama ini lebih dikenal sebagai primadona orang-orang berkantung cekak.

Namun, suasana kekeluargaan di warung hik tradisional lebih terasa kental. Di kawasan kampus UNS Solo, terdapat warung hik yang cukup dikenal, bukan karena menu yang disajikan tetapi lebih karena sang pemilik yang eksentrik. Yono, begitulah nama pemilik hik tersebut, sudah bertahun-tahun menempati lahan di belakang kampus setiap malam.

Hampir setiap orang yang sering mampir ke hik-nya mengenal karakternya yang mampu menjadikan obrolan di warung hik menjadi gayeng dan akrab. Gaya bicaranya blak-blakan, kadang kritis, namun menggelitik. Bahkan tak segan-segan ia berteriak menyanyikan potongan sebuah lagu secara tiba-tiba ketika pengunjungnya kehabisan kata-kata.

Itulah romantisme warung hik, dan setiap warung pasti menawarkan keunikan tersendiri. Hidangan Istimewa Kampung memang istimewa... (wku)

Read more »

Lebih Asyik Nonton di Rumah

Selama Piala Dunia 2006 berlangsung, saya lebih banyak di depan televisi memelototi pertandingan seorang diri. Dari babak penyisihan hingga perebutan tempat ketiga, kesempatan saya menonton bersama orang lain bisa dibilang lebih sedikit dibanding saat menikmati ala orang jomblo.

Alasannya, saya hanya seorang diri di rumah dan tak setiap pertandingan menarik di mata teman-teman saya. Mereka lebih memilih untuk tidur jika bukan tim favoritnya, karena pagi hari mesti bekerja.

Namun, saya dan teman-teman telah bersepakat saat partai final akan menonton bareng alias nonbar di sebuah hotel berbintang sekedar mencari atmosfer yang berbeda sekaligus mengharap kebagian doorprize.

Setelah membayar sekian rupiah untuk selembar tiket masuk, kami tentu saja mengharapkan ketegangan yang tak kami dapatkan saat nonton di rumah. Layar lebar dan suasana ruang nonbar di hotel itu memang sangat menjanjikan tontonan menarik. Ratusan penonton pun memadati ruangan dengan antusiasme tinggi.

Sayang seribu sayang, akhirnya kekecewaan mesti dibawa pulang. Bukan karena Perancis kalah, tetapi karena suasana sepakbola tak terjadi pada gelaran nonbar tersebut. Panitia terlalu semangat “ngasih” hiburan dengan band Top 40 dan dance-dance yang tak ada hubungannya dengan sepakbola. Sampai-sampai kami hanya bisa membaca gerak bibir para komentator di layar lebar karena volumenya di-mute saat para penyanyi dan penari lokal beraksi.

Padahal bagi penikmat sepakbola seperti kami, ulasan teknik, taktik dan strategi di lapangan sangatlah penting meski kadang sang komentator ngomongnya ngaco. Sampai-sampai menjelang kick-off babak pertama, band masih memainkan lagunya dan kami para penonton bola sejati mesti berteriak-teriak meminta mereka berhenti menyanyi.

Lebih dongkol lagi ketika jeda setengah pertandingan, panitia malah bagi-bagi doorprize yang tak pernah kami dapatkan. Jelas saja perhatian terhadap tayangan ulang moment-moment penting babak pertama lewat begitu saja.

RUGI BANDAR! KAPOK! Ternyata nonbar di hotel atau kafe bukan tempat yang cocok bagi kami. Nonton sendiri di rumah bukanlah kiamat, karena kita bisa menikmati sepakbola dengan penuh penghayatan.

Saran buat Anda:

  1. “Jika memang Anda pecinta bola sejati nontonlah di stadion kalau memungkinkan. Jika tidak bisa, lebih baik nonton di rumah sendiri atau bareng-bareng. Pastikan tak ada hal-hal yang bisa mengganggu kenikmatan menonton seperti gangguan untuk pindah ke channel sinetron.”
  2. “Kalau ingin nonton bareng, lebih baik gabung dengan orang-orang di warung atau poskamling di kampung, dijamin gak ada gangguan “hiburan” yang basi, malah ada sisi emosi yang bermain karena pasti ada taruhan, hehe...”
  3. “Lupakan kafe atau hotel! Mereka hanya ingin mengeruk untung dan biasanya lebih banyak penggemar bola “kagetan” yang ikut nonton.”
  4. “Nonton sendirian di kamar akan sangat membantu jika tim jagoan kita kalah. Segera matikan televisi dan tidurlah, maka Anda akan segera melupakan kekalahan tersebut.”
  5. “Pastikan pulsa hape Anda cukup jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk membalas SMS ejekan terhadap tim Anda atau jika Anda berniat menghina kekalahan tim jagoan teman Anda.”

