Bajaj Excekutif Class


Biar cuma bajaj yang penting keren donk, modern gitu loh. Gak kalah dengan pesawat, bis atau kereta yang punya kelas eksekutif, bajaj yang ini juga berlabel: EXCEKUTIF CLASS. Nah lho, tulisannya aja ribet gitu, pasti makin keren kan...? hahaha....

Soal ongkos mah jangan takut, tetep murah tanpa harus berisik kok. Dari Sarinah ke Tanah Abang ya kira-kira sepuluh ribu bolehlah. Pakai BBG gitu lho, bukan ABG ...

Note:

BBG sama dengan Bahan Bakar Gas (ndeso kalo gak tahu...)
ABG sama dengan Atas Bawah Gatel.... :D

Read more »

Foto Copy Jualan Sembako

Foto asli milik widikurniawan

Ini jualan apaan sih sebenarnya? Judulnya 'foto copy' tapi kok sempet-sempetnya nyambi jualan sembako. Nyambi sih boleh-boleh aja, tapi jadi lucu kalau 'sembako' ditulis masuk sebagai daftar jual utama warung foto copy.

Read more »

Sedia Pohon Sebelum Banjir?

“Sedia Pohon Sebelum Banjir”. Kalimat ini terpampang di sebuah baliho besar yang dipasang di salah satu sudut Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Dua orang pejabat tinggi daerah, terlihat sedang menanam pohon sebagai bagian dari kampanye “Penanaman Satu Milyar Pohon”.

Nah, adakah yang salah dengan baliho tersebut? Salah sih sebenarnya tidak. Saya yakin jika pihak Dinas Kehutanan setempat, yang membuat baliho tersebut, memang bermaksud baik dengan kampanye yang positif. Hanya saja, menurut saya, ada yang kurang pas dengan kalimat “Sedia Pohon Sebelum Banjir”. Saya paham jika si pembuat kalimat bermaksud mengirimkan pesan pada masyarakat bahwa menanam pohon sangatlah penting supaya tidak terjadi banjir.

Namun, kalimat “Sedia Pohon Sebelum Banjiir”, yang saya yakin terinspirasi dari pepatah “Sedia Payung Sebelum Hujan”, terasa kurang tepat. Kalimat tersebut malah bermakna bahwa pohon perlu ditanam sebelum banjir terjadi. Lho, emang buat apa ya pohonnya, kalau banjir tetap terjadi? Apa korban banjir disuruh manjat pohon saat banjir datang?

Coba kita telaah pepatah “Sedia Payung Sebelum Hujan”. Kan, hujan tidak bisa dicegah gara-gara penduduk bumi pada beli payung. Hujan pasti akan datang dan payung digunakan sebagai alat melindungi diri saat hujan mengguyur.

Maka kalimat kampanye paling masuk akal kalau memang banjir akan datang adalah “Sedia Perahu Karet Sebelum Banjir”, atau “Sedia Pelampung Sebelum Banjir”. Miris, tetapi kan masuk akal dalam konteks logika kalimat.

Nah, jika memang si pembuat kalimat memang secara tulus tidak menginginkan datangnya banjir dengan cara menggalakkan penanaman pohon, maka kalimat kampanye sebaiknya diubah. Bisa menjadi, “Tanamlah Pohon Untuk Mencegah Banjir”, atau “Sedia Pohon, Cegah Banjir”. Memang alternatif yang saya sodorkan mungkin tidak menarik bila dipajang di baliho, tapi jelas lebih masuk akal dibanding “Sedia Pohon Sebelum Banjir”. Atau ada yang punya pendapat lain?

Read more »

Tips Ngeblog, Dapet BB Tanpa Antre

Antrean Blackberry di Pacific Place (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)
Mendengar berita ricuhnya antrean penjualan perdana Blackberry Bellagio di Jakarta, kemarin, membuat saya tersenyum kecut. Lha gimana? Ternyata benar adanya, bila orang Indonesia itu suka produk yang wah, bergengsi, paling pertama, tapi diskonan, hehe.

