Gejala apakah ini??

Di sebuah warung gado-gado di sebuah sudut di belakang sebuah kampus negeri di sebuah kota bernama Solo. Hanya ada tujuh pengunjung yang bermaksud menikmati santap siang hari itu. Mereka terdiri tiga pasang muda-mudi, sedangkan seorang pemuda nampak cuek di pojok meja menghadap hidangan yang telah tersaji. Namun, ia tak segera melahapnya. Tangannya asyik memencet-mencet tombol HP terbaru stereo plus kamera. Seiring suara televisi pemilik warung yang menyala untuk menghibur pengunjung, suara dari HP "baru" itu mulai beraksi. Lagu-lagu dari Ratu, Celine Dion dan sebagainya dengan lancar dan cuek mulai mengusik telinga setiap orang di warung itu. Tetap saja sang pemilik HP tak hirau sekitarnya. Mungkin baginya menyantap makanan lebih nikmat bila diiringi musik favoritnya. Sayang, dia lupa sedang berada di mana. Dan jika memang dia sedang menikmati benda baru yang dikaguminya, mengapa orang lain dipaksa ikut "menikmatinya" pula? Apakah sang pemuda ini tak sanggup membeli headset sebagai aksesoris yang bersifat private sedangkan ia mampu membeli HP yang tergolong canggih? Oh.. gejala apakah ini??

Read more »

Playboy Indonesia? Hmm..

Sebelumnya tak pernah terbayangkan sebuah majalah “eksotis” Playboy akan terbit dalam versi Indonesia. Namun, tiba-tiba muncul kabar bahwa dedengkot media panas di dunia itu bakal segera terbit Maret mendatang di dalam negeri. Wah, sudah bisa ditebak kontroversi macam apa yang timbul.

Para tokoh agama dengan tegas menolak. Beberapa anggota DPR seolah kebakaran jenggot (pasti pura-pura deh, soalnya tidak semua anggota Dewan punya jenggot:). Namun, kabar itu juga membuat para pria “haus hiburan segar” berharap-harap cemas, bahkan konon sudah ada yang bersiap untuk berlangganan!

Walau katanya bakal terbit dengan kemasan sesuai budaya Indonesia, tetapi kontroversi pasti tak terelakkan. Bisa dibayangkan jika Maret mendatang Playboy benar-benar terbit. Bisa jadi dalam sekejap laris manis bak kacang goreng.

Semua orang bakal ingin tahu bagaimana isi edisi perdana itu. Bahkan tidak menutup kemungkinan bakal terjadi cetak ulang karena banyaknya pemesanan. Gila, memang gila. Pintar sekali orang-orang di belakang layar Playboy Indonesia. Beberapa pengamat mengatakan bahwa Playboy pintar memancing kontroversi untuk mengeruk keuntungan. Kontroversi adalah promosi gratis. Hmmm... kita tunggu saja... ;) (wku)

Read more »

"Bonyok" pun Ada di Mana-mana

Dunia hiburan lekat dengan dunia remaja. Tak bisa dipungkiri dan sebagian besar remaja memang membutuhkan hiburan seperti halnya mereka butuh makan dan tidur.

Akses termudah hiburan untuk remaja adalah televisi. Benda yang pernah disebut kotak ajaib ini dipastikan ada di hampir setiap rumah di negeri ini. Dari sinilah berbagai tontonan mulai dari sinetron, musik, film, reality show hingga infotainment silih berganti menjadi konsumsi penonton, termasuk remaja.

Dampaknya luar biasa, terutama di daerah. Dengan mudahnya mereka meniru apa yang disajikan hiburan televisi itu. Gaya hidup kota besar seolah menjadi panutan untuk meningkatkan derajat dalam pergaulan.

Tak heran, di daerah yang notabene jauh dari ibukota kini banyak terdengar ucapan “lu gue” atau “bokap-nyokap” alias “bonyok”. Gaya berpakian pun mulai terpengaruh, para remaja “kampung” merasa dirinya keren kalau membeli pakaian di distro atau factory outlet. Bukan lagi di toko pakaian biasa.

