Boleh dibilang saat ini peta jajanan malam Kota Solo berpusat di kawasan Kotabarat, tapi coba tengok ke Sriwedari tepatnya di ruas Jalan Bhayangkara. Geliat pedagang kaki lima di sepanjang jalan depan kompleks Stadion R Maladi mulai menggugah selera warga Solo untuk menyempatkan malamnya dengan sajian berbagai makanan.
Malam itu sekitar pukul 21.00 di depan deretan warung-warung nampak ramai jajaran mobil berbagai merk dan puluhan sepeda motor menandakan banyaknya pemburu makanan yang sedang manyatroni targetnya.
Uniknya dari sepuluh warung kaki lima yang biasa mangkal di sana, hampir tak ada yang menjajakan jenis makanan yang sama.
Dari mulai warung milik Bu Pur di pojok utara ruas jalan sebelah timur yang mengandalkan soto dan gudeg, berturut-turut ke arah selatan ada susu segar Gower, martabak Puspasari, King’s Burger, Sea Food Bersaudara, ayam & bebek goreng Mbak Eni, serta warung bestik Pak Darmo. Sedangkan di ruas jalan sebelah barat hanya ditempati sebuah warung hik, wedangan Zenuk’s dan primadona makanan kawasan itu yakni bakmie Pak Jarno Koki Cilik.
Boleh dibilang kawasan ini mengakomodasi berbagai macam selera orang dari mulai lidah lokal hingga selera barat.
“Sebenarnya saya membuka warung burger ini demi alasan praktis dan mudah saja, ternyata banyak orang yang suka,” tukas pemilik King’s Burger, Kusuma ketika ditemui penulis Kamis (16/6) malam.
“Saya mulai buka di kawasan ini sejak tahun 2000, nomor dua setelah warung susu segar Gower,” lanjut pria bertubuh tambun lulusan Arsitektur UNS tahun 1998 ini.
Memang sejarah mulai ramainya Jalan Bhayangkara diawali oleh susu segar Gower tahun 1999. Andi, 27, sang pemilik, mengatakan bahwa dengan modal awal Rp 900.000 ia nekad membuka usaha susu segar dengan menempati area trotoar sepanjang lima meter. Kini usahanya mengalami kemajuan pesat dengan tempat sepanjang 25 meter.
Pelayanan pun ditingkatkan dengan memperkerjakan enam orang karyawan yang menurut Andi sudah digaji sesuai Upah Minimum Regional (UMR).
“Kami selalu mengakomodasi saran dan kritik pelanggan tentang bagaimana pelayanan kami, jadinya kami mampu berkembang seperti ini,” ujar Andi yang malam itu nampak rapi dengan kemeja lengan pendek kotak-kotak warna putih dan celana jeans biru.
“Setelah melihat kami laris, beberapa pedagang mulai tertarik untuk berjualan di kawasan ini,” tuturnya dengan senyum bangga.
Malam itu di warung Gower memang ramai pengunjung yang silih berganti datang dan pergi. Mayoritas pelanggan Gower adalah kaum muda yang menurut Andi memang mempunyai selera tinggi terhadap menu yang ia sajikan. Dengan harga yang termasuk murah, di warung Gower tersedia bermacam jenis minuman susu, roti bakar, pisang bakar hingga mie instant.
Rata-rata tiap malamnya Andi menerima 50 pembeli, belum termasuk malam minggu yang pastinya lebih ramai dari hari biasa.
Suasana ramai juga terdapat di warung Mbak Eni yang mengandalkan menu bebek dan ayam goreng. Dengan dibantu dua orang anaknya, ibu berusia 48 tahun ini telah berjualan di kawasan itu sejak tahun 2001. Menurutnya, warungnya masih kalah ramai dibanding warung bakmie Pak Jarno di seberang jalan.
“Warung Pak Jarno paling ramai di daerah sini, tapi malam ini mereka sedang libur,” tuturnya.
Menurutnya pedagang di jalan itu mulai berjualan sekitar pukul 17.00 hingga pukul 24.00 WIB. “Tapi mulai jam sepuluh malam biasanya sudah mulai sepi,” katanya sambil memandang sekelompok pria yang sedang menyantap bebek goreng di lesehan miliknya.
Keramaian kawasan Jalan Bhayangkara menurut beberapa pedagang akan mampu bertahan dan meningkat apabila lahan-lahan yang masih kosong diisi oleh pedagang-pedagang baru.
Komentar hampir senada diungkapkan oleh mereka yang memperkirakan kawasan itu bakal ramai jika pedagang-pedagang di Jalan Slamet Riyadi pindah ke Bhayangkara apabila Pemkot melarang berjualan di jalan utama.
Memang Jalan Bhayangkara menyimpan potensi besar untuk menjadi surga baru bagi pemburu rasa. Namun, mungkin masih perlu beberapa tahun lagi dan tergantung dengan kebijakan yang akan diterapkan pemerintah setempat.(WKU)
(Tulisan ini dibuat bulan Juni 2005 lalu, waktu penulis masih ikut training magang wartawan di salah satu koran lokal di Solo. Gila aja, liputan malam-malam gitu ternyata mesti keluar kocek lebih dari kantong sendiri. Ya kan buat beli-beli di warung yang diinterview, lha kalau cuma nanya-nanya doank kan enggak enak. Nyatanya perut jadi kenyang, hehe...
Eh, besoknya di kantor, redaktur nyuruh ngedit tulisan ini berulang kali. Kayaknya tidak ada benernya tulisan ini. Salah mulu...
Yah maklum, namanya juga magang....)
Read more »