Saya yakin, sebenarnya para pengantre itu sebelumnya telah punya gadget produk RIM Kanada dengan tipe terdahulu. Atau bahkan, mereka juga sudah punya gadget ngetop berbasis Android atau semodel iPhone dan lain-lain.

Tapi, tetap saja embel-embel peluncuran perdana di Indonesia, ditambah diskon 50% membuat ngiler para gadget mania. Kalau sudah punya, pasti bangganya setengah mati. Bisa ditenteng-tenteng ke mana-mana. Plus kejadian ricuh kemarin malah menambah poin kebanggaan tersendiri.

"Nih, gue dapet BB Bellagio perdana, padahal lo tahu sendiri gimana susahnya antre..."

Nah, coba kalau sudah begitu, minta ditonjok enggak tuh?

Daripada ngantre begitu, kenapa juga kita enggak berkarya, ikut lomba ngeblog kek. Kenapa begitu? Ya, karena saya sendiri pernah memenangkan sebuah Blackberry Onyx II gara-gara ikut lomba ngeblog GoVlog-Ramadhan di vivanews.com. Sebuah pencapaian membanggakan bagi saya sendiri karena sebelumnya tidak pernah mimpi punya BB gratis. Selama ini saya sudah cukup puas dengan ponsel sederhana milik saya.

Akhir-akhir ini memang banyak lomba blog dengan hadiar menggiurkan, terutama berupa gadget merk terkenal nan mahal. Tinggal search aja di google pasti nemu kok. Atau rajin-rajinlah tengok vivanews di kanal Vlog, saat ini pun sedang ada even lomba blog dengan hadiah yang wah.

"Ah, saya kan nggak pandai menulis... mana mungkin menang," kata seseorang.

Oke, menulis terkadang menjadi pekerjaan yang susah bagi sebagian orang. Tapi kalau anda sudah mulai sering ngeblog, baik menulis atau membaca blog orang lain, niscaya anda akan menemukan ritme tersendiri bagaimana menulis blog yang enak. Saya bilang "enak" di sini, artinya tulisan anda tak perlu terikat rumus-rumus penulisan yang ribet, tapi cukup punya rasa alias enak dibaca. So, jujurlah dalam menulis blog. Biarkan jari jemari anda menari di atas keyboard untuk berbagi pengalaman yang anda alami sebagai bahan penulisan blog.

Kalau sudah begitu, maka tinggal berharap suatu ketika anda pun akan mendapat giliran memiliki Blackberry atau gadget lain tanpa harus susah-suah antre dan membayar!

Read more »

Ngeblog Berbuah BB Onyx2

Hayo tebak, mana yg Wapemred & mana yang pemenang GoVlog? :D
Pagi menjelang siang di Jakarta, Selasa (1-11-11) lalu, cuaca sungguh bersahabat. Gerimis yang sempat turun di pagi hari, membuat Jakarta tak seterik biasanya. Hari itu memang nyaman, senyaman suasana hati saya.

Sempat takjub sejenak memandang gedung tinggi itu, langkah kaki saya mantap menjejak ke tempat yang tak biasa saya masuki. Mungkin kata “ndeso” adalah paling tepat menggambarkan saya mulai deg-degan menuju lantai ke-31. Wow,tinggi banget ya…? Lebih tinggi dari pohon kelapa di kampung saya, meski ditumpuk tiga pohon sekaligus.

Saya keluar dari lift di lantai 31 dan inilah lantai di mana beragam informasi disebarluaskan ke seluruh Indonesia bahkan dunia. Saat menengok ke kiri, saya melihat tulisan besar ‘tvOne’, sedangkan di sebelah kanan saya jelas terpampang tulisan ‘Vivanews’. Nah, kantor redaksi ‘Vivanews.com’ itulah tempat tujuan saya datang ke Gedung Standard Chartered di bilangan Casablanca, Jakarta.

“Mau ketemu Mbak Galuh, mau ambil hadiah…” kata saya menjawab pertanyaan petugas yang menanyakan maksud kedatangan saya.