Pusat-pusat perbelanjaan yang menjamur di daerah menjadi pusat gaul untuk sekedar nongkrong di food court maupun di café. Remaja putri alias cewek masa kini tak ragu lagi mengenakan tank top ataupun pakaian ketat ala model.
Cara berpakain memang menjadi sarana identifikasi diri. Para remaja penganut aliran modern ini tak merasa menjadi korban mode. Sebaliknya (biarpun dipaksakan) cara berpakaian dan gaya hidup ala kota besar adalah kebanggaan. Jangan sampai mereka dicap “enggak gaul” oleh teman-temannya.

Wow, benarkah semua itu gara-gara televisi? Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa televisi memang memiliki dampak luar biasa terhadap gaya hidup masyarakat. Solusi yang ditawarkan biasanya disebut dengan istilah “filter”.
Filter yang bagaimana? Bisa dari pihak stasiun televisi sebagai pemilik berbagai program hiburan, penting juga filter yang datang dari dalam diri penontonnya, dalam hal ini remaja.

Daripada susah-susah membayangkan “filter” itu bentuknya seperti apa atau “filter” itu jenis makanan atau rokok, lebih baik berharap dan berdoa saja. Berharap semoga tak ada lagi sinetron dengan cerita jiplakan yang alurnya basi. Berdoa semoga stasiun televisi tak lagi latah menayangkan reality show yang lagi kondang. Tentunya juga berharap semoga infotainment tak lagi ditunggu-tunggu pemirsanya.(wku)

Read more »

CPNS, Calo dan Tukang Pel

Penerimaan CPNS di beberapa daerah dan departemen telah dimulai. Ternyata antusiasme masyarakat untuk menjadi seorang “abdi negara” masih sangat besar, bahkan mungkin semakin meningkat dari tahun ke tahun. Motivasi yang mendasari keinginan menjadi PNS disinyalir seragam, yakni mendapatkan jaminan kesejahteraan hingga pensiun. Satu hal yang jarang ditawarkan oleh pekerjaan swasta.

Tentu saja jaminan kesejahteraan pasti diincar oleh masyarakat kita yang notabene masih terkungkung berbagai hal ketidakpastian.

Lalu, apakah seleksi CPNS kali ini yang sempat tertunda-tunda, benar-benar bisa berjalan bersih dan transparan sebagaimana digembar-gemborkan oleh penyelenggaranya? Gosip alias isu tak sedap selalu muncul menuduh kotornya seleksi CPNS dari tahun ke tahun. Oknum alias calo pun telah bergentayangan mencari mangsa.

Tak usah pusing memikirkan calo. Biarkan saja kelak mereka masuk neraka.

Terkisah, seorang pemuda desa buta huruf melamar pekerjaan sebagai tukang pel WC di sebuah kantor. Namun, ia ditolak karena tidak bisa membaca dan menulis. Dengan usaha keras ia berjualan buah hingga kemudian menjadi pengusaha sukses yang kaya.

Suatu saat ia bermaksud memperluas usahanya dengan kredit bank. Ketika diminta mengisi formulir, terus terang ia mengaku tidak bisa karena buta huruf. Si pegawai bank pun bengong. “Wah, Bapak ini buta huruf saja bisa jadi pengusaha kaya raya, bayangkan jadi apa bila Bapak bisa baca tulis ya?”

Sang pengusaha dengan malu-malu menjawab. “Jadi tukang pel WC.” (wku)

Read more »

Nyaman ala Blok S

Jam menunjukkan pukul 17.00 lewat, saat itu mata saya menatap kagum deretan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Blok S, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Semua tampak rapi, seragam dengan warna gerobak, bangku dan meja yang dibuat mencolok. Memang saya bukan orang asli ibukota dan saya hanya berkunjung untuk tiga hari, tidak lebih. Jelas sekali kekaguman terhadap penataan PKL di Blok S sedikit banyak terpengaruh status “udik” yang saya bawa. Di daerah asal saya, sekitar Yogyakarta, Solo dan Semarang kelihatannya belum ada kompleks jajanan tertata seperti ini.

