Gosip

Percayakah anda bila Mayangsari tengah hamil? Benarkah pula kabar tempo hari yang memojokkan Cut Memey sebagai pelaku pelet? Semua berita berbumbu gosip itu bersumber dari infotainment. Sebuah fenomena pemberitaan masa kini yang menyorot kehidupan para artis luar dalam.

Bila dihitung, ragam tayangan infotainment di televisi bisa mencapai 26 judul. Bahkan dari pagi hingga malam hari, bila anda tidak merasa bosan, bisa menikmati suguhan berita yang diulang-ulang tentang gosip si anu atau kasus perceraian si itu.

Suatu kali, wajah Anjasmara tampak kuyu dan dari mulutnya keluar pernyataan bahwa ia lelah dikejar-kejar wartawan infotainment. Seorang artis lain mengeluh karena aib keluarganya dibuka lebar-lebar hingga ke urusan ranjang. Jika ditengok dari sisi kemanusiaan bahwa artis juga manusia yang memiliki privacy, tentu sejumlah pemirsa akan mengelus dadanya dan mengutuk “kreativitas” media yang begitu saja memasuki wilayah pribadi seseorang.

Namun, pembelaan pihak televisi selalu saja mengedepankan argumen bahwa masyarakat berhak mendapatkan informasi seputar selebritis idolanya. Artis telah menjadi milik publik, begitu pula alur cerita kehidupannya.

Faktanya, infotainment selalu menjadi tayangan paling ditunggu-tunggu oleh sebagian pemirsanya. Gosip yang sedang hot akan menjadi bahan perbincangan di kalangan ibu-ibu, karyawan, mahasiswa hingga anak-anak sekolah.

Infotainment memang telah menjadi bagian hidup masyarakat kita. Kebiasaan bergunjing, bergosip dan membicarakan aib pribadi orang lain akan terus berlangsung. Selama pengelola stasiun televisi negeri ini masih lebih berorientasi pada bisnis sedangkan fungsi sosial dan pendidikan terabaikan, maka mulut, mata dan telinga kita senantiasa akan lebih terlatih menanggapi gosip.

Selamat untuk kehamilan Mayangsari ya... hehe... (wku)

Read more »

Don't Cry Inul


Sang Ratu Ngebor kembali digoyang Raja Dangdut. Kali ini di rumah wakil rakyat, Rhoma Irama sebagai penguasa kerajaan dangdut seolah menghakimi eksistensi Inul sebagai penggoyang pantat.

Kontroversi goyang Inul dan Anissa Bahar sebagai lokomotif ‘penggoyang pantat’ memang mudah dijadikan sasaran empuk terkait dengan pornografi dan pornoaksi. Pro dan kontra seolah tak pernah selesai, tetapi fakta di lapangan, terutama di panggung-panggung kelas bawah, goyangan yang oleh Bang Haji dianggap sebagai pemicu birahi, hampir selalu ada.

Suatu pertunjukan dangdut kelas kampung tak bakalan ramai tanpa goyangan hot yang diiringi tatapan nakal sang biduan. Sebagian penonton pun merasa tak asyik bergoyang tanpa penghangat tubuh, yakni beberapa tenggak minuman keras.

Lalu, apakah harus Inul semata yang harus dipermalukan di depan umum sedangkan ‘oknum-oknum’ penggoyang dan ‘penikmat goyang’ di kelas bawah masih bebas ‘memutar pantat’?

Ironisnya, tak jarang sebuah pertunjukan ‘full goyang’ di beberapa daerah disponsori oleh ‘penikmat goyang’ berlabel pejabat dan tokoh masyarakat setempat. Hiburan murah meriah bagi rakyat, itulah kenyataan yang tak bisa dipungkiri.

Ketika goyang ngebor Inul dan goyang patah-patah Anisa Bahar muncul di televisi, seolah sudut pengambilan gambar kamera terfokus sedemikian rupa ke bagian pantat dan sasaran aduhai lainnya. Mungkin inilah yang membuat Rhoma Irama berkeringat dingin melihatnya.

Jadi ketika ada media bernama televisi yang menayangkannya, kenapa mesti harus Inul yang jadi sasaran tembak? Kenapa Bang Haji tidak protes ke stasiun televisi yang ‘menyorot’ lekuk tubuh sang penyanyi sehingga muncul kesan porno?

Toh, kalau tidak ada suatu media yang mengeksploitasi berbagai macam goyangan, maka publik pun tak akan teracuni dengan interpretasi macam-macam.

Inul juga manusiaaa.... (wku)

Read more »