Tak berapa lama datanglah Mbak Galuh dari Vivanews yang selama ini menghubungi saya baik lewat email maupun telepon terkait kemenangan saya sebagai pemenang ke-2 di kompetisi blog “GoVlog-Ramadhan” yang diselenggarakan Vivanews dan XL.

“Apa kabar Mas? Kok nggak bilang kalau mau datang hari ini?” tanya Mbak Galuh.

“Lho, saya kan sudah kirim email…”

Duh, mungkin emailnya nggak nyampai lagi nih, pikir saya, dasar ndeso.

Saya kemudian harus menunggu beberapa saat karena hadiah impian saya itu harus disiapkan terlebih dahulu prosedur administrasinya.

Saya melemparkan pandangan ke ruangan besar itu. Tampak orang-orang yang ada di situ serius menatap layar komputer masing-masing. Oh, begini rupanya ‘dapur’-nya Vivanews.

Tak berapa lama datanglah sebuah kotak berisi Blackberry Onyx2 yang masih rapat disegel. Kotak yang selama ini hanya berani saya lihat saja di toko-toko tanpa berani menawar atau sekedar menanyakan harganya. Dan akhirnya kotak hitam itu saya terima langsung dari Pak Teguh, Wakil Pemimpin Redaksi (Wapemred) Vivanews! Inilah bukti nyata bahwa ngeblog juga bisa memberikan manfaat, ngeblog berbuah BB!

“Selamat ya…” ucap Pak Teguh.

“Makasih Pak, kebetulan saya belum punya BB…”

“Oh, ntar ngeblognya bisa lebih cepet pakai BB…” komentar Pak Teguh.

Yups, akhirnya BB mulai mengisi hari-hari saya. Berkat Vivanews dan XL, wong ndeso seperti saya akhirnya beranjak dari ‘stupidphone’ menuju ‘smartphone’.

“BB baru nih… asyiikk…” demikian rata-rata komentar teman saya yang mulai berinteraksi dengan saya lewat BBM.

“WOOOWWW…!” dan itulah komentar lanjutan saat tahu bahwa BB baru saya tidak pakai beli alias gratis… tisss…

Tengkyu Vivanews, tengkyu XL…

Note: 

Ingin tahu tulisan saya yang dinyatakan sebagai pemenang ke-2 "GoVlog-Ramadhan"? Ini dia link-nya... (heran... bisa-bisanya menang...? hihi....)

Read more »

Dilarang Makan dan Minum di Transjakarta Busway

“Naik apa kamu?”

“Busway…”

Sadar ndak? Kayaknya hampir delapan puluh persen orang negeri ini telanjur ikutan salah kaprah menyebut “bis transjakarta” dengan sebutan “busway”. Padahal menurut arti sebenarnya, jelas-jelas “busway” bermakna “jalan bis”. Sedangkan jenis angkutan yang dinaiki banyak orang di atas “jalan bis” itu namanya sudah disediakan: “transjakarta bus” alias dalam Bahasa Indonesia: “bis transjakarta”. Nah, demi kebenaran yang harus ditegakkan, marilah kita bersama-sama menyimak cerita berikut dengan sebutan yang bener, “bis transjakarta” bukan “busway”.

Bagi pendatang seperti saya, bis transjakarta amatlah berjasa. Udah jalurnya jelas, karena petanya gampang didapat, nyaman pula digunakan. Meski harus berdiri berdesakan, tetep saja di dalam transjakarta terasa adem tentrem. Begitu pula dari sisi keamanan lebih terjamin. Ndak ada tuh kenek yang serem (kalo agak serem mungkin ada). Pengamen pun jelas ndak mungkin naik bis ini (untuk ngamen tentunya).

Waktu itu saya mau pergi entah ke mana (lupa sih). Kalo ndak salah saya naik dari halte Dukuh Atas ke arah Pulo Gadung. Siang itu begitu terik. Nah, begitu naik ke dalam bis, rasa sejuk AC mulai terasa, apalagi penumpang tidak terlalu penuh, jadi saya bisa langsung duduk. Cukup sejuk di badan saja belumlah cukup bagi saya, tenggorokan ini pun minta dibasahi air.