Banyak Pujasera dibangun di daerah, tetapi ujung-ujungnya kurang laku atau bahkan mati karena mahalnya sewa dan hilangnya ciri khas warung penyaji. Beda dengan kesan yang saya dapat di Blok S ini, dengan sajian aneka makanan yang boleh dibilang jenis yang sudah umum, tetapi nyatanya pengunjung tak henti-hentinya silih berganti datang. Dari pejalan kaki, pengendara sepeda motor, penumpang taksi, hingga pemilik mobil-mobil mewah yang tak segan mencicipi aroma rasa yang ditawarkan PKL.

Bakso Kumis, salah satu primadona rasa di kawasan itu, adalah tempat yang sengaja saya pilih. Jujur saja, saat itu pertama kali saya makan bakso semenjak isu formalin, borax dan bakso tikus mencuat. Faktanya, nafsu mengalahkan isu, tetap saja saya lahap menghabiskan semangkuk bakso tanpa sisa.

Jenis jajanan lain, dari selera lokal macam bubur ayam, soto, sate ayam hingga selera impor macam steak, sea food dan ice cream, tersedia dengan “kemasan” khasnya. Tak salah lagi, model penampungan PKL yang tertata rapi dengan kesan bersih dan higienis semacam ini mestinya dapat menjadi proyek percontohan penanganan PKL di daerah.

Masalahnya, penanganan PKL sepertinya tak semudah membalikkan telapak tangan. Ujung-ujungnya kalau tidak ada demo, penggusuran paksa kerap terjadi. Ah, itu mah urusan yang berwenang kali... saya sih inginnya makan enak, murah dan nyaman di mana saja. (wku)

Read more »

ISU

Isu pemakaian formalin dan borax untuk bahan pengawet makanan semakin surut. Hal ini seiring berbagai klaim baik dari pemerintah maupun pedagang yang menyatakan bahwa produknya bebas formalin.

Bahkan kampanye yang lebih heboh di berbagai kota untuk membuktikan bahwa formalin telah lenyap diadakan dengan bentuk antara lain makan bakso dan mie ayam gratis secara massal. Namun, benarkah formalin dan bahan berbahaya jenis lainnya telah benar-benar lenyap dari makanan yang beredar di sekitar kita?

Jawabannya : “mbuh ra ruh,” alias “kagak tahu tuh.”

Selama ini kita memasukkan makanan ke dalam tubuh kita tanpa prasangka apapun. Pasrah, asal enak di lidah dan kenyang di perut.

Kalaupun kita tidak mengalami sakit setelah mengonsumsi makanan tersebut berarti aman. Hal inilah yang berbahaya, sebab zat-zat terlarang itu tak serta merta membunuh kita, tetapi konon perlahan-lahan menggerogoti tubuh tahun demi tahun.

Dengan situasi sekarang yang mempersempit ruang gerak penggunaan formalin, lebih baik percaya pada selera saja. Kenikmatan suatu makanan terletak pada nafsu makan alias selera yang tergugah. Jadi kalau ragu-ragu maka selera bakal terganggu, ujung-ujungnya kenikmatan makan akan hilang.

Ngomong-omong, isu penggunaan air mentah atau air keran untuk membuat es batu atau es balok kok belum jadi berita menghebohkan ya? Padahal justru es batu selalu ada pada setiap warung makan hingga restoran elite. Semoga saja memang sekedar isu kecil yang tak perlu terbukti kebenarannya.(wku)

Read more »

POISON

Berbagai macam krisis yang menimpa bangsa kita mulai dari krisis sosial, politik dan ekonomi berkepanjangan sekarang ini mengundang satu pertanyaan, ke arah manakah bangsa ini berjalan?

