Keputusan memang harus diambil untuk menghukum dua pemain tersebut. Namun, publik sepakbola di seantero jagat sampai kini masih terlibat perdebatan tentang apa yang diucapkan Materazzi hingga membuat Zidane naik darah dan melancarkan sundulan “mautnya”.
Di hadapan FIFA, Zidane ternyata tak mengatakan secara terus terang substansi makian Materazzi. Padahal, bisa jadi hukuman lebih berat bakal menghampiri Materazzi jika saja Zidane memberi kesaksian bahwa sang bek Italia tersebut benar-benar melakukan pelecehan rasial.
Apa yang Materazzi ucapkan tetap menjadi misteri. Tindakan Zidane yang menyembunyikan kata-kata rivalnya telah menyelamatkan perjalanan karier Materazzi yang telah menginjak usia senja, 32.
Mengapa Zidane seolah “berkorban” untuk lawan? Bukankah ia bisa dengan mudah melakukan balas dendam dengan memojokkan Materazzi di hadapan sidang FIFA, sehingga sang lawan bisa dihukum minimal dua tahun yang sekaligus bisa menghabisi kiprahnya di lapangan hijau?
Sebelumnya, Materazzi telah menyampaikan permintaan maaf terhadap Zidane sekaligus mendukung gelar pemain terbaik Piala Dunia 2006 yang disandang Zidane. Entah tindakan Materazzi berpengaruh terhadap keputusan FIFA atau tidak, tetapi sepertinya penyelesaian tersebut bisa diterima masing-masing pihak.
Sikap Zidane ini sekaligus menunjukkan bahwa sebenarnya ia adalah manusia berjiwa besar. Ia bisa saja seketika memberontak ketika harga dirinya disinggung. Namun, di sisi lain ia adalah seorang pemaaf dan juga tak ragu meminta maaf jika tindakannya salah. Zidane adalah pahlawan sesungguhnya dan segala hujatan tak pantas lagi ditujukan kepadanya.
Sungguh beruntung Materazzi, perannya dalam Piala Dunia 2006 akan selalu membuat namanya diingat orang. Ia pun mesti berterima kasih kepada Zidane atas “jasanya” membuat dirinya terkapar di lapangan tapi kemudian berkibar di benak orang. (wku)