Piala Dunia 2006 telah berakhir. Segeralah bersiap untuk final Liga Indonesia, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Champions, Piala Asia, Piala Eropa, Piala Dunia 2010 dan Liga-liga yang lain. (wku)

Read more »

Saat Zidane Marah...

Zinedine Zidane mengakhiri kariernya secara menyedihkan. Tandukan mautnya ke dada Marco Materazzi berbuah kartu merah sekaligus merontokkan moral Perancis hingga kalah adu penalti dari Italia.

"Apa yang ada dalam pikiranmu Zizou?" pertanyaan ini hampir dinantikan jawabannya oleh setiap orang yang menyaksikan final Piala Dunia 2006 lalu.

Materazzi telah mengaku bahwa ia mengejek Zizou karena dianggap arogan. Namun, cukupkah alasan untuk dimengerti bahwa seorang pemain sekaliber Zizou mudah terpancing emosi dan melakukan hal tersebut?

Orang-orang Perancis saat ini bukannya sulit untuk menerima kenyataan bahwa timnya talah gagal meraih juara dunia. Namun, yang lebih sulit adalah menjelaskan kepada anak-anak mereka yang mengidolai Zizou mengapa sang idola bisa berlaku seperti itu.

Sama sulitnya ketika saya harus menjawab pertanyaan ibu saya kenapa Zidane kok bisa cepat marah ya?

Waduh Bu, saya juga enggak habis pikir kok bisa begitu ya...?? Tapi yang pasti apapun alasannya pastilah suatu alasan manusiawi. Zidane juga manusia kok... bisa marah dan tersinggung juga. (wku)

Read more »

Gelar Tak Resmi

Perhelatan pesta sepakbola terakbar. Piala Dunia 2006 baru saja usai. Bintang-bintang baru bermunculan karena kehebatan mereka membela timnya. Namun, tahukah anda ternyata ada “gelar tak resmi” bagi beberapa pemain berdasarkan nama mereka? Berikut ini adalah pemegang “gelar” tersebut,

1. Kiper Paling Cekatan. Meski hanya menjadi kiper kedua Perancis, Gregory COPET dianggap memiliki kecepatan tangan bak seorang copet, refleks yang mematikan lawan.


2. Bek Paling Haus Gol. Sesuai nama aslinya, pemain belakang Iran, Yahya GOLmohamadi memang haus gol. Sebuah gol dicetaknya sewaktu melawan Meksiko.

3. Pemain Paling Gaya. Ternyata Nuno PERLENTE dari Portugal sanggup mengalahkan David Beckham dalam hal penampilan.

4. Pemain Paling Tak Beruntung. Kekalahan lewat adu penalti yang diderita Swiss dari Ukraina, disinyalir akibat pengaruh Johan TOGEL yang suka berjudi.


5. Pemain Paling Serba Bisa. Selain sebagai pesepakbola, striker Ghana, Razak PINGPONG ternyata jago bermain tenis meja.


6. Pemain Paling Patriotis. Sebelum turnamen bergulir pemain-pemain Angola mengancam mogok jika tuntutan honor dan bonus tak dipenuhi. Namun, striker Emanuel TAKDIBAYAR rela tidak menerima bayaran apapun demi negaranya.


7. Pemain Paling Hebat Menggoyang Bola. Mungkin karena pernah belajar goyang dari Dewi Persik maka pemain Belanda, Robin Van PERSIK sangat jago menggoyang bola di lapangan.


8. Pemain Paling Lucu. Pemain Australia ini juga pernah belajar di Indonesia bersama pelawak Kiwil, makanya Harry KIWIL sanggup membuat penonton tertawa.

9. Pemain Paling Dingin di Kotak Penalti. Tak salah jika striker Jerman, KULKAS Podolski menjadi bintang muda yang bersinar. Ia begitu dingin bak kulkas jika berada di kotak penalti lawan.

Haha... (gelar tersebut adalah rekaan semata, jika ada kesamaan nama dan kejadian, hanyalah kebetulan semata). (wku)

Read more »