Jawabannya susah kalau hanya dipandang dari satu sisi, sulit juga diterima jika yang menjawab memakai kacamata kuda.

Jadi lebih baik tidak usah dijawab, tetapi lihat saja.

Selama masih ada gontok-gontokan, sikut-sikutan, injak-menginjak, tentu tontotan di depan mata kita bagai sebuah film basi. Penuh trik dengan banyak adegan konyol, slapstick.

Terkisah ada seorang anak kecil yang jealous kepada adiknya yang masih bayi. Suatu malam, suatu rencana digelar. Si anak bandel dan nekat ini mengoleskan racun ke puting susu sang ibu. Namun, apa yang terjadi keesokan harinya? Ternyata sopirnya meninggal akibat keracunan. Kok bisa ya?

Read more »

Happy Birthday PSSI

75 tahun usia PSSI. Kalau ini adalah usia manusia, boleh dibilang dia telah sangat matang, paham segala macam permasalahan hidup, dan mampu berpikir dalam kerangka yang bijaksana. Namun, perjalanan hidup manusia juga tidak semuanya berjalan seideal itu. Ada orang yang semakin tua justru semakin pikun, tingkahnya kembali seperti anak-anak. Penyebabnya bisa karena penyakit, bisa juga karena selama hidupnya dihabiskan dengan perbuatan-perbuatan yang terlalu banyak merugikan orang lain hingga dirinya terkena stress.

Analogi terakhir saya kira mirip dengan kondisi PSSI sekarang. PSSI termasuk salah satu organisasi populer, fenomena yang terjadi di dalamnya seolah identik dengan makin terpuruknya mental bangsa ini. Masyarakat bisa sangat jelas menilai bahwa mayoritas pengurus adalah orang-orang yang tidak murni atau ikhlas niatnya untuk mengabdi. Materi, lagi-lagi menjadikan gelap mata. Bisa “dimaklumi” secara logika, karena kesejahteraan bangsa kita belum pada taraf aman untuk hidup layak tujuh turunan. Di organisasi lain pun praktik money politics “wajar” dilakukan. Pemilihan kepala atau ketua ini dan itu pasti tidak lepas dari uang.
Kondisi sekarang, segala sesuatunya berjalan dengan hasil yang tidak bisa memuaskan semua pihak. Segala macam kasus yang terjadi lebih pada faktor ketidakpuasan satu pihak terhadap pihak lain. Kasus seperti, berubahnya format kompetisi, sponsor yang diributkan, buruknya kinerja wasit, perkelahian pemain, hingga tawuran suporter, menunjukkan ketidakdewasaan pihak-pihak yang terlibat dalam dunia sepakbola kita. Hal ini adalah cermin bahwa mental bangsa kita sedang terganggu.

Akan sangat sulit melihat kondisi ideal dunia sepakbola yang memberikan hiburan yang menyegarkan bagi semua pihak. Selamat ulang tahun PSSI. Semoga di ulang tahun ke-85 (sepuluh tahun lagi), semuanya telah berubah. Bangsa kita menemukan kesadarannya, makin dewasa, cerdas dan mampu menghargai orang lain dengan ikhlas. Kita tunggu aksi organisasi sepakbola yang mampu memberikan kebanggaan bagi masyarakat. Organisasi yang berisi orang-orang yang tulus mengabdi.(WKU)



(Tulisan ini pernah menghiasi forum pembaca di Tabloid BOLA, tapi sori tanggal berapa bulan apa lupa. Kalau ada yang tahu tolong kasih tahu ya, atau kalau boleh klipingnya deh... maklum penulis kehilangan arsip cetaknya)

Read more »

Surga Baru Pemburu Rasa

Boleh dibilang saat ini peta jajanan malam Kota Solo berpusat di kawasan Kotabarat, tapi coba tengok ke Sriwedari tepatnya di ruas Jalan Bhayangkara. Geliat pedagang kaki lima di sepanjang jalan depan kompleks Stadion R Maladi mulai menggugah selera warga Solo untuk menyempatkan malamnya dengan sajian berbagai makanan.