“Glek.. glek… glek…” saya menenggak air (isi ulang tentunya) dari botol aqua yang saya bawa di tas ransel. Gara-gara nafas belum keatur karena baru berebutan masuk bis, ada sedikit air tumpah dari mulut. Buru-buru saya usap pake tangan.

Tapi bukan air tumpah dikit itu yang paling katrok. Sang kenek transjakarta atau istilahnya pramubus tiba-tiba menghampiri saya dengan langkah heboh. Saya berharap ia akan mengulurkan sebuah tissue untuk mengusap mulut saya yang basah. Oh betapa hebatnya pelayanan transjakarta ini. Namun, harapan tinggallah harapan. Dengan agak over acting, si mas pramu busway menegur saya.

“Maaf Mas, anda tidak boleh minum di dalam bis ini. Ada aturannya. Kalau mau minum di halte saja,” kata si mas itu sambil nunjukkin ke arah stiker bertuliskan ‘dilarang makan dan minum’ yang sebelumnya telah puluhan kali saya baca di bis jenis ini. Dan kemudian seolah dunia menjadi gelap dan terdengar pertengkaran di dalam diri ini ketika ‘otak’ menyalahkan ‘hasrat’.

‘Otak’ : “Dasar bikin malu saja, sudah tahu dari dulu kalo makan minum di bis kayak gini dilarang, eh malah nekat…”

‘Hasrat’: “Hei otak kebanyakan mikir ngeres! Itu kan salah kamu ngapain pake lupa segala?!”

Akhirnya, gara-gara otak lemot dan hasrat yang gegabah, mulut yang kena getahnya.

“Maaf mas…” gitu aja. Dua kata lebih dari cukup. Tangan pun berusaha menyembunyikan botol aqua ke dalam tas ransel.

Menit demi menit berlalu. Mata para penumpang masih saja terus mencuri pandang ke arah saya. Saya berharap mereka akan mengatakan hal yang sama di dalam hatinya: “Ganteng-ganteng kok norak…” Saya akan terima kalimat itu karena meski mengatakan norak tapi kenyataannya mereka juga mengakui kalo saya ganteng.

Dinginnya AC tak lagi saya rasakan. Seolah aura metromini yang sesak dan panas pindah ke bis transjakarta itu. Dan sebelum aura itu berubah lagi lebih parah jadi aura mobil box pengangkut ayam, maka langkah darurat pun segera saya lakukan. Turun di halte berikutnya! Meski perjalanan sebenarnya masih jauh.

Semenjak kejadian itu, saya selalu waspada mengekang hasrat minum di bis transjakarta. Dan sejauh ini selalu berhasil. Bahkan saya pernah sukses mencegah tindakan serupa (minum aqua) yang akan dilakukan oleh seorang oknum teman sekantor.

Sebut saja namanya Dewi (memang nama sebenarnya). Kami dan beberapa teman lain saat itu naik bis transjakarta koridor I (Blok M-Kota). Begitu duduk, si Dewi dengan tampang innocent tampak mengambil botol aqua dari dalam tasnya, dan…

“Eit, Wii… mau ngapain?? Ndak boleh minum di sini. Tuh baca,” saya menunjuk ke arah kaca. Tapi, lho kok kacanya bersih? Ndak ada stiker apa pun. Wah, ndak bener ini... kacau men...

“Apaan? Emangnya gak boleh? Dewi kan aus… Dewi mau minum…” protes Dewi dengan logat ganjennya, dimirip-miripkan dengan nada artis dangdut bernama serupa yang sering nongol di acara infotainment.

“Yee… dibilangin. Bikin malu saja. Aku dulu pernah ditegor keneknya tau.” Ah, terpaksa aib itu saya bongkar lagi.

“Lagian… mana aturannya?”

“Ituuu… biasanya ada stikernya… di kaca…”

“Iya Wi, jangan malu-maluin donk.” Ah, untung ada si Amy, manusia pecinta transjakarta, ikutan bersuara. Kali ini Dewi diam dan percaya. Mungkin takut sama brewok si Amy, manusia dengan nama cewek tapi berbody kekar.