Malam itu sekitar pukul 21.00 di depan deretan warung-warung nampak ramai jajaran mobil berbagai merk dan puluhan sepeda motor menandakan banyaknya pemburu makanan yang sedang manyatroni targetnya.
Uniknya dari sepuluh warung kaki lima yang biasa mangkal di sana, hampir tak ada yang menjajakan jenis makanan yang sama.

Dari mulai warung milik Bu Pur di pojok utara ruas jalan sebelah timur yang mengandalkan soto dan gudeg, berturut-turut ke arah selatan ada susu segar Gower, martabak Puspasari, King’s Burger, Sea Food Bersaudara, ayam & bebek goreng Mbak Eni, serta warung bestik Pak Darmo. Sedangkan di ruas jalan sebelah barat hanya ditempati sebuah warung hik, wedangan Zenuk’s dan primadona makanan kawasan itu yakni bakmie Pak Jarno Koki Cilik.

Boleh dibilang kawasan ini mengakomodasi berbagai macam selera orang dari mulai lidah lokal hingga selera barat.

“Sebenarnya saya membuka warung burger ini demi alasan praktis dan mudah saja, ternyata banyak orang yang suka,” tukas pemilik King’s Burger, Kusuma ketika ditemui penulis Kamis (16/6) malam.

“Saya mulai buka di kawasan ini sejak tahun 2000, nomor dua setelah warung susu segar Gower,” lanjut pria bertubuh tambun lulusan Arsitektur UNS tahun 1998 ini.

Memang sejarah mulai ramainya Jalan Bhayangkara diawali oleh susu segar Gower tahun 1999. Andi, 27, sang pemilik, mengatakan bahwa dengan modal awal Rp 900.000 ia nekad membuka usaha susu segar dengan menempati area trotoar sepanjang lima meter. Kini usahanya mengalami kemajuan pesat dengan tempat sepanjang 25 meter.

Pelayanan pun ditingkatkan dengan memperkerjakan enam orang karyawan yang menurut Andi sudah digaji sesuai Upah Minimum Regional (UMR).

“Kami selalu mengakomodasi saran dan kritik pelanggan tentang bagaimana pelayanan kami, jadinya kami mampu berkembang seperti ini,” ujar Andi yang malam itu nampak rapi dengan kemeja lengan pendek kotak-kotak warna putih dan celana jeans biru.

“Setelah melihat kami laris, beberapa pedagang mulai tertarik untuk berjualan di kawasan ini,” tuturnya dengan senyum bangga.

Malam itu di warung Gower memang ramai pengunjung yang silih berganti datang dan pergi. Mayoritas pelanggan Gower adalah kaum muda yang menurut Andi memang mempunyai selera tinggi terhadap menu yang ia sajikan. Dengan harga yang termasuk murah, di warung Gower tersedia bermacam jenis minuman susu, roti bakar, pisang bakar hingga mie instant.

Rata-rata tiap malamnya Andi menerima 50 pembeli, belum termasuk malam minggu yang pastinya lebih ramai dari hari biasa.

Suasana ramai juga terdapat di warung Mbak Eni yang mengandalkan menu bebek dan ayam goreng. Dengan dibantu dua orang anaknya, ibu berusia 48 tahun ini telah berjualan di kawasan itu sejak tahun 2001. Menurutnya, warungnya masih kalah ramai dibanding warung bakmie Pak Jarno di seberang jalan.

“Warung Pak Jarno paling ramai di daerah sini, tapi malam ini mereka sedang libur,” tuturnya.

Menurutnya pedagang di jalan itu mulai berjualan sekitar pukul 17.00 hingga pukul 24.00 WIB. “Tapi mulai jam sepuluh malam biasanya sudah mulai sepi,” katanya sambil memandang sekelompok pria yang sedang menyantap bebek goreng di lesehan miliknya.

Keramaian kawasan Jalan Bhayangkara menurut beberapa pedagang akan mampu bertahan dan meningkat apabila lahan-lahan yang masih kosong diisi oleh pedagang-pedagang baru.

Komentar hampir senada diungkapkan oleh mereka yang memperkirakan kawasan itu bakal ramai jika pedagang-pedagang di Jalan Slamet Riyadi pindah ke Bhayangkara apabila Pemkot melarang berjualan di jalan utama.

Memang Jalan Bhayangkara menyimpan potensi besar untuk menjadi surga baru bagi pemburu rasa. Namun, mungkin masih perlu beberapa tahun lagi dan tergantung dengan kebijakan yang akan diterapkan pemerintah setempat.(WKU)



(Tulisan ini dibuat bulan Juni 2005 lalu, waktu penulis masih ikut training magang wartawan di salah satu koran lokal di Solo. Gila aja, liputan malam-malam gitu ternyata mesti keluar kocek lebih dari kantong sendiri. Ya kan buat beli-beli di warung yang diinterview, lha kalau cuma nanya-nanya doank kan enggak enak. Nyatanya perut jadi kenyang, hehe...
Eh, besoknya di kantor, redaktur nyuruh ngedit tulisan ini berulang kali. Kayaknya tidak ada benernya tulisan ini. Salah mulu...
Yah maklum, namanya juga magang....)

Read more »

“Liar-Liar, Politics is liar”

Dalam penelitian ilmiah yang dilakukan Glen Newey dari Britain’s University of Strathclyde, Inggris (2003), sampelnya di beberapa negara demokrasi maju, menghasilkan kesimpulan bahwa kebohongan telah menjadi bagian penting dari kehidupan politik modern.
Kebohongan kadang dianggap wajar dalam konteks tertentu. Para politisi dianggap sah melakukan kebohongan demi keamanan negara dan menekan gejolak yang mungkin timbul.
Lha, kalau kebohongan dilakukan karena suatu keharusan sebagai politisi lantas bagaimana? Bagaimana kalau seseorang yang jadi politisi lantas tidak bisa menghindar dari suatu kebohongan tersystem?
“Kelaut aja!” kata seorang pemuda pengangguran.
“God damn you!” maki seorang bule kere.
“Wah, tega-teganya ya?” ucap seorang ibu rumah tangga.
“Kampret lu!!” semprot seorang preman sangar.
“Monyong dah.. monyong..!” sebut seorang abang becak.
“Bohong dosa lho..” ucapan polos seorang bocah.
I said : “Politics is SUCK!!”

Read more »

Jangan cepet lulus deh...

“Mahasiswa adalah penjaga demokrasi.” Kalimat yang bagus rupanya, tapi apakah tepat? Memang harus diakui berbagai gerakan mahasiswa sepanjang sejarah bangsa kita telah membawa berbagai perubahan pula.
Mahasiswa sering demo? Bagus asal dengan tujuan jelas, bukan semata dibayar, ditunggangi apalagi dieksploitasi.
Sayangnya? Para politisi kita, para pejabat kita, sebagian dari mereka adalah mantan mahasiswa. Bahkan pernah berperan dalam berbagai gerakan perubahan.
Sekarang mereka diteriaki, padahal dulu teriak-teriak. Sekarang mereka korupsi padahal dulu berlagak anti korupsi.
Kepada para mahasiswa : “Janganlah cepat lulus kalau belum siap menerima kejamnya dunia, dunia yang akan mengubahmu, jadi rakus, arogan, anti sosial.”
“Jangan jadi politisi rakus alias poliTikus.”
“Jangan pernah demo kalau nanti bercita-cita jadi pejabat.”
“Politics is SUCK!!”

Read more »