Tampaknya memang belum semua manusia paham aturan dilarang ngemil dan minum di dalam bis transjakarta. Buktinya, teman lainnya, Titin, malah dengan polosnya heran kalau ada aturan seperti itu.

“Emangnya iya toh? Kok aku ndak papa padahal suka minum di busway?” tanyanya dengan logat medok khas Jogja.

Whoaa… ternyata baru ketahuan ada diskriminasi pada tindakan pelanggaran tata krama di dalam bis transjakarta. Titin saja ndak diapa-apain, lha kok saya pernah dipermalukan di depan penumpang lain?

Rasa nggonduk (baca: dongkol) kembali datang beberapa minggu berikutnya. Saya naik dari halte Sarinah menuju Blok M dan dapet duduk di kursi paling belakang yang menghadap ke depan. Tidak berapa lama, di halte Tosari naiklah sepasang pria dan perempuan yang agaknya satu kantor. Kok tahu kalo satu kantor? Ya iyalah soalnya sejak mereka masuk, suasana jadi bising gara-gara dua oknum itu ngobrolin bos-bosnya melulu. Kalau ngobrolnya duduk deketan sih ndak begitu kenceng mungkin. Lha ini, si perempuan duduk selisih satu bangku di kiri saya, sedangkan si pria berdiri sekitar dua meter dari depan kami. Jadi ngobrolnya tentu kenceng dan roaming pula. Nah, sambil ngobrol si mbak-mbak itu dengan santainya ngemil kripik singkong pedas.

“Kriuk… kriuk… hmmm… udah sono telepon aja si bos, minimal SMS kek… kriuk…kriuk…! Handphone kamu ada pulsanya kan? kriukkkk....” begitu bunyinya.

Sebenarnya aroma cemilan itu begitu menggoda. Tapi malah makin bikin jengkel saya, mengingat aturan ‘dilarang ngemil dan minum’ begitu mendarah daging pada diri ini. Dalam hati saya berharap sang kenek akan memergoki perbuatan ‘tak senonoh’ itu dan menegurnya sambil menunjuk ke arah stiker larangan (yang kali ini tertempel di kaca dengan jelas).

Namun, halte demi halte terlewati, tak sedetik pun sang kenek menengok ke arah bangku belakang dan bahkan tak sampai mendengar renyahnya kunyahan kripik keparat itu. Hingga sepasang oknum ‘tukang ngobrol tanpa malu’ itu turun di halte Bunderan Senayan, sang kenek tidak mengetahui jika wilayah kerjanya telah dinodai dengan aksi ‘kunyah kripik’.

“Sabar… sabar… bagaimanapun keadilan akan berjalan… kelak…” begitulah dalam hati saya menghibur diri sendiri.

Seandainya saja ada aturan tambahan bahwa penumpang lain berhak protes jika ada yang makan dan minum di dalam bis transjakarta tentu sayalah orang pertama yang akan melakukannya.

“Hentikan bis ini!! Saya akan turun jika dia tidak berhenti ngemil!!!”

Kapok ndak sampeyan?!










Read more »

Foto Sekretaris Hot Syahrini

Syahrini emang sesuatu banget. Kali ini muncul lagi foto-fotonya berdandan ala sekretaris seksi. Alamak, kok ehem gitu ya...


Nih, ada lagi.... cekidot....






Nah, lebih kompletnya ada di KAPANLAGI.COM

Read more »

Tragedi Gado-gado

Si abang tukang gado-gado
Udah lama gak makan gado-gado kayaknya kangen nih. So, siang tadi di tengah teriknya matahari saya pun meluncur nyari penjual gado-gado yang nongkrong di pinggir jalan. Nah, ketemu deh abang gado-gado yang ngetem di depan sebuah bank. Saya belum pernah ke sini sih, cuman kok setiap hari ngelihatnya ramai terus, jadi kepengen deh.

Setelah nunggu dua orang, akhirnya pesenan saya mulai dibuat oleh si abang.

"Yang satu makan sini Bang, yang dua bungkus, pedesss semua yak...?"

"Oke..." jawab si abang.

Siang-siang gini, makan gado-gado pedesss (pake triple "S') kayaknya menggiurkan sangat deh, hmmm... Eh, pas ngelirik ke cobek abangnya yang besar banget, dia cuma naruh tiga biji cabe ukuran sedang. Ah, keciiillll nih, pikir saya, pasti gak pedes-pedes amat. Saya sih mikirin kondisi perut juga sih sebenarnya, kebanyakan cabe biasanya jadi mules, tapi kalo cuma tiga biji mah... biasaaaa....

Gak begitu lama gado-gado pesenan saya jadi juga. Wow, menggiyuuurkan.... paduan lontong, sayur, taoge, timun, pare, dan irisan kacang panjang plus krupuk emang yahud deh.

Sesuap demi sesuap masuk ke mulut saya. Gak peduli makan di pinggir jalan besar, diliatin orang-orang yang hilir mudik pake mobil, motor dll. Dasarnya lagi laper dan nafsu, makan saya agak buru-buru, dan baru saya sadari, ternyata..... waksss.... gado-gadonya pedesssss (pake lima "S") banget !!! (pake tanda pentung tiga kali).

Wah, ini mah lombok setan yang dipakai. Tiga biji aja udah kayak sepuluh biji dengan level kepedasan standar.

"Bang, ada aqua?" tanya saya menahan pedesssss dan nahan nafas gara-gara hampir kesedak, seret nih.

"Ada.." jawab si abang, singkat dan padat.

Saya tunggu beberapa detik, hingga nembus dua menit, eh si abang yang posisinya membelakangi saya itu cuma menjawab "ada" tanpa menoleh dan terus asyik sibuk ngulek adonan gado-gado pesenan saya yang dibungkus. Padahal kan maksud saya tanya gitu supaya cepet diambilin air minum gitu loh...

Untung saya masih bisa nahan, dan saya pun lanjut lagi makan. Setelah lima suapan, kayaknya gak tahan lagi nih, maka saya kembali bersuara.

"Bang, air minum donk Bang..." pinta saya memelas.

Eh, si abangnya tetep gak noleh dan masih asyik memainkan ulegan di tangannya. Wah, kacau nih. Saya hanya mencoba menarik dalam-dalam nafas supaya rasa pedas bisa teratasi. Saya sih gak mau maksa si abang yang lagi sibuk atau teriak-teriak minta air. Gengsi juga kalau ketahuan kepedesan, kan ada pembeli lain yang antre juga.

Dan baru sekitar lima menit kemudian si abang ini ngambil segelas air mineral yang disimpan di rak paling atas gerobaknya. Dengan gaya 'slow motion' yang terasa lama, si abang itu malah kesulitan nancepin sedotan nembus plastik penutup. Aduuhhh, kenapa lagi itu...? Bikin lama aja.

Tapi akhirnya tembus juga tuh plastik, dan si abang pun menoleh juga ke saya sambil nyodorin air minum itu. Uhh, sedoooot gan.... pedesssss dan seret teratasi, walau telat.

Gado-gado tuntas juga dengan nikmat ditambah rasa gondok dikit sama abangnya, sudah saatnya balik rumah nih. Eits, sebelum balik kayaknya si abang ini perlu difoto dulu nih, buat bukti. Nah, untung saya bawa handphone berkamera yang meski gak terlalu canggih macam smartphone yang mahal. tapi cukup kinclong untuk motret, enak untuk SMS dan bening untuk telepon (pake XL sih.... promo ahhh...). Selesai satu jepretan (liat gambar di atas), saya pun kebelet pulang.

"Udahan Bang," kata saya.

"Semua dua puluh empat ribu...!" jawabnya cepat tanpa menoleh sambil sibuk nguleg seperti biasa.

Eh, busyet nih abang, saya kan gak nanya berapa total harganya, baru juga bilang "udahan", kok dianya nyamber cepet nyebutin angka? Kok pas saya tadi nanyain ada air apa enggak dia gak cepet-cepet nyamber air minum? Ah, dasar nih.





